Dan ternyata ketika mereka sibuk mengurusi diri mereka sendiri, tak ada waktu sebenarnya bagi kita untuk memikirkan mereka. Toh, hidup ini punya kita, kita yang punya. Tujuan hidup, ya kita yang bikin. Kita yang berusaha raih dan kita yang capai. Ngapain harus bersibuk-sibuk diri dalam mengurusi orang lain?

Kita hanya seorang manusia yang punya nilai baik dan kurangnya. Tergantung bagaimana kita mengasah bagian baik dan buruk dalam diri kita tersebut. Mau menjadi baikkah? Atau menjadi buruk. 
Manusia layaknya hanya seperti seonggok daging yang diberi kemampuan berbicara, berpikir dan bertindak. Ya, kita diberikan nikmat berupa akal agar mampu berpikir. Agar mampu melakukan hal-hal yang menurut kita baik, dan menjauhkan sgala tindakan yang buruk. Toh, binatang saja yang tidak diberikan akal pikiran saja masih tahu bagaimana bersikap pada TuhanNya. Masih tahu bagaimana harus bersikap sebagai binatang. Sedangkan manusia?
Segala sesuatunya mutlak diberikan oleh Allah secara gratis. Baik udara, air, tumbuhan untuk menjadi makanan. Dan sebagainya yang kita sendiri ternyata sering lupa untuk mensyukuri nikmatNya. Bukan kita, tapi saya. Terlalu sering mengeluhkan sgala sesuatu dan menangisi segala sesuatu yang belum kita punya. Padahal, sangat banyak nikmatNya yang belum sempat kita syukuri. 
“Bukan nikmat Allah yang kurang banyak, tapi diri kita yang kurang bersyukur dengan nikmatNya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *