Apapun yang terjadi di dalam hidup, pasti sudah tertulis dalam masing-masing catatan kita. Tapi terkadang beratnya hidup membuat kita ingin lepas dan berteriak dalam hati. Dibilang bisa gila, mungkin iya. Tapi, itulah hidup. Harus kita jalani dan nikmati.

Seorang wanita mungkin tak bisa sesabar laki-laki dalam berpikir. Kadang emosinya mendahului akal pikirannya. Seperti hari ini dan hari-hari sebelumnya. Mengapa selalu saja ada hal yang diperbuat orang lain yang menurut kita tak adil, sangat tak adil.
Tapi itulah perjuangannya bagiku. Demi kerukunan dan ketaatan pada suami. Semua ini harus bisa dijalani. Berbagi tempat tinggal dengan orang lain sangat tidaklah mudah. Untuk bisa menerima orang lain dalam kehidupan kita, bersentuhan langsung, bertatap muka, dan sebagai ya. Apalagi orang tersebut yang harusnya kita anggap sebagai keluarga sendiri sangat sering berbuat hal-hal yang membuat kita kesal. Sangat kesal. Kadang ingin menangis.
Tak hanya satu atau dua hal saja yang dilakukan orang tersebut untuk menguji hati dan kesabaran kita. Tapi berentetan dan berrulang-ulang. Haruskah kita selalu berucap sabar disaat menghadapi hal tersebut? Ya… Mungkin dengan itu Tuhan menguji kita.
Padahal sebenarnya jika dia bisa sedikit saja tidak mengulang-ulang dan bisa mengerti atau segan atau sedikit menghargai. Pasti rasa benci yang terpupuk lama ini tak kan semakin besar. Toh ada contohnya rekan yang satu lagi. Meskipun ada kesalahan dan kejengjelan yang kadang dia perbuat. Selalu dapat termaafkan dengan sikapnya dan rasa mengerti serta empatinya. Gak sampe membuat rasa membuncah di dalam jiwa. Engap rasanya kalo begini terus.
Ingin rasanya menghitung waktu yang tersisa agar bisa menata kehidupan berumah tangga tanpa diboncengi orang-orang yang tak sedikitpun mengerti kondisi keluarga ini. Plis, tolong mengerti. Harus berapa kali dan berapa banyak mesti berrucap???
Lelah, begitu lelah rasanya. Hati, pikiran, perasaan. Sangat lelah… Ingin rasanya tidur ditepian laut yang lepas. Terhampar dalam sepinya pulau tak berpenghuni. Dirasa bisa menemukan ketentraman bathin ini. 
Saat ini, hanya bisa terpengkur dalam sujud dan tangisan mendalam pada sang Pencipta. Sungguh tak kuasa rasanya jika ku tak punya Tuhan. Menjalankan ini tanpa merasa ada beban. Bagaimana bisa melepaskan pikiran dan beban di pundak. Jika hal ini masih terus terjadi.
Oh….. Tuhan….. Kuatkan hambaa… 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *