Usai tilawah mata kembali mengantuk. Tak kuasa menahannya hingga kuterlelap tanpa was wes wos….. langsung tergeletak di atas sajadah. Tidur yang tidak terlalu lama. Lebih kurang satu jam. Saat bangun, kuteringat sesuatu…

Kurasa aku bermimpi atau persisnya hanya suatu bisikan…
Yahh… aku hanya mendengarkan bisikan dari seorang teman. Kejadiannya tak lama. Hanya saja kudengar dan kuingat jelas bisikan itu…

Dia pangeran hidupku. Berbisik sesuatu yang sangat dekat ke telingaku…
“… Apa yang kita lakukan ini salah?”
Hanya itu. Kenapa dia bertanya padaku? Ku tak tahu apa maksud dan makna dari mimpi atau bisikan itu? Yang jelas kurasakan begitu jelas bisikan yang terngiang di telingaku.
Ya Allah, Apa maksud mimpi itu? Apa ini ada hubungannya dengan perasaanku kemaren? Semoga ini bukan apa2, hanya bunga tidur. Kuhanya ingin menjaga perasaanku padanya, dan dengan meminta izin dariMu. Kuhanya ingin menentukan jalan menuju tujuan akhirMu… yaitu membangun rumah tangga di atas ridhoMu.
Ya Allah, bimbinglah…

Kubuka kembali buku yang pernah kubaca. Sebuah buku yang kupersiapkan dari awal2 sebelum menuju ke titik itu.
Kurasa aku tidak melakukan suatu kesalahan. Hanya saja kutakut jika berlama-lama dengan ini akan sangat sulit bagiku. Sulit karena ketakutan dengan janji-janji yang belum kutahu pasti. Kuhanya mau menjalani ini dengan niat bisa saling mengerti dan memahami. Kumohon jangan salah mengerti, karena kita mesti saling berbagi. Memahami posisi dan kondisi masing2. Kumohon jangan sia-siakan apa yang kuberi.

Dalam buku tersebut kubaca tidak ada salahnya seseorang melakukan perjanjian sebelum menikah. Yaitu mengkhitbah. Apa dia telah mengkhitbahku? Baik secara langsung atau tidak langsung? Mengkhitbah dengan kata lain mengikatku (makna positif), dengan tujuan jika ada orang lain yang datang padaku bisa kuberikan alasan bahwa telah ada orang yang mengkhitbahku…
ini yang kuragu.
“Saya ingin menikah dengan mu”
“Saya ingin mencari istri sepertimu..”
Itulah kata2 khitbah. Sudahkah?

Kurasa aku tidak melakukan apa-apa yang dilarang Allah disaat belum muhrim dengannya. Selama ini, aku hanya mencoba untuk terus bisa menjaga perasaanku padanya. Menumbuhkan rasaku padanya. Agar hatiku semakin yakin.
“Jika salah seorang diantara kamu hendak meminang wanita bila ia bisa melihat dari wanita itu yang membuatnya (tertarik) untuk menikahinya, maka lakukanlah”
(H.R. Ahmad)

Sedangkan kita diharuskan menjaga hubungan agar tidak melanggar batas2 syariat. Jadi, yang dilarang Allah yaitu berdua2an… Memang dari dulu, inilah yang kuhindarkan dari yang namanya pacaran. Yang selalu kuabaikan siapapun yang meminta semasa sekolah sebelum kupaham dengan ajaran islam (sekarang juga masih belajar sih). Itu yang ku tak bisa, ketika diminta untuk pacaran dengan seseorang.
“Janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita yang tidak halal baginya kecuali dengan mahramnya, karena yang ketiganya adalah setan” (H.R. Ahmad)

Dia di sana aku di sini. Untuk itu aku tak mungkin jika berdua2an. Kalaupun bertemu kuharap ada orang yang ketiga (tapi buka setan^^). Jadi maafkan aku yang masih banyak belajar ini. Teruslah yakinkan aku. Hingga yang terjadi kini, tidak menjadi suatu kesalahan yang fatal nantinya. Yakikan aku pangeran hidupku…
Wallahu ‘alam…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *