Doh…jadi serba dalah. Apa ini? Astaga. Apa gue lagi sensi atau emang kayak gini adanya?

Dulu gue pernah dinasehatin sama tante gue, hidup bersama suami dan keluarganya itu cuma ada 2 hal yang akan terjadi. Kalo gak kita yang cemburu sama suami yang sangat mementingkan keluarganya. Kalo gak, kita yang dicemburui keluarga suami karena ngerasa suami terlalu sayang sama istrinya.bgak mentingin keluarga.
Astaga, apa salah gue. Selama ini mereka-mereka tahu gak apa yang terjadi di keluarga gue? Mereka tahu gak bagaimana kehidupan gue ama suami? Yang kadang mesti berpuasa atau menahan nafsu untuk beli ini dan itu biar keuangan bisa stabil. Tapi ini kenapa? Apa gue ngabisin uang suami? Enggak toh. Apa gue memonopoli suami? Gak juga? Apa gue nuntut suami biar sayang gue doang n ngelupain keluarganya? Na’udzubillah. Ternyata benar kata tante, gue ngerasainnya. Tapi gue ngerasain dua-duanya. Yaitu cemburu dan dicemburui.
Meskipun berusaha agar tetap bisa memahami suami dan mendukung dia, mencoba mengerti dengan bagaimana kondisinya. Harus tetap mengerti keadaan. Tapi gue tetap gak terima dicemburui. Gue gak terima lirikan dan pertanyaan aneh yang menyudutkan gue kalo mereka menganggap sayangnya suami sama gue itu lebih. Ya Allah…. Alhamdulillah, Engkau memberikan suami yang sayang sama istrinya. Tapi apakah mereka tahu dibalik itu apa yang gue rasa? Cuma karena gue bisa mengerti bagaimana kondisi suami aja makanya gue berusaha terlihat bahagia, dan berusaha tetap bisa membahagiakan suami dan begitupun sebaliknya. Kebahagiaan yang kami bangun bukan semata-mata karena ada atau tidaknya uang. Hanya berupa kasih sayang dan pengertian. Jadi, apa yang mereka cemburukan? Sejahat itukah aku?
Jika hanya kadang diantarkan suami ke tempat keperluan sedangkan saudaranya tidak?
Jika suami memberikan pengobatan pada istrinya yang sakit?
Jika suami bercanda tawa dengan istrinya?
Jika suami lebih banyak waktu bersama istrinya?
Jika suami sesampai di rumah ngobrol dan berdiskusi dengan istrinya?
Apa yang harus dicemburui mereka? Bukankah itu memang tugas dan tanggung jawab suami terhadap istri? Apa terlalu berlebihan? Kurasa enggak. Malahan kadang waktu buat bercerita dan diskusi dengan suami sangatlah sulit, karena sampai dirumah juga setelah makan malam seringnya langsung tertidur gak beberapa lama sesudah itu. Apa yang mereka cemburukan pada gue?
Apa itu disebut berlebihan?
Jika dirumah kita menyediakan makanan buat semua penghuni rumah termasuk saudara suami
Jika rumah yang dibangun berdua dan berharap bisa mewujudkan rumah tangga yang sakinah berdua beserta menanti sang buah hati, dan kami membagi bersama mereka itu berlebihan?
Jika suami sering mengajak saudaranya untuk nonton bersama dibioskop dan makan bersama di luar itu berlebihan?
Hingga waktu pribadi ku berdua bersama suami pun ku korbankan. Apa aku masih termasuk jahat?
Suami membelikan keperluan saudaranya, ini itu dan lain-lain. Setiap belanja bulanan tak pernah lupa untuk mengambil sabun khusus untuk saudaranya? Apa masih mereka cemburu? Bagaimana kalo mereka berada di posisi ku?
Meski hati ini selalu berusaha untuk mencoba memahami kondisi suami. Tak mau berkali-kali membahas hal yang sama yang itu sangat menyakiti perasaannya. Kubelajar memahami.
Memahami berbagi. Memahami watak dan sikap semua orang yang ada di rumah ini. Memahami mereka semua. 
Meski kadang ingin rasanya lari… Tapi aku tak sanggup menyakitinya. Membuat suami bersedih.
Dan selama ini, aku slalu berusaha menjaga hubungan ini, meski pahitnya harus kukunyah mentah-mentah. Berharap ini ujian dariNya untuk menghapuskan dosa-dosa ku. Menambahkan pahala bagiku. Setiap waktu kuhanya meminta diberi kekuatan dan kesabaran. Agar suatu saat aku bisa melewati ini semua.
Jum’at sore. Setelah mendapatkan pertanyaan dari saudara suami. Kalo aku ujian tes cpns nanti, daerah mana? Trus yang ngantar siapa? Uda? Seperti yang tak terima kalo aku diberikan fasilitas lebih. Ya Allah…apakah aku salah? Aku istrinya. Dan aku tak selalu menuntut untuk diberikan lebih. Tapi memang itulah tugas suami. Kalo buat antar jemput dia ya suami gak mungkinlah….gilaaaaa. Pengen teriak. Mengapa harus menuntut untuk bisa sama denganku?
Sebelumnya cerrita, saat dia datang kejakarta. Kao ibunya tahu dia dari bandara naik damri sendiri sampai ke rumah ini pasti ibunya khawatir katanya. Dengan nada yang seakan mengeluhkan karena tidak dijemput ke bandara. Haiiii… Gueeee, istrinya setiap pulang pergi mudik kalo sendiri jg gak pernah diantar jemput suamii. Pengen nangis rasanya.
Belum lagi saudara yang laki-laki ntah cerita apa tentangku di keluarga mereka. Apakah akunsudah jadi kakak ipar yang sangat jahat? Memperlakukan adik ipar ku dengan gak manusiawi? Ya Allah…. Aku masak beres rumah dan segalanya dirumah ini untuk mereka. Adik yang dibandung aja boro-boro aku masakin. Nelpon dan tahunkabar dia juga sangat jarang. Adik kandung sendiri gak sebegitunya aku harus perhatian,karena kami mengerti kondisi masing-masing. Nah, dia? Harus aku cuciin pakaiannya? Cuciin piringnya? Gantiin sprei kasurnya kalo kotor!? Woiiiii…gue bukan pembantu. Mungkin begini rasanya direndahkan sebagai wanita yang tinggal tunggu uang belanja dari suami. Gak punya uang gak punya apa-apa. Direndahkan. Diirikan, dan segala macamnya. Padahal untuk mengirit uang buat belanja masakan aja gue harus berjalan kaki untuk sampai ke tempat les. Padahal gue berempat bersaudara selalu didik orang tua agar mandiri gak bergantung ke orang lain. Jadi, bukannya gue gak peduli sama kalian. Apa harus gue yang nanganin semua? Sayang2 sambil elus2 kalian? No!!!
Kalian aja deh yang gitu ntar. Plis… Mengerrtilah dengan keadaan. Tak sepeserpun uang kakak kalian yang gue gunain untuk kepentingan gue sendiri. Gak sedikit pun….T_T
Jangan pernah anggap gue gak berharga. Tapi buatlah diri sendiri kalian menjadi berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *