Tak tahu apa yang terjadi. Yang jelas ini semua berawal dari ku. Aku mengacaukan semua. Di hari yang spesial bagi kami. Aku membuat suami marah. Rasa takut dan trauma tak mampu membendungku untuk mengatakan hal yang tak seharusnya pada suami. Kejadian yang berkali-kali ku alami membuat diri tak mampu berpikir jernih. Rasa takut akan kekecewaan, akan kejadian yang berulang menghantuiku. Ditambah lagi dengan tatapan khawatir dokter kemaren. Dokter sempat menanyakan siklusku yang maju. Sepertinya dia mengisyaratkan jika kantung hamil itu sudah lama berada di rahimku. Dengan kata lain, aku telah hamil beberapa minggu.

Namun, kejadian yang kualami seminggu ini membuatku betul-betul trauma dan takut. Takut jika kekecewaan kembali terjadi. Takut membuat semua impian yang baru tadi disebutkan suami kembali berakhir dengan kekecewaan. Pikiranku menjadi semakin sempit. Dtambah lagi di saat mandi aku terus memdapatkan flek. Dan rasa pusing itu. Slalu pusing disaat-saat tertentu. Yang tak sanggup bagiku untuk berbuat apapun.
Kadang muncul rasa yang tak nyaman melihat rumah berantakan, melihat cucian menumpuk, dan piring yang belum dicuci di dapur. Meskipun aku selalu berusaha untuk tidak meikirkannya. Namun, kadang tangan ini tak bisa untuk tidak memegangnya. Dua kesalahan yang aku lakukan kemaren, pertama aku   Terlalu menguras tenaga di hari sabtu. Tak tahu kenapa, setelah semua kulakukan. Sedikit mengganti alas kasur dan memberikan pelayanan bagi suami. Terasa begitu letih, pinggangku kembali meregang. Jadilah akhirnya aku melihat flek yang awalnya hanya sedikit-sedikit mulai bertambah.
Kedua, awal dari flek itu terjadi. Aku yakin disaat itu di rahim ini sudah terdapat calon anakku. Tapi semua yang terjadi tak dapat terelakkan. Saat ini aku tak tahu harus bagaimana lagi. Seperti yang dikatakan suami, aku harus tetap menjaga anak ini sampai mendapat vonis dokter selanjutnya. Walau bagaimanapun, jika janin ini masih ada. Aku harus tetap menjaganya dan membuat dia tetap ada, untuknya.
Maafkan atas semua yang terjadi. Aku hanya wanita yang selalu dihantui rasa ketakutan. Meskipun setiap hari diri ini selalu berusaha untuk tidak takut. Jalani aja seperti air mengalir. Kalaupun masih banyak kurang dan salahku sebagai seorang istri. Aku hanya bisa mengucap kata, maaf…:'(
Untuk suamiku tercinta, maafkan istrimu…seharusnya ini hari bahagia kita. Tak seharusnya ku menjadikan hari ini seperti hari neraka. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *