Barusan ibu suami telepon. Ternyata suami udah terlebih dahulu ngasih penjelasan lewat telepon ke ibunya tentang skripsi yang tadi. Ternyata cuma aku yang berputar-putar dalam pikiran yang gak jelas juntrungannya. Berkunang-kunang deh kepala. Tapi gak apalah, aku berharap tetap yang terbaik bagi suami. Apapun ktu, meski aku mungkin jadi orang yang terakhir tahu. Gak masalah, apapun sedih dan resah yang kurasa, cukup aku dan Dia yang tahu. Mungkin do’a orang tua itu memanglah yang terbaik. Dan semakin banyak yang mendo’akan suami semakin bagus. Karena kita gak tahu, dari mulut siapa Allah akan mengabulkan do’a untuknya. Mudah-mudahan lancar-lancar ajah. We loved u. We loved u ever after.

For my husband: semoga bisa lebih sedikit mengerti resah dan gelisah yang istrimu rasakan ini, bukan semata karena ketidaktenangan. Karena hanya berupa hal ini aku bisa memberikan dirongan dan kekuatanku padamu. Meski kekuatan ku satu-satunya dan yang terakhir hanyalah seuntai do’a…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *