Tidak ada satupun yang tahu bagaimana skenario Allah untuk diri kita. Bagaimana kita nanti, Seperti apa diri kita, dan Dimana kita tidak ada yang bisa mengetahui rahasia illahi ini. Itulah yang disebut dengan takdir.

Ingin cerita sesuatu yang mungkin bisa diambil hikmahnya. Sampai detik ini tak pernah hilang dari pikiran mengenai kejadian yang menimpa salah seorang teman satu tempat bekerja.
Kejadiannya singkat dan dalam sekejap saja.

Teman kerjaku(Pak Nasri) memiliki istri yang bernama Bu Ida. Suatu hari, tepatnya Rabu 1 Juli 2009 bu Ida ada keperluan ke kota Padang. Dengan izin suami berangkatlah ibu yang memiliki 2 orang anak balita tersebut dengan menggunakan mini bus.

Dalam perjalanan berangkat semuanya berjalan lancar seperti biasa. Namun dalam perjalanan pulang, Ibu tersebut mengalami kecelakaan yang tragis. Bus yang Bu Ida tumpangi digeser (disenggol) oleh sebuah mobil truk besar dari arah yang berlawanan.

La haula wala quwata illa billah.

Ya… Allah memilih dirinya di dalam mobil tersebut yang mendapatkan posisi langsung bertabrakan dengan truk, tangannya terjepit dengan mobil dan kaca mobil bagian kanan pecah berpuing2 menuju dirinya. Ibu Ida mencoba bertahan dan kuat, dia tidak bisa pingsan, kata beliau. Semua orang sudah keluar dari dalam mobil kecuali bu Ida dan Sopir yang juga terjepit dan sulit untuk keluar dari dalam mobil.

Ironisnya, tak ada satu pun yang membantu bu Ida untuk diselamatkan. Dia hanya bisa kuat untuk mengangkat tangannya yang terasa hancur, dengan darah bercucuran di kepala dan wajahnya. Tangan kiri bu Ida mencoba membopong tangan kanannya yang tidak bisa lagi bergerak. Akhirnya bu Ida mampu keluar dari dalam mobil tersebut dengan darah yang bercucuran di kepala, wajah, dan tangannya.
Segera di larikan ke rumah sakit menggunakan mobil pribadi yang waktu itu lewat dan mau membantu.

Ya…Allah menentukan lain, tangannya sudah remuk dan tidak lagi bisa di tolong kecuali dengan jalan amputasi. Semuanya pasrah, semua tak ada yang mampu untuk bisa mengelak.
Sangat teriris hati ini disaat membawa kedua orang anak Ibu Ida ke rumah sakit tempat Ibunya di rawat. “Dek Tasya mau lihat mamaa…” rengek anaknya manja ketika akan berangkat ke kota Padang. Tasya anak tertua Bu Ida yang memang saat kejadian tersebut sedang bermain2 di tempatku bekerja. Sekitar waktu kejadian Tasya selalu mengeluh, dan terlihat seperti sakit sambil memegang2 kepalanya dengan telunjuk. ” Buuk… kok kepala mba’ sakit ya?? Mba’ pusing buk??”. Anak2 manis itu begitu memiliki perasaan yang kuat dengan Ibunya. Tidaklah mereka pernah membayangkan kalau ibunya tengah mengalami kecelakaan. Di sepanjang perjalanan mereka tertidur sambil meringis seperti yang merasakan kesakitan ibunya. Tasya baru berumur 5 tahun, dan dinda berumur 3 setengah tahun an.

Allah… Engkau Maha berkehendak.

Berdasarkan cerita, Ibu Ida awalnya duduk di kursi debelah kiri tidak dekat jendela. Namun karena beliau ngantuk minta ganti posisi dengan saudaranya yang duduk di sebelah kanan, supaya bisa sandaran ke kaca. Tepat posisinya di belakang sopir. Siapa sangka ternyata Allah betul2 telah memilih… dan tidak ada satupu yang mampu menghidari semua yang telah ditakdirkan oleh Allah…

*Mbak Tasya sama dek Dinda jangan sedih yah.. Allah sayang sama mama mbak sama adek.. T_T

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *