Barusan, baru mulai bisa sedikit tenang. Gak tahu kenapa suami tak sedikitpun memberikan penjelasan yang bisa menenangkan ku. Cuma menulis pesan singkat yang mengatakan bahwa “udah bisa”. Apa yang udah bisanya juga gak jelas. 

Sms awal yang ditulis suami cuma pesan singkat, “udah gak bisa”. Yang pastinya itu brati skripsinya udah gak bisa diteruskan dan dia gak bisa sidang. Kuberanikan untuk menelepin sebentar. Gak ada penjelasan yang membuat pikiran lebih tenang. Akhirnya kuputar otak cepat untuk nyari solusi apa yang bisa dijalankan secara cepat. Air mata tak bisa lagi kutahan, karena hal itulah yang sangat aku harapkan bisa tercapai dari suami. Tapi suami tak sedikitpun membalas semua pesan solusi yang kukira bisa membantunya hari itu. Sempat terbesit sesal, mengapa aku tidak menemaninya hari itu? Mengapa aku tak ikut saja tadi pagi? 
Berusaha tenang. Sholat dhuha. Berdo’a. Berusaha mengerti sms terakhir suami yang hanya bilang bahwa udah bisa. Disatu sisi ada sedikit perasaan tenang. Apakah dia udah bisa menemukan solusinya dan bisa kanjut skripsi plus sidang? Atau hanya kalimat singkat yang hanya ingin membuat aku lebih sedikit tenang? Pikiran masih menjelajah tajam. Berusaha paham dan membayangkan hal-hal lain yang telah terjadi. Hp suami sudah tidak aktif. Sgala informasi apapun langsung hikang. Aku sudah tak tahu apa-apa. Bagaimana kondisi suami, bagaimana progress kelanjutannya aku tak tahu. 
Berusaha untuk tenang dan berpikiran positif. Sejenak membaringkan tubuh di kasur seusai dhuha. Sambil terus beristighfar dan shalawat berharap Tuhan mendengarkan do’a-do’a ku. Karena keyakinan masih tetap tertanam. Bahwa pasti ada jalan. Ketiduran sejenak. Mata agak bengkak, malas keluar kamar. Masih sedikit pusing. Efek obat yang aku minum agaknya selalu bekerja disaat aku berpikir terlalu keras. Buku-buku tes cpns yang sedari oagi aku bahas di luar kamar dibiarkan tergeletak. Aku menunggu kondisi sedikit stabil dan tenang. 
Akhirnya mulai bisa kembali fokus dan gak begitu pusing. Berusaha sedikit melupakan hal yang kupikirkan tadi berharap ada sms balasan dari suami. Sambil terus mengerjakan soal-soal tapi sms nya gak kunjung datang. Karena tadi sempat bertanya ke teman sekantor suami karena sedikit khawatir, akhirnya suami menelepon ke hp saat sampai di kantor. Sedikit lega. Tapi masih belum puas dengan jawaban suami yang masih mengambang. Masih tetap bilang, “biarin aja, udah gak bisa”. Astaghfirullah, loh tadi yang sms udah bisa maksudnya apa? Apa yang udah bisa? Apa cuma buat nenangin aku doang? Brati dia berbohong? Hingga aku tak tahu harus mikirin apalagindan dengan cukup tenang bilang kalo tadi ada telpon dari universitas yang menanyakan tentang judul yang akan dipake mau diganti apa engga. Jadi makin bingung. Hingga akhirnya telpon ditutup setelah ku minta suami menelpon ke bude suami yang tadi menjawab telepon dari universitas. 
Saat kutanya beberapa saat kemudian, tentang bagaimananya, suami tak memberi balasan. Apa dia pusing dengan pertanyaanku yang bertubi-tubi? Membuat dia gak tenang? Tapi aku semata-mata hanya karena memikirkannya. Berusaha untuk terus mendorongnya. Suami diam. Hingga saat aku buka ipad dan cek line yang ada beberapa notif. Disana ternyata suami online dengan hp nya. Sms aku gak dibalas. Kenapa ini?
Memberanikan diri untuk chat via line. Dan bertanya. Tanpa berpikir mau berrtubi kek atau enggak, nyinyir kek atau engga. Yang jelas aku bisa puas dengan informasi yang dia berikan. Dan ternyata, aku baru mendapatkan jawabannya hingga sesore itu. 
Suami masih punya kesempatan, masih ada waktu sekitar 2 minggu lagi. Rasanya mau nangis sekuat-kuatnya. Tapi terhapys dengan rasa bahagia dan sedikit tenang. Alhamdulillah. Meskipun suami tersulitkan oleh kehebohanku dan segala macamnya. Ketahuilah itu karena aku tak ingin ada penyesalan bagi diriku karena sebagai istri tak bisa mensupportnya. Bodoh dan tololnya aku yang tak pernah bisa diam jika menghadapi kondisi yang seperti ini. 
Mungkin suami ingin lari dari ku disaat seperti itu. Aku tak pikirkan apapun. Aku hanya berharap bisa membantu dia dengan semangat dan do’a..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *