Percekcokan tak dapat terbendung disaat suami mengetahui bahwa aku tak betul-betul mau menerima ipar tinggal serumah. Aku sangat mengetahui bagaimana sedihnya hati suami disaat hal itu masih terbahas. Tapi aku betul-betul tak tahu lagi harus berbuat apa.

Demi Allah, aku betul-betul tidak mempermasalahkan dia untuk tinggal dirumah. Tapi dalam keseharian yang tak pernah menemui titik temu membuat aku pusing. Aku hanya bisa berdiam di kamar. Dan dia pun berdiam diri dirumah tanpa mengerjakan sesuatu pun. menonton didepan tv selama berjam-jam. Bermain PS. Yang membuat aku tidak bisa mengerjakan apa-apa. Berhari-hari aku mencoba memaklumi, tapi mungkin nanti berminggu-minggu bahkan berbulan akan seperi ini.

Ya Allah….ingin rasanya berteriak.
Karena memang tak bisa mewujudkan marah padanya. Takut malah makin merusak. Tak tak bisa aku kungkung semua didalam hati atas gaya hidupnya. Untuk memarahi anak yang sudah sebesar itu mungkin sudah tidak waktunya lagi. Tak bisa mengungkapkan rassa marah itu rasanya seperti menahan sebuah beban yang sangat besar…yan sewaktu-waktu akan menghantam diri ini.
Ya Allah….aku seperti ini karena aku ingin lebih tegar dan sabar mengaadapi sikapnya
Aku seperti ini bukan karena aku benci padanya
Justru karena aku sayang padanya sebagai adik, aku tak bisa melihatnya melakukan hal-hal yang menurutku tidak sepantasnya. Demi Allah…aku sama sekali bukan membencinya, tapi dengan sikapnya….
Ingin rasanya menasihati, tapi rasanya diri ini sudah melempem duluan ketika mengingat dia tak pernah menghiraukan aku sewaktu berbicara mengingatkan…
Sikap lempeng dan rasa tak bersalahnya kadang membuat ku makin kesal.
Meskipun kadang aku teriba olehnya. Merasa kasihan, karena itu adalah rumah kakaknya. Dia sedang kuliah dan pastinya disana dia harusnya menetap. Tapi aku betul-tak tahu lagi bagaimana menentukan sikap. Tak tahu lagi cara tuk mengungkapkannya. Pundak ini sudah telanjau kaku. Kelu. Rasa tak ada aliran darah lagi dalam tubuh ini. Seperti hanya racun yang ada.

Dan akhirnya. Aku pun ingin lari dari rumah, setelah tak sanggup melihat 2 hal yang sangat kontras yang harus kuhadapi. ingin sedikit menghirup udara segar Aku betul-betul tak sanggup. Harus menahan, tapi tubuh ini terlanjur tak sanggup menopangnya. Sebelum aku terkapar dengan kekusutan pikiran yang kuhadapi. Maka setelah aku menceritakan pada suami. Suami terlihat sangat terbebani pikirannya. Dan akupun mengambil keputusan untuk pergi dari rumah. dengan kondisi seperti itu malah akan membuatku makin tak sanggup.

Lari sejauh mungkin… Karena tak bisa melihat keletihan pada wajah suami yang akhirnya membuat dia menangis dihadapanku. Aku tak sanggup melihat rasa sedih suami membuat keputusan untukku dengan mengusirnya dari rumah. Aku betul-betul tak sanggup. Dari pada melihat kesedihan mendalam pada suami. Aku siap menerima apapun resikonya. Karena aku tahu bahwa suamiku sangatlah menyayangi adik-adiknya. Sangat perhatian. Aku yakin hal itu tak kan sanggup dia lakukan. Karena akupun tahu bahwa itu salah satu bentuk tanggung jawabnya pada adik-adiknya…

Disini aku terdiam. 2 hal yang sangat kontras. Kadang aku terlihat seperti orang yang labil. Tidak pendirian. Karena aku lebih memilih mendukung suamiku atas tanggung jawabnya. Membahagiakannya. Aku tahu itu.

Yang menjadi permasalahan buatku, hanya bagaimana bisa menerima dan membimbing adik iparku itu dengan sepenuh hati.

Meskipun itu sulit. Karena diriku adalah orang yang tak bisa melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran terjadi di depan mata. Dan aku juga sangat sulit untuk memendam rasa kesal pada seseorang.

Sampai saat ini, akupun belum tahu jawabannya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *