Sebelum memulai cerita, ada dua intermezo dulu. 

Yang pertama, mo mnyampaikan aja kepada pembaca bahwa blog ini murni untuk bercerita. Dari kisah-kisah yang didengar ataupun di baca. Karena sumbernya gak akan saya cantumkan kalo ceritain ulang, sebab sudah lupa. Jadi kalo ada yang udah pernah dengar cerita-cerita ini. Boleh dishare lagi kok. Kali aja bisa manfaat buat pembaca lainnya.^^. Dan yang ada sumbernya, nanti saya akan share juga di blog ini. 
Yang kedua, kenapa saya ingin menceritakan hal ini. Karena kemaren sempat chat dengan seorang teman yang mengingatkan saya akan suatu hal. Yaitu tentang sedekah. Hal yang sudah sangat lama saya pelajari tapi sampai sekarang masih sulit saya lakukan. Bukan karena semata-mata mementingkan urusan sendiri dan melupakan tabungan pahala di akhirat. Tapi hanya karena memang belum diberikan rezeki yang banyak berupa uang real yang kami punya. Jadilah, hanya bisa menginfakkan sedikit-sedikit dari sisa uang yang ada. Meskipun untuk berinfai atau bersedekah itu harusnya bukanlah dari uang sisa. Tapi memang setiap penghasilan yang kita miliki per bulan, ada hak-hak mereka yang membutuhkan disana. Nah, disini saya hanya ingin mengingatkan kembali pada diri sendiri dan yang lainnya juga. Yuk sama-sama kita bangun lagi kebiasaan untuk mensedekahkan apa yang kita punya. Walaupun gak banyak, tapi tetap berlipat-lipat pahalanya disisi Allah…
Cerita pertama, semasa kuliah dulu secara gak sengaja pernah mendapatkan sebuah selebaran berupa pamflet yang didalamnya berrcerita tentang kisah seorang yang pengusaha kaya raya di negeri kita. Saya lupa namanya. Pengusaha tersebut sudah memiliki harta yang berlimpah ruah dan memiliki seorang anak laki-laki. Suatu ketika tibalah saatnya dia diberi ujian oleh Tuhan. Yaitu, anaknya terlibat sebagai pengguna obat-obatan terlarang dan menderita suatu penyakit langka. Diceritakan disana, sang pengusaha dan istrinya berusaha untuk mengobati anak semata wayangnya itu. Berobat kesana kemari. Berobat ke luar negeri sampai obat alternatif. Tapi, anaknya tak kunjung sembuh. Hingga akhirnya dia datanglah ke salah seorang ustadz dan menceritakan kisahnya. Singkat cerita, sang ustadz hanya mengingatkan atas dosa-dosa yang telah mereka lakukan apa saja. Mereka diminta bertobat. Lalu selain mereka disuruh untuk berikhtiar, mereka diminta untuk mensedekahkan beberapa dari harta mereka. 
Hingga akhirnya suatu ketika. Anaknya berangsur pulih, mulai sehat seperti sedia kala, Setelah melakukan pengobatan di negeri paman syam.
Beberapa saat kemudian, sang pengusaha secara tak sengaja menemukan sebuah catatan penting yang pernah dia tulis di buku catatannya di ruang kerja. Dia menemukan tulisan tentang uang-uang yang dia ambil alias korupsikan dari perusahaan tempat dia pernah bekerja. Catatan itu sengaja dia tulis dengan niat suatu saat akan dia ganti jika sudah memiliki banyak uang. Namun, ia lupa. Dan Allah mengingatkannya kembali. 
Ternyata tak di duga dan tak disangka. Setelah dia menjumlahkan semua uang yang dia gelapkan terrsebut. Jumlahnya sama persis dengan total seluruh biaya pengobatan anaknya. Wallahu’alam.
*bersambung ^^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *