Surat untuk Suamiku

Disaat lelah kadang aku lupa menyuguhkan minuman padamu
Disaat Kesibukan mengerjakan pekerjaan rumah dan kesibukan bersama anak-anak membuat ku lupa untuk menyiapkan segala keperluanmu
Dan ketika aku ingatpun, Kau mengatakan tidak apa-apa sembari tersenyum

Disaat anak-anak mulai beranjak dewasa dan ujian demi ujian yang ku lalui dan sering kukeluhkan padamu
Di saat itu emosi demi emosi kulampiaskan kepadamu
Lagi-lagi kau jawab dengan muka tenang dan selang beberapa waktu, Kau pun mencoba memijit pundak dan tanganku

Kadang ku merasa menjadi wanita yang paling buruk didunia
Tidak becus merawat dan menjaga buah cinta kita berdua
Terkadang ku juga merasa menjadi wanita yang kurang beruntung, karena berdiam diri di rumah tanpa bisa membantu apa-apa dalam urusan keuangan rumah tangga kita
Banyak tatapan-tatapan sinis yang tak bisa kuelakkan melihat dirimu yang seolah santai tanpa melakukan apa-apa di rumah
Lalu kembali kau lemparkan senyum bijaksana bahwa kau ingin aku menjaga dan merawat mereka
Membuat ku tersadar dan segera bersyukur atas segala nikmatNya

Pak suami, Istrimu memanglah bukan istri yang sempurna yang memiliki gejolak emosi yang berubah-ubah.
Terima kasih kau telah mencoba pahami dan mengerti
Maafkan aku yang terlalu sering melantunkan nyanyian-nyanyian syahdu lagi merdu di saat engkau mungkin juga membutuhkan semangat dan gairah untuk bekerja
Maafkan aku yang terkadang tidak peka tapi menuntut kepekaan darimu
Maafkan aku dengan segala kekurangan dan kelemahanku
Sebagai istrimu, tulang rusukmu…yang tak pernah luput dari salah
Setiap detik aku tak ingin berhenti berdo’a dan bermunajat pada yang Kuasa
Agar Engkau diberikan kesehatan dan kekuatan bekerja di luar sana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *