31 Juli 2009

“Gimana sekarang, nak??”

“Gimana apa Ma?”

“Ya… gimana sekarang hati elin? Gimana sekarang menurut elin?”

“Ooh… “




Hmm… ngasih senyuman dulu ke Ibu. Supaya suasana sedikit mencair…

“Yang terbaik aja Ma…” (jawaban yg ga tepat… )

Dari awal kan sudah ku sampaikan sama mama, kalo semuanya kuserahkan ke mama…”



Sambil menarik nafas..

Gimana yang baik menurut mama aja. Mungkin memang doa yang kurang kulakukan. Tapi hanya itu yang bisa kukerjakan ma. Kalo usaha, mama sudah bersusah payah usaha buatku. Jadi mama ga usah tanya gimana aku lagi. Kalo menurut mama itu yang terbaik, gimana lagi. Keyakinan ku tetap seperti dulu. Kalo urusan ini aku ga terlepas dari yang Maha Memutuskan. Mo muter2 kemana, mo keliling2 kemana juga yang pasti jodoh itu sudah ada padaNya. Mo dipaksa bilang kalo dia jodoh ku juga ga bakal jadi kalo Allah bilang engga. Yang jelas aku hanya bisa meminta yang terbaik buat ku, ma. Yang bisa menuntunku nanti.

Kalo yang bukan jodoh, tetep aja ga bakalan jadi. Sampe udah mau ijab kabul pun bisa2 batal, dengan alasan yang tak masuk akal sekalipun. Tapi kalo yang namanya jodoh, juga kadang sulit termakan logika. Yang ga disangka2. Yang jelas usaha dan doa tetap ada.

“Iya…” jawab Ibu singkat. Aku ga bermaksud menceramahi. Cuman mengungkapkan isi hati. Karena hati ini terus bersenandung, antara ragu dan idealisme. Ku yakin, dalam kondisi seperti ini, syetan sangat menggebu2 menyerang hati dan pikiran. Perasaan was2 terus menerus melanda. Kadang sampai membuat keputusan yang salah.

Enggak, aku ga mau membuat keputusan yang salah dalam hidup. Makanya, aku tetap menyerahan semua pada Allah.. dia yang memberi keputusan terbaik

Tak sengaja, sebuah cerita mengalir dari mulut Ibu. Cerita yang belum pernah ku tahu.

“Sewaktu Ibu dulu akan menikah juga mengalami hal yang hampir sama. Ayahku yang sedang kuliah di ITB, niat pulang ke kampung hanya untuk meminta izin dan restu keluarga untuk menikah dengan orang sana. Sudah ada ikatan dan tinggal persetujuan diantara mereka dan juga keluarga yang wanita. Tinggal keluarga Ayah.

Begitu juga Ibu, lama berpacaran dengan seorang anak teman dari kakek. Hampir menikah. Sudah kunjungan keluarga, dan tinggal menentukan hari.

Tapi, begitu terlihat kekuasaan Allah disana.

Kakek yang memang sulit dimengerti orangnya. Dengan tiba2 mengajak Ayahku ke rumahnya dan meminta Ibu untuk menyiapkan makanan. Yah… ternyata Kakek memiliki suatu maksud yaitu memperkenalkan ibu dengan ayah. Ayah yang kebetulan waktu itu mengurusi beberapa proyek kakek. Banyak kejadian yang tak terduga di sana terjadi. Mulai dari Ayah mulai melupakan niat awalnya pulang untuk apa. Sampai Ibu yang hendak di bawa kabur oleh pacarnya karena tidak rela.

Apapun yang kita inginkan semuanya hanya atas izin Allah.

Ternyata memang kekuatan doa lah yang sangat berperan di sana. Tidak ada selain doa, meskipun sudah usaha mati-matian. Yang namanya usaha memang harus ada. Allah akan memberikan apa yang kita minta sesuai usaha dan doa kita.

Ya Allah… ternyata sampai akhirnya ayah dan Ibu betul2 dijodohkan untuk bisa bersama hingga akhirnya kami (anak-anaknya) ada di dunia ini…”



Keputusan yang akan diambil nanti bukan hanya keputusan untuk menyatukan dua orang anak manusia. Tapi adalah keputusan untuk menyatukan dua keluarga. Harus bisa menerima antara semua pihak yang akan disatukan…

Pertama, pihak laki2 dan wanitanya udah klop. Tapi ternyata di pihak keluarga besar wanita atau laki2 belum. Tetep aja ga bisa. Ini namanya ga jodoh

Kedua, pihak keluarga yang klop. Tapi ternyata di pihak laki2 dan wanitanya yang belum. Yang nanti akan menjalaninya. Gimana bisa dipaksa? Tetep juga ga bisa. Ini, juga belum jodoh.

Tapi, jika yang di atas itu sudah terpenuhi. Kedepannya akan lebih mudah. Meskipun tidak semua yang kita inginkan bisa didapatkan…

Ingat suatu istilah orang2 tentang hal ini,

“Dapek nan di ati, ndak dapek kandak ati, atau dapek kandak ati, ndak dapek nan di ati…”

artinya:

“Dapat yang di hati, ga mendapatkan keinginan hati, atau dapat keinginan hati, ga mendapatkan yang di hati”



Antara keinginan dan harapan tidak kan selamanya akan sejalan. Hidup adalah pilihan. Dan kita hanya sebagai lakon dalam sandiwara hidup. Sangat banyak kejadian2 yang memberikan kita contoh dan pengalaman. Mau mendapatkan suatu hal yang diinginkan selama ini dan sangat diidam2kan. Maka kita harus siap kehilangan orang yang menjadi singgahan hati. Karena Allah maha adil dan bijaksana. Jika kita mendapatkan kedua2nya yang kita inginkan. Mungkin ada, tapi yang kayak gimana ya …??

So, Life is a choice… n Life is so short

Hidup untuk di jalani, biarkan ia mengalir seperti air. Mengikuti aliran arus. Hingga tiba di titik pemberhentian…

Wallahu’alam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *