Persis tadi malam. Tak tahu apa yang ada dipikiran.
Hanya ingin mengungkapkan kesal yang tertahan selama berhari-hari pada orang yang dianggap sebagai tempat curhat. Meskipun terkadang ingin menyembunyikan, dan hanya ingin berkeluh kesah dalam sholat dan do’a padaNya.

Tapi, rasa ini tak dapat dibendung lagi. Hari kamis itu adalah hari dimana puncaknya aku meluapkan emosi. Hanya bisa tersedu-sedu didalam kamar yang tak begitu besar itu. Dalam dhuha-dzuhur-ashar… Menantikan saat-saat berbuka dan suami pulang. Tapi, tak tahu hari berganti sangat perlahan.

Ashar, ingin menghilangkan resah dan gelisah dengan memasak saja. Mungkin bisa memperbaiki hati ini. Bismillah…
Namun, tak tahu setan mana yang menghinggapi, yang jelas itu adalah setan dalam diri yang tak bisa menerima keadaan saat itu. Ya… Saat itu saja

Tak bisa keluar dan tak bisa memasak itulah yang membuat hati ini jengkel. Disatu sisi, aku memasak juga untuk dimakan oleh semua orang yang ada dirumah itu. Tapi mengapa, untuk memasak di dapur sendiri itu rasanya begitu berat. Rasanya ingin marah, tapi tak sanggup. Badan dan lidah kelu, hanya tertahan dihati dan pikiran.

Dengan masih memakai perlengkapan setelah sholat ashar. Hanya bisa berkeluh kesah padaNya. Menumpahkan isak tangis padaNya. Dengan pikiran yang ingin terus untuk bisa memasak. Walaupun hanya untuk memasak nasi. Karena lauk mungkin kalaupun tak sempat masih bisa disiasati.

Pukul 04.30 berlalu
Dan dia tak sedikit pun beranjak dari tempat itu. Pikiran-pikiran tak tentu mulai hinggap. Apa pergi saja dari rumah ini untuk berbuka diluar sendiri? Karena kebetulan suami sedang berbuka ditempat kerja.
Hingga pukul 05.00 memberanikan diri untuk keluar kamar, dan memasak nasi. Karena memasak nasi jam 5 itu sudah pasti pada saat berbuka pun belum terlalu matang. Tapi tak apa, daripada nanti tidak makan apa-apa.

Keluar kamar-mengeluarkan nasi dari ricecooker hingga menyiapkan bahan-bahan yang ada didapur. Lalu membereskan piring-piring, namun hati sudah tak dapat lagi membendung kekesalan. Melihat dia masih bermain game di depan tv. Bermaksud untuk menegur, agar dia segera mengakhiri permainan, karena sudah 1 jam menuju waktu berbuka. Tapi aku tak bisa. Beberapa peralatan masak rusak sudah aku lempar-lemparkan. Tapi baru beberapa lama setelah itu dia menghentikan permainan. Masuk ke kamar.

Rasanya ingin menangis, tapi sampai saat itu masih bisa kubendung. Karena makanan ini harus selesai pada waktunya.
Masak seadanya, lalu segera mandi sebelum waktu berbuka. Sebelum berbuka menyediakan beberapa buah dan minuman dikamar. Dengan maksud agar setelah berbuka sedikit bisa sholat setelahnya. Dan baru makan. Dengan pikiran agar dia makan duluan dan bisa memberikan kesempatan padaku untuk makan.

Hampir pukul 07.00 dia tak segeming pun beranjak dari depan tv. Bahkan untuk sholat atau berwudhu sekalipun. Bahkan minuman yang aku siapkan untuknya berbuka pun tidak disentuh sama sekali. Itu minuman ketiga yang aku siapkan untuk orang berbuka yang tidak disentuh. Malah dengan  meneguk semua isi fanta yang ada dikulkas dan membiarkan botol yang kosong dan gelasnya ditempat yang tak semestinya.

Hati ini sudah terlanjur menyimpan kekesalan dari beberapa jam sebelumnya. Kesal yang tak terkeluarkan. Hingga rasanya tak ingin keluar kamar untuk mengambil sedikit pun nasi. Karena memang tak ingin dia ada disana. Melihat mata yang menangis dan kesal. Tak ingin dia bahagia melihat penderitaan yang aku rasakan.

Hingga suami pun pulang. Tapi aku masih belum bisa makan apa-apa. Karena dia tak pernah berpindah sedikitpun dari depan tv. Kalaupunlah dia sholat sebentar dikamar. Mungkin aku sudah berlari mengambil nasi. Bagaikan kucing yang ingin mencuri ikan. Tapi hal itu tak terjadi…
Masih dikamar dengan perut kosong. Dan ingin tetap terlihat bahagia di depan suami. Ingin selalu membahagiakannya, tapi tak tahu dengan yang satu ini. Hati rasanya tak cukup membendung rasa itu. Hingga aku tak sengaja terucapkan pada suami. Meskipun sudah dengan nada dan pilihan kata yang sangat kupikirkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *