Bismillah…

Ya Allah…diri ini rasanya lelah…letih…
Lemah tak berdaya dan hanya bisa pasrahkan ini semua padaMu
Tak sanggup rasanya beban ininterus menerus kupendam dalam perasaan…
Tak tega pula rasanya, menambah beban dipundak suami dengan melihatkan kesedihan…
Rasanya hari ini beban itu kembali terasa berat. Mendengar tawa dan obrolan orang di luar saja, hati ini rasanya menggerutu. Kepala pusing tak tahu apa yang dipikir dan dirasa. Tapi aku hanya ingin orang-orang yang diluar segera berhenti menyalakan dua media sekaligus…
Pusiing..bener2 pusing. Hati benar2 lelah..ingin rassanya berteriak pada orang yang di luar….diam!!!
Tak kuasa rasanya menyuruh mereka mematikan atau sekedar mengecilkan volume yang mereka hidupkan. Belum lagi rasanya hati gondok karena mereka menyalakan tv dengan volume lumayan bersamaan dengan nyetel musik di laptop… Pekak….telinga ini serasa ingin pecah bersamaan dengan kepala…
Tidakkah mereka sedikit berpikir dan paham setidaknya kondisi kami. Persetan dengan mereka, kali ini aku hanya ingin melihatkan rasa benci. Diiringi. Sakit diseliruh sendi dan perut. Ingin menangis. Tapi rasanya udah gak bisa.
Gak tahu apa yang sedang ada dipikiran suami. Yang jelas, dia tak pernah mau berbagi kesulitannya denganku. Meskipun kadang sedikit kucari-cari tahu dengan bertanya. Dia hanya sekedar memberi info tanpa ada kelanjutannya. Kadang pikiran mengawang, dengan setumpuk permasalahan yang dihadapi suami. Tanpa berpikir apakah suami sudah menemukan jalan keluarnya atau lainnya. Sehingga jadi panik sendiri.
Belum lagi dengan masalah keuangan. Aku sama sekali tak tahu menahu dengan bagaimana kondisinya. Meskipun aku berusaha menjadi istri yang tak banyak menuntut apa-apa. Hanya sekedar minta uang belanja untuk makanan sehari-hari di rumah. Yapi kadang, tetap ada rasa takut dengan kondisi keuangan kami. Meskipun aku selalu mengingatkan suami untuk kita berusaha tidak boros. Tapi tak bisa dipungkiri rasanya, beban makan listrik dan pengeluaran sehari-hari atau pun bulanan di rumah semakin meningkat. Makanya rasa hati ini kadang dongkol dan kesal dengan orang-orang di rumah yang terkadang tak memikirkan kami. Kadang ku berpikir mereka menganggap uang kami masih banyak untuk beli ini dan itu. Atau bahkan mungkin mereka berpikir uang suamiku dihabiskan oleh istrinya untuk beli ini dan itu. Ingin rasanya teriakan pada mereka, tak satu pun barang ataupun keinginan pribadi yang aku minta pada suami. Jangankan untuk kepentingan pribadi. Kadang untuk keperluan untuk makan dan minum sehari-hari saja aku serring berpikir-pikir ulang untuk meminta. Makanya diri ini sangat sering menolak siapapun yang mengajak untuk jalan keluar. Siapapun, termasuk dia si sepupu suami. Karena memang tak ada sepeser pun uang yang kupunya. Bahkan kadang diri ini slalu berdo’a agar senantiasa diberikan rezeki yang halal dan berlimpah. Agar bisa membantu dan berbagi pada sesama. Tapi kadang aku pun berpikir ulang. Apakah aku akan selalu direndahkan dan diremehkan karena tak punya uang. Belum apa-apa sudah banyak mata yang melirik. Meskipun aku sendiri yang punya uang dengan keringatku sendiri, tetap dipandang sangat tak enak. Padahal aku sendiri tidak mendapatkan apa-apa dari kakak mereka. Tapi sudah seperti aku yang memonopoli semua. Apalagi nanti disaat disaat kami diberikan rezekin yang berlimpah ruah. Mungkin tak tahu lagi apa yang akan mereka sebutkan dan lainnya. Ingin rasanya cuek dan gak memikirkan apa-apa. Tapi kadang hati ini lemah. Tak sanggup terima perlakuan itu semua. 
Padahal, meski aku tahu. Kewajiban suamilah untuk memberi nafkah istri lahir dan bathin. Dan aku coba menerima apapun yang sudah diberikan oleh suami pada diriku. Aku cukupkan dan aku syukuri semuanya. Dengan mencoba memahami bagaimana kondisi suami. Aku tak pernah menuntut untuk ini dan itu semacamnya. Meski aku tahu, kewajiban istri berupa nafkah lahir itu tak hanya memberikan uang untuk belanja makanan sehari-hari. Akan tetapi jika dicukupkan oleh Allah rezeki baginya, maka wajib bagi suami untuk membelikan pakaian yang layak dan bagus buat sang istri. Membelikan perhiasan dikala uangnya berlebih. Tapi aku tak pernah mendapatkan itu. Jadi apa yang mereka takutkan? Aku hanya berpikir saat ini untuk bekerja, untuk bisa menghasilkan uang. Meskipun suami menginginkan aku tetap di rumah. Tapi aku tak bisa dengan kondisi perlakuan seperti itu. Seperti wanita yang menjadi benalu di kehidupan suaminya. Meski suami ingin aku di rumah, tapi aku tak bisa tak memiliki uang sendiri. Aku tak bisa tak mengeluarkan uang untuk sedekah. Atau tak membantu keluarga-keluarga dekat. Aku juga tak bisa menghilangkan sifat kewanitaanku. Yang terkadang sangat ingin membeli pakaian yang baru,mataupun sekedar menabung dengan emas yang kusimpan atau kupakai. Dengan uang kunsendiri, sehingga jika ada siapapun yang akan menuntut. Aku akan bisa membela diri ini bahwa ini adalah kepunyaanku. Bukan pemberian kakak mu atau apapun…
Ya Allah…ampuni hamba…aku sangat ingin menjadi istri yang sholehah dan bisa memenuhi semua kebutuhan suami di rumah. Slalu berada dirumah disaat suami akan berangkat kerja dan pulang ke rumah. Aku hanya ingin memiliki waktu berdua. Waktu utama untuk kami berdua, tanpa ada siapapun di rumah. Tanpa ada siapapun yang mengikutsertakan kebersamaan kami disaat-saat tertentu. Tak tahukah mereka apa penderitaan yang sebenarnya kurasa?
Mungkin masih kurang pengorbanan suami untuk keluarganya. Tapi aku mohon, berilah pengertian pada mereka tentang bagaimana kondisi kami. Kondisi bathin kami. Aku tahu bahwa dia adalah sosok yang sangat ingin membantu keluarga dan berbakti pada orang tua. Tapi kumohon pahamilah keterbatasannya. Kami belum apa-apa. Kami baru ingin merajut mimpi dan cita. Jadi kumohon jangan tuntutjan apa-apa padanya. Kumohon… Belum cukupkan suami sudah membantu adiknya untuk membeli laptop disaat keuangannya pun sedang sulit? Disaat hutang-hutang menumpuk. Hutang rumah dan kartu kreditpun yang tak sedikit? Tak cukupkan bagi kami diberikan beban untuk mencukupi segala sesuatu untuk dua orang saudaranya yang dititipkan di rumah ini? Tak cukupkan beban bagi suami yang akan menghadapi masa-masa terakhirnya berkuliah dan hampir terancam DO? Tak cukupkah bagi suami untuk memikirkan uang kuliahnya yang menunggak bersemester2 dan tuntutan uang ini dan itu tiket pesawat ini dan itu untuk keperluan keluarganya nanti? Sudah cukup!!! Hentikan ini semua. Tolong pahami kami… Ya Allah kuatkan dan mudahkanlah urusan-urusan kami… Agar kami bisa mempermudah urusan-urusan keluarga kami…aamiin…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *