Assalamu’alaikum, Ustadz, saya tinggal serumah dengan kedua adik ipar laki-laki yang belum menikah. Apa hukumnya dan bagaimana solusinya, Ustadz? Atas jawabannya jazakumullohu khoiron.

Jawab:

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Ukhti, seorang istri dilarang bertemu dan bertatap muka dengan saudara ipar, kecuali ia bersama suaminya atau bersama mahromnya. Dilarang pula bercanda dan berjabat tangan dengannya. Hukum larangan ini termasuk juga bepergian bersamanya atau bersepi-sepi dengannya.


Bila larangan ini dilanggar, sungguh akibatnya amat berbahaya, sebagimana peristiwa yang sering terjadi ketika suami mengantarkan adik iparnya ke sekolah, ke pasar, atau tempat lainnya. Atau sebaliknya, istri diantar oleh kakak atau adik iparnya. Wallohul Musta’an.


Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Jauhkan dirimu dari masuk ke rumah wanita.” Lalu ada seorang sahabat Anshor radhiyallahu ‘anhu bertanya: ”Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu dengan saudara ipar?” Beliau menjawab: “Dia (bisa) membawa kematian.” (HR Bukhari 5/205 bersumber dari sahabat Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu)


Adapun berbicara di balik tabir saat diperlukan maka boleh, tentunya bila memang ada keperluan, bukan untuk bercanda (silakan baca surat al-Ahzab ayat 53).


Dan walaupun menikah dengan ipar hukumnya haram, namun haramnya bersifat sementara. Jika suami meninggal dunia atau menceraikan istrinya, maka bekas istrinya tersebut boleh dinikah oleh adik atau kakaknya. Maka hendaknya berhati-hati dari berhubungan dengan saudara ipar.


Di sini kami ingin menasehati saudari-saudari kami, wanita muslimah, khususnya penanya, hendaknya tidak di rumah sendirian bersama adik atau kakak ipar. Setan mudah sekali menggelincirkan manusia lewat hawa nafsu syahwat yang haram, sebagaimana yang sering terjadi di masyarakat pada umumnya. Upayakan agar seorang wanita tidak serumah bersama saudara ipar.


Saran kami, agar penanya segera bermusyawarah dengan suami untuk pindah rumah, baik dengan membeli jika memungkinkan, atau dengan menyewa, atau mengontrak. Jika tidak mungkin, upayakan seorang istri tidak di rumah sendirian bersama saudara ipar sedangkan mahrom lainnya tidak ada. Ini semua bila adik ipar itu sudah baligh atau mendekati baligh. Namun bila ia masih kecil, belum tahu tentang syahwat, maka boleh bergaul dengannya. Wallahu a’lam (Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *