Saat aku kecil aku tinggal di sebuah kota kecil di daerah Sumatera Barata. Daerah ini jarak tempuhnya hanya sekitar 30menit perjalanan dari pusat Ibukota, yaitu kota Padang Pariaman. Disini aku menghabiskan masa kecil hingga usia menjelang 3 tahun. Aku yang dilahirkan di kota Padang secara terpaksa harus di bawa oleh papa ke rumah sakit yang cukup lengkap fasilitasnya. Karena konon ceritanya, kata mama aku tidak ada keinginan untuk keluar dari perut mama, sedangkan usia kehamilan mama sudah lewat dari jadwal melahirkan yang seharusnya. Hingga akhirnya aku lahir dan menjadi anak yang terkenal rajin di kampung kecilku waktu itu. Setiap sore, sangat hobi menyapu halaman dan menyiram bunga.

Hingga akhirnya aku pun ikut kedua orang tua untuk hijrah ke salah satu kota lain yang cukup jauh dari kampung halamanku. Sekitar 3 jam jarak tempuh perjalanan ke sana waktu itu. Melewati bukit hutan dan lembah. Mobil melaju melewati jalan yang berliku tajam diiringi suara aliran sugai di sepanjang jalan yang kami lewati. Perjalanan yang cukup melelahkan menurutku saat itu. Lalu di kota kecilku yang baru aku melanjutkan pendidikan TK kecil. yang sebelumnya telah kulewati sekolah di kampung halamanku dengan mengikuti kelas numpang istilahnya. Karena kedua orangtua ku bekerja. Maka aku masuk sekolah sedikit lebih cepat. Tetapi aku tetap senang dan bahagia karena bisa bermain bersama teman-teman kakak. Dan juga memainkan mainan yang ada di sekolah saat itu.

Sampai akhirnya aku beranjak dewasa. SD, SMP dan SMA kulewati di kota yang sudah seperti kota kelahiranku. Yaitu kota Payakumbuh namanya. Kota yang letaknya di perlintasan sumatera barat menuju kota pekanbaru. Jika ingin melihat pemandangan kelok 9, lewatilah dulu kotaku ini. Dengan banyaknya keindahan pemandangan alam membuat kota ini semakin kucintai.

Setelah tamat SMA akupun melanjutkan kuliah ke kota kembang. Kota yang tak kalah banyak kenangan beserta cerita di dalamnya. Kota tempatku menuntut ilmu dan belajar banyak hal tentang kemandirian dan memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa ditemani orang tua dan sanak keluarga.
Cerita zaman kuliah yang dipenuhi dengan rumus-rumus fisika membuatku tak terlalu banyak mengikuti kegiatan bermain semasa kuliah. Paling top cuma ikutan acara yang diadakan oleh jurusan. Selebihnya lebih banyak kegiatan dikampus baik akademik maupun kegiatan ekstrakurikuler lainnya.

Dan, akhirnya ketika ku telah menemukan tambatan hati. Mengikta janji hidup dengan seseorang yang kutemukan ketika berada di kota kecil tempat hampir seluruh hidupku jalani di sana. Yaitu menikah dengan lelaki kelahiran sumatera barat yang lama menggali ilmu dijakarta. Dan akhirnya sejak menikah kami pun hidup di kota bekasi dan melahirkan 2 orang anak di kota ini. Kota yang crowded baik disaat hari libur ataupun hari biasa. Yang dijuluki planet oleh banyak orang. Namun kota kelahiran anak-anakku ini, tempat dimana ari-ari anak-anakku dikuburkan menjadi kota kedua yang kucintai. sekian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *