Seringkali setelah mengalami kondisi seperti ini otot-otot rasanya kaku. Lemas. Mungkin betul yang dikatakan suami. Barangkali diri ini yang membuat kondisi ku semakin memburuk. Bahkan pikiran untuk mengakhiri hidup pun sangat dekat. Stress dan piiran negatif kadang sering hinggap di kepala. tak tahu kenapa. Apa karena aku telah jauh dariNya?

Cukup sulit bagiku untuk memulihkan keadaan jika sudah terlanjur sedih dan kecewa. Bahkan untuk menampakkan sedikit senyum pun aku sulit. Butuh waktu beberapa hari untuk menetralkan hati dan keadaan. Mungkin agak sedikit kaku dalam bersikap dan akhirnya aku akan memilih untuk lebih banyak diam. Hanya keadaan yang betul-betul membuatku bahagia yang bisa mengakhiri ini semua. Meskipun seharusnya aku tak boleh terlalu larut dalam kesedihan dan tak perlu memperpanjang persoalan. Namun sebenarnya ini bukanlah mengenai memperpanjang atau tidak. Saat ini aku hanya butuh sedikit obat untuk menghilangkan kesedihan. Untuk bisa kembali netral. Salah satunya dengan mencurahkan semuanya disini, dalam bentuk tulisan. 
Aku tak mau menjadi gila karena kesedihan-kesedihan yang selalu datang tak diundang. Aku tak tahu sejak kapan awalnya. Tapi aku bukanlah salah satu orang yang cengeng selama hidupku. Tapi mungkin aku merupakan salah satu orang yang memendam kenangan-kenangan yang tidak mengenakkan di masa lalu. Seperti semuanya menumpuk dan meledak disaat sekarang. Aku tak tahu, apakah ini sudah termasuk dalam kategori stress atau apa. Tapi disaat kesedihan seperti ini, seolah-olah semua luka yang dulu pernah kurasa terbuka kembali. Kenangan pahit di masa kecil pun tak luput, semua turut hadir dalam pikiran. Aku bagaikan sosok yang selalu semaput dalam menghadapi kondisi seperti ini. Tak heran jika disaat kondisi cekcok dengan mama beberapa tahun lalu. Mama selalu berusaha untuk mengingatkanku pada sosok ku yang seperti keong jika mendapatkan suatu masalah yang besar. “Elin” yang selama ini terlihat riang dan bahagia di tengah lingkungannya. Adalah elin yang memendam beberapa rasa kesedihan. Mama berkali-kali mengingatkan bahwa sosok itulah yang selama ini disembunyikan. Sosok lemah dan rentan jatuh ketika dihadapkan masalah besar. Selalu bisa tertutupi dengan keriangannya sehari-hari.
Masih terngiang-ngiang dalam pikiran. Mama sempat bilang, bahwa aku harus bisa menemukan seseorang yang mengerti akan hal itu. Mama tak ingin keong lemah yang selalu menciut ketika mendapat goncangan itu sampai di tangan orang yang salah. Mama yang saat itu berusaha melindungi kekuranganku sangat mengkhawatirkan hal itu. Namun, dalam hidup pastilah kejadian-kejadian tak terduga seperti apapun tak kan terelakkan. Untuk itu aku harus bisa berusaha untuk belajar melawan segala kekuranganku. Aku bukanlah makhluk yang lemah. Makhluk yang selalu meliipatkan tubuhnya kedalam ketika berhadapan dengan suatu masalah yang besar. Aku tahu, bahwa aku adalah orang yang terkuat dari semua saudaraku. Aku harus bisa untuk lebih kuat dan tegar…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *