Assalammu’alaikum…Nak
Apa kabarmu hari ini, sayang?
Kamu pasti baik kan? Kamu pasti sehat. Mungkin saat ini kamu masih bermain ya?
Nak, apa kamu tidak rindu dengan ayah bunda? Bahkan kemaren pagi, ayah sempat sedikit bergumam disaat bangun tidur. Kalo Ayah mimpiin kamu didalam tidurnya. Pasti kamu sangat merindukan ayah, bukan?
Anakku sayang, bunda punya banyak cerita untukmu. Tapi kali ini bunda bolehkan menceritakan kesedihan bunda? Kamu tak keberatan kan sayang?
Bunda tak punya siapa-siapa untuk bercerita. Disini, bunda hanya ditemani bantal dan selimut. Tak ada siapapun. Bunda tak punya teman untuk mencurahkan seluruh isi hati bunda. Bunda masih menunggumu disini, nak. Untuk menemani bunda disaat sedih ataupun senang. Ayah? Bunda tak ingin ayah melihat bunda menangis. Bunda tak ingin menambahkan beban-beban dipundaknya. Meskipun bunda selalu tenang jika berada dipelukannya. Tapi bunda harus terus belajar untuk tidak terlalu manja dengan ayah. Bunda harus bisa menjadi wanita yang kuat. Untuk itu, kamu jangan berlama-lama bermain disana ya nak. Karena bunda betul-betul membutuhkan kamu untuk menemani bunda. Do’akan selalu bunda…dan juga jangan lupa berdo’a sama yang Kuasa, supaya Allah segera mempertemukan kita. Bunda yakin Allah hanya ingin menguji kita untuk lebih bersabar hingga saat-saat yang membahagiakan itu hadir.
Bunda betul-betul tak sabar untuk segera bertemu denganmu…do’akan untuk bisa segera ya sayang…
Nak… Pagi ini, bunda tak mampu menahan keluarnya air mata. Bunda benar-benar rindu akan hadirmu. Tapi bunda tak tahu harus seperti apa caranya. Kemaren bunda sama ayah sudah dari dokter. Dokter bilang, kalo kamu sudah mulai membuat tempat tinggal di dalam rahim bunda. Bunda sangat senang… tapi bunda harus tetap bersabar hingga betul-betul ada kepastian bahwa kamu telah ada.
Tapi flek ringan yang bunda alami sebelumnya sedikit membuat bunda khawatir akan dirimu. Flek yang sedikit menakutkan pun kembali hadir dihari setelah bunda pulang dari dokter. Hari-hari sebelumnya, bunda masih merasakan genggamanmu kuat di perut bunda. Tapi sore itu berangsur-angsur bunda merasakan kepergianmu. Kamu masih belum siap untuk bertemu dengan bunda ya nak? Bunda masih khawatir. Dan bunda belum sepenuhnya yakin dengan perasaan bunda. Hanya butiran-butiran darah itu yang slalu membuat bunda takut. Takut akan kehilanganmu…
Siang kemarin sehabis bunda mandi. Bunda kembali melihat butiran itu. Di saat itu bunda betul-betul pasrah jika kamu memang belum bisa hadir dalam hidup bunda. Dan disaat itu bunda telah membuat ayah marah nak. Bunda tak punya pilihan lain, selain berpikir untuk meruntuhkan dulu rumah yang kamu bikin. Berharap dengan segera kamu bisa mempersiapkan rumah yang lebih kuat. Lebih kokoh tentunya. Sehingga tak akan ada lagi ketakutan bunda dengan runtuhan serpihan-serpihan yang berwarna merah itu. Kamu akan menjadi anak yang sehat dan kuat. Namun, bunda merasa bahwa kamu telah pergi meninggalkan rumah yang sedang kamu bangun itu…
Bunda sungguh tidak menyadari. Bahwa ternyata hal itu sangat membuat ayah terpukul. Bunda betul-betul ceroboh dan bodoh. Mengapa bunda bisa-bisanya menyampaikan hal yang menyakitkan itu pada orang yang bunda sayang. Bunda tak punya pilihan. Hanya bisa terdiam dan menyesali kesalahan saat itu.
Anakku, sebenarnya ada sesuatu yang jadi pikiran bunda sejak ditelpon oleh ibunya Ayah. Bunda sedikit kaget ketika nenek bilang kalo bunda gak masak, ayah mau makan apa? Mungkin nenek memang tak tahu dengan kondisi bunda saat ini. Tapi ketika nenek menanyakan kalo ayah sudah makan atau belum. Bunda jadi ngerasa gak melayani ayah. Bunda juga khawatir apa nenek tahu bunda tak pernah memasang akhir-akhir ini? Apa karena beberapa kali ayah minta makanan dirumah bude ayah? Apa karena adik ayah hanya makan telur dadar selama dirumah ini? Dan dibikin sendiri? Bunda makin takut disalahkan. Dianggap jadi istri yang tak berguna. 
Padahal kamu tahu kan, nak? Kalo tidak ada makanan dan bunda belum sanggup memasak. Kita juga cuma makan telur kan nak? Bunda gak tahu apa karena itu bunda jadi berpikiran yang tidak-tidak kemaren. Yang jelas yang ada dipikiran bunda hanyalah ingin kembali bisa mengerjakan aktivitas rumah kembali.
Walaupun ayah sering bilang kalo bunda jangan terlalu “lincah” alias jangan terlalu banyak bergerak. Bunda ingin nurut. Bunda juga ingin menjaga titipan di perut bunda dengan baik. Bunda pasti ingin yang terbaik untukmu. Menjagamu. Meski kadang bunda gak tahan pengen ngerjain ini dan itu. Tapi dengan seringnya bunda pusing dan capek akhir-akhir ini. Bunda tetap cuekin semua pekerjaan itu. Paling cuma hal-hal yang sanggup bunda kerjakan sedikit-sedikit.
Tapi, sabtu kemaren bunda agak sedikit aktif. Hingga akhirnya bunda capek dan kembali sakit pinggang. Seingat bunda hari itu bunda hanya sedikit bergerak. Setelah lulur dan creambath sedikit. Bunda merapikan tempat tidur. Itupun dibantu ayah. Beberapa kali bolak balik ke luar dan ke kamar. Hingga akhirnya fleknya agak sedikit banyak.
Kadang bunda sempat kepikiran untuk dirawat di rumah sakit aja, agar bunda tak dipusingkan dengan melihat berantakannya rumah. Pengen rasanya minta ke dokter untuk seperti itu. Mengusahakan yang terbaik untukmu. Agar kamu tetap sehat dan selamat dalam perut bunda…
Anakku sayang…
Jika engkau masih disana, maafkan bunda ya, yang tak mampu berbuat apa-apa. Bunda hanya ingin kamu kuat dan sehat… Tak ada satupun kurang dari dirimu. Bunda hanya ingin menjaga hal itu…
Kami tetap akan menantikanmu slalu. 
Tetaplah hadir dalam mimpi ayahmu. Bahagiakan hatinya… tenangkanlah pikirannya. Kecup slalu dia disaat tidur. Agar terobati rasa rindunya padamu…
Anakku, udah dulu ya cerita panjang bunda. Nanti kita lanjutkan dengan cerita-cerita seru dan menyenangkan ya… tentunya nanti kita akan berbicara langsung..^^
Rindu bunda slalu untukmu… segeralah hadir disini sayang… :*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *