Lari dari rumah itu ternyata kesalahan terbesar padaku saat itu. Lari ditengah dinginnya malam. Dengan uang pas-pasan di saku. Yang terpikirkan bahwa aku hanya ingin pergi dari rumah itu. Lelap tak akan datang menghampiriku jika hati antara aku dan suami masih belum bisa menemui titik temu. Dia terlelap pulas, sedang aku sungguh tak bisa. Tak ada lagi yang menentramkan hati dirumah itu.

Lari ditengah gelapnya malam. Semua ketakutan aku singkirkan. Awalnya masih banyak orang berlalu lalang yang membuatku tak begitu takut. Pukul berapa saat itupun aku tak tahu. Dalam perjalanan yang setengah berlari. Aku melihat suami yang berusaha mengejarku. Tapi aku betul-betul tak ingin lagi mendebatkan masalah ini. Dan tak ingin melihat tertusuknya hati suami dengan keputusannya.

Aku sembunyi sambil memikirkan kemana aku akan pergi. Ini bukan seperti kotaku yang dulu. Ini kota yang sangat asing bagiku. Aku bingung. Perlahan-lahan malam semakin gelap, gerimis pun turun. Aku duduk sambil menahan tangis disebuah lapangan komplek tempat aku lari, setelah lelah berputar-putar tak tentu arah di komplek asing itu. Keadaan mulai sepi. Diri pun mulai takut. Terbayangkejahatan-kejahatan yang terjadi di kota besar. Terbayang apakah diri ini masih bisa selamat kalau aku lanjutkan perjalanan. Mulai muncul kekhawatiran. AKu tak mau mati konyol karena di bunuh atau karena tindakan kejahatan pada malam sepi yang tak tahu sudah selarut apa. Aku tak tahu pukul berapa, karena memang tidak membawa apa-apa. Jam tangan atau alat komunikasi aku tak punya. Ayam sudah mulai berkokok. Aku tersentak, kembali ingatan pada suami.  Aku mulai ragu apakah benar-benar harus lari? Aku tidak memiliki masalah apa-apa dengan suami. Tak ada yang salah pada diri suami yang membuat aku harus lari meninggalkannya. Mulai terpikir akan penyesalan yang nantinya akan aku temui jika tak dapat menahan ego hati. Aku takut. Takut tak dapat lagi bertemu dengan suami yang sangat aku cintai. Hanya karena pelarian konyol dan masalah sepele ini. Bagaimana jika suamiku terus mencariku di malam yang larut itu? Bagaimana jika suami ku yang menjadi celaka karena sedang mencariku? Itu adalah kesalahan yang tak akan bisa aku maafkan nantinya. Besok dia mesti kerja. Ada apa denganku ini? Mulai hati menghardik diri.

Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan suami karena mencariku? Itu akan menjadi kesalahan terbesarku. Berkali-kali pikiran itu muncul. Dan aku putuskan untuk pulang. Dengan tubuh yang sudah letih aku pun mencari kemana arah suami tadi pergi. Karena tadi aku sudah 2 kali melihatnya, tapi aku sembunyi. Perasaanku mulai merasa kehilangan dirinya. Ingin segera memeluknya. Karena aku begitu mencintainya, dengan kasih sayangnya yang tak pernah luput padaku. Ya Allah….lindungi dia….

Aku pulang tapi tak dapatkan suami dirumah. Lalu pergi lagi mencarinya. Perasaan kehilangan dirinya pun sangat aku takutkan. Hp ku mati karena memang tak pernah dicas. Mau menghubungi dan mencari kemana lagi. Sampai akhirnya aku bisa menghubunginya dengan meminjam hp ipar. Aku tak peduli kesal atau apapun. Yang terpikir hanya ingin mencari tahu keberadaan suami. Aku tak mungkin berjalan menelusuri jalan dengan kaki setapak. Tak ada kendaraan bagiku untuk mencari suami. Hingga akhirnya suami pulang dan aku betul-betul merindukannya. Sangat ingin berada dalam dekap hangat tubuhya.

Maafkan istrimu…
Yang selalu tak bisa mememdam perasaan dan membuatmu sedih. Yang belum bisa membahagiakanmu. Yang belum bisa memberimu anak.

Sedangkan dia selalu memberikan kebahagiaan padaku. Membuat hari-hariku berwarna. Meskipun hari-hariku kembali muram disaat dia tak ada. Aku betul-betul mencintai dan menyayanginya. Karena dialah jalan ku untuk ke syurga…

Ya Allah…kokohkanlah ikatan ini. Dengan ujian-ujian yang kau berikan. Kuatkanlah aku dan berikanlah aku kesabaran dalam menghadapi semua ujian ini. Lindungilah keluarga kami. Tentramkanlah rumah ini. Karuniakanlah kami anak yang menyejukkan hati kami. Menambah kebahagiaan dalam hidup kami. Meskipun aku tak tahu itu kapan. Tapi aku yakin Engkaulah yang Maha Tahu lagi Maha Bijaksana….

Sabarkanlah kami, hingga menuju kebahagiaan itu…aamiin..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *