“Kenapa, kenapa mama sama papa tidak memberikan persetujuan untuk saya menikah dengan nya? Kenapa saya harus selalu dan setiap waktu disodorkan dengan orang yang ingin kalian jodohkan dengan saya? Apa belum cukup perjodohan-perjodohan sebelumnya yang akhirnya juga gagal bukan?” Nada suara yang sesak dan tertahan oleh isakan tangis berusaha keluar dari mulutku untuk semata-mata bisa menjelaskan kepada mereka tentang pilihanku.

Hidup memang tak selamanya indah dan tak selamanya akan terjadi seperti apa yang kita harapkan. Kecewa atas kejadian itu biasa. Tapi kali ini sudah tidak sanggup kujelaskan pada siapapun, bahwa aku tidak mau lagi dijodohkan dan dipilihkan calon suami untuk hidupku ke depan. Semua aku yang akan menjalani. Pahit getir, bahagia dan semua suka dukanya aku yang akan melalui. Memang kata mereka orang tua pasti akan mencarikan yang terbaik untuk anaknya, tapi apakah sekarang masih zaman siti nurbaya? Ataukan masih ada jiwa-jiwa datuk maringgih dalam hati keturunan  minang.
Duniaku hancur hampir setahun lamanya. Terombang-ambing dan terisak pilu dalam tangisan sendu setiap harinya. Pekerjaanku teganggu, pikiranku pun terganggu. Dalam munajatku ingin segera pergi dan berlalu dalam masalah berkepanjangan itu. 
Permasalahannya mungkin sederhana tampak dari luar. Akan tetapi cukup mengoyak jiwa dan hatiku saat itu. Setiap waktu orang tua mengharapkan aku menikah, tapi bukan dengan orang yang aku inginkan. Hanya dengan alasan yang tidak begitu bisa diterima akan sehat, mereka secara tidak sadar memaksaku untuk menikahi orang yang mereka senangi.
Itulah yang kusesalkan mungkin masih tersisa hingga saat ini. Pertama, merasa menyesal kenapa aku tidak bisa melewati masa-masa sukit tersebut dengan bersikap tetap tenang dan optimis. Persoalan yang waktu itu terlalu rumit dalam pikiranku membuat otak sulit untuk berpikir selain hanya emosi sedih dan kecewa yang terasa. Andaikam masalahnya cukup jelas, mungkin aku bisa melewatinh dengan perasan biasa.
Kadang aku iri dan ingin seperti mereka-mereka yang menjalankan pernikahan dari mulai proses pasangannya disukai oleh orang tua, hingga proses berikutnya hingga menikah di pelaminan. Namun kadang, nyata sekali adanya bahwa hikmah dari kejadian itu memang baru bisa kita ambil setelah semua terjadi. Yang lalu biarkan berlalu. Biarkan mereka yang merasa mengerti dengan perasaan dan logika kita untuk memilih pasangan, dan cukup buktikan. Bahwa yang akan terjadi tidaklah seperti yang mereka bayangkan. Bahwa uang bukanlah segalany, memang uang bisa menentukan pilihan hidup. Tapi uang tidak menjamin bahawa hidup bisa bahagia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *