Tak tahu rasanya mau cerita apa lagi di blog ini. Keluh kesah hati seakan sirna. Hanya getaran di diri yang tak dapat ku hilangkan. Debar dihati tak mampu kulenyapkan. Antara asa dan doa kupanjatkan. Ya Allah… kutak mau rasa ini hilang. Rasa yang belum pernah kutemukan. Rasa yang sulit kugambarkan.Rasa yang tak bisa kuceritakan. Hanya Allah tujuan…

Kembali kubuka buku yang sangat kusenangi. Kubaca lagi. Kumemohon padaMu Ya Allah… yang terbaik dan tunjuki jalan…

Buku “Fatimah Az Zahra”, wanita teladan sepanjang masa… Ibunda yang sangat aku idolakan setelah Ibunda Khadijah dan Aisyah… Buku yang menceritakan tentang kisah hidupnya yang menjadi pelajaran sepanjang masa. Kisah antara Syaidina Ali dengan Ibunda Fatimah Az Zahra…
Tidak ada paksaan dalam urusan hati. Tak ada yang harus dipaksakan karena dia muncul dengan sendiri. Tak satupun yang bisa memahami. Karena Allah telah menyebutkan melalui hadits yang disampaikan oleh rasul:
“Belum sempurna iman seseorang, jika ia belum mencintai saudaranya seperti ia mencincintai dirinya sendiri”
(kalo Ga salah Bukhari – Muslim), Hadits Arba’in yang ke-5 atau ke-7…

Kisah yang diceritakan dalam catatan hidup Ibunda Fatimah, begitu terlihat keagungan Tuhan. KeMaha Esaan Sang Pencipta…

Ali melontarkan kata2 yang sungguh indah, disaat dia ragu untuk menemui Rasulullah, dan memberanikan diri :
Engkau mengetahui bahwa engkau mengambilku dari pamanmu Abu Thalib dan dari Fatimah binti Asad ketika aku masih kecil. Engkau memberi aku makan dengan makananmu dan mendidikku dengan didikanmu. Bagiku engkau lebih utama dalam hal kebaikan dan kasih sayang…

Sesungguhnya Allah memberikan petunjuk kepadaku melalui engkau dan ditangan engkau. Demi Allah, engkau adalah kekayaanku dan modalku di dunia dan akhirat.

Wahai Rasulullah, disamping menjadi penolongmu seperti yang telah Allah kuatkan, aku ingin mempunyai rumah tangga dan istri agar aku menjadi tenang dengannya. Aku datang kepadamu untuk melamar dengan sungguh2 putrimu fatimah. Maukah engkau menikahkanku, wahai Rasulullah?”

Sepenggal cerita tentang kisah Ali dengan Fatimah. Diceritakan bahwa banyaknya lamaran yang tidak bisa diterima Fatimah maupun Rasulullah. Dalam kisah tersebut diceritakan bahwa Ali menginginkan Fatimah dan begitu juga Fatimah menginginkan Ali. Rasa menyukai karena Allah telah muncul jauh sebelum Ali melamar Fatimah. Ali tidak mempunyai kesanggupan ketika ia merasakan hanya kemiskinan yang ia miliki.

Disaat tidak ada satupun lamaran yang diterima Rasulullah, Abu Bakar dan Umar segera mengerti kondisi dan situasi. Mereka menemui Ali yang tengah bekerja mengairi kebun kurma orang Anshar.

Disaat Ali ditanyakan oleh Umar dan Abu Bakar, ia menjawab,
Air mata Ali menggenang di kedua matanya. “Wahai Abu Bakar, engkau telah membangkitkan aku dan mengingatkanku tentang perkara yang selama ini aku lalaikan. Demi Allah sesungguhnya Fatimah sangat aku inginkan. Orang seperti aku ini tidak mungkin tidak mau kepada gadis seperti dia. Hanya saja kemiskinan telah mencegahku untuk mendapatkannya.”

Abu Bakar berkata kepadanya,
“Jangan berkata begitu, wahai Ali. Sesungguhnya dunia dengan apa yang ada di dalamnya, di sisi Allah dan Rasulnya bagaikan debu-debu yang ditebarkan. Karena itu segeralah melamarnya.”

Ya Allah, kuyakin dengan pertolonganMu…
Semoga jalan ini tidak salah dan Engkau Ridhoi…

Ali adalah seorang manusia yang punya kebimbangan. Di satu sisi, keadaan kehidupannya miskin, susah dan sempit membuatnya tidak sempat berpikir perkawinan dan kepentingan dirinya. Namun rasa cintanya yang benar-benar tulus dan murni, dari lubuk hatinya yang terdalam kembali membukakan hatinya.

Ali melamar Fatimah hanya dengan harta yang ia punya. Rasulullah segera dengan senangnya mengumumkan lamaran Ali. Dan meminta untuk disegerakan. 3 harta yang dimiliki Ali sebagai Mahar. Ia hanya punya pedang, baju besi, dan ceret.

Akhirnya Rasul meminta untuk sebagai maharnya adalah baju besi yang dimiliki Ali seharga 400/ 500 dirham, kain habarah dan kulit. Karena sebaik2 wanita adalah yang paling mudah maharnya. Dan sebaik2 lelaki adalah yang memberikan mahar terbaiknya (benda terbaik yang dia miliki)…

Rasulullah berkata,
“Ya, mudah-mudahan Allah memberkahi mereka dan menyatukan mereka…”

Berkahilah Ya Allah, jalan yang kupilih ini… satukanlah…
Dalam kisahnya, Ali tidak pernah mempunyai niat untuk poligami. Mereka adalah pasangan yang dinikahkan langit dan bumi. Pasangan dunia akhirat. Berlandaskan Cinta Illahi. Ini patut diteladani…
Aku bukanlah Fatimah dan bukanlah siapa-siapa. Hanya ingin meneladani kecintaannya, kesabarannya, dan kelembutannya.

Buku Fatimah AzZahra “Wanita teladan sepanjang masa”, karya : Ibrahim Amini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *