Di tahun 2018, di penghujungnya saya baru mulai merasakan lagi bahwa ngeblog itu asyik, ngeblog itu menantang. Baru di penghujung tahun ini akhirnya saya baru tersadar untuk mulai konsisten ngeblog lagi. Lalu baru merasakan kembali ruh ngeblog yang hilang beberapa tahun belakangan. Mungkin gak hanya bersarang laba-laba, tapi juga berlumut dan dibikin rame oleh suara jangkrik, kriik …krikk krik..hehe. Sangat sepi dan tidak ada pembahasan yang menarik yang bisa saya tuliskan, tidak ada ada tulisan apalagi reward.

Berawal dari kesibukan mengurus anak. Lalu mulailah posting-posting yang menurut saya perlu saya bagikan di akun sosial media saya. Lalu tidak lupa setiap postingan saya tulis caption berupa cerita dari foto yang saya ambil. Ternyata cerita yang saya tuliskan tidak bisa jadi cerita singkat. Selalu menulis caption yang udah kayak cerpen, seabrek-abrek bahkan sampe ke komen. Itu caption apa cerbung kali ya pikir teman-teman saya yang membacanya.
Hingga ada salah seorang teman sekaligus tetangga yang berbaik hati menyarankan untuk saya menulis di blog saja biar puas panjang kali lebar ceritanya. Tetangga yang niatnya baik ini spontan memberi masukan karena dia mungkin “ngakak” sendiri dengan caption panjang di setiap foto saya ditambah lagi dengan hastag #sorrykepanjanganceritanyaudahkayakcerbung. Tapi ada saja yang akhirnya memberi komentar yang berarti tulisan panjang itu ada yang baca juga dong hehe.
Awalnya saran dan masukan teman ini cuma saya tanggapi dengan santai, 
“Iya, nanti insyaallah mau nulis blog lagi”
Memang gak sanggup banget rasanya membagi waktu antara urusan anak, rumah dan kreativitas serta hobi. Jika dilist prioritas per-hari. Waktu yang disisihkan buat  menulis mungkin sudah jadi prioritas paling bawah. Karena punya effort tersendiri untuk bisa menulis di depan laptop trus dibikin semenarik mungkin baik dari cerita dan gambar yang ditampilkan. Meskipun hasil akhirny akan berupa cerita dan gambar yang receh unfaedah juga. Tapi, dalam pikiran tetap bahwa menulis itu harus disediakan waktu khususnya. 
Gak bakalan sama seperti menonton drama korea yang bisa sambil menyetrika atau memasak ya. Heheheh
Flashback lebih ke belakang lagi, seorang suami yang sebenarnya sudah dari awal pas tahu istrinya hamil menyarankan buat ngeblog ini. Berawal dari challenge ngeblog semasa sebelum nikah. Saya sempat mengalahkan suami dengan 164 postingan saya (apa 64 ya, lupa..haha) dalam sebulan. Suami tahu banget istrinya suka bosen bin jutek bin moodswing kalau tidak punya kesibukan di rumah. Demi memiliki anak dan menjadi istri yang baik di rumah. Resign dari pekerjaan bagi seorang wanita yang sudah terbiasa sibuk di luar juga menjadi masalah dan petaka besar bagi suaminya. 
Mungkin kalau ditanya ke pak suami, seperti makan buah simalakama. Istrinya kerja, dia bakalan stress pasca keguguran dan sulit untuk mendapatkan anak sesudahnya. Menghadapi setiap drama menstruasi setiap bulan aja dia mungkin udah pengen hengkang dari galaxy bimasakti ini pindah ke galaxy lain (ini pemikiran saya yang lagi stres saatu itu sih, saya sadar menyulitkan suami). Ditambah istrinya yang akhirnya keluar dari pekerjaan yang dia senangi, yaitu mengajar. Dia juga harus tetap sabar dan tabah menghadapi sang istri yang gak ada kerjaan di rumah.
Diberilah motivasi buat menulis diblog,

“Tulisin aja apa yang ingin kamu tulis, pengalaman kamu kan banyak.”
“Atau kalo gak tulis materi fisika, biar kamu tetep ngerasa ngajar fisika (lalu istrinya menatap sinis..:)) ” 
“Banyak informasi yang bisa kamu ceritakan di sana yang mugkin berguma bagi banyak orang”.
Ini noted pertama kali yang membuat saya akhirnya menemukan cara untuk bisa mengumpulkan para ibu dalam ikatan kesamaan pas hamil. hehehe. Belajar sama-sama dan saling berbagi informasi yang tepat juga bersama.
Serta seabrek bujukan lainnya untuk sang istri yang sedang bete.
Yang lagi galau
Yang lagi super baper
Yang lagi depresi
Saran yang dilakukan dengan separoh hati itu hanya berjalan beberapa saat.Mulai menulis sesuka hati. Kadang pikiran balik kesana kemari yang membuat mood menulis pun hilang terbang mebuap ke awan.
Hingga akhirnya disaat saya diberi masukan lagi oleh salah seorang rekan satu group dari group bayi yang sempat saya bikin pada saat kehamilan anak kedua. Disaat kita merencanakan untuk memfollow up-i event yang sudah kita bikin untuk rekan-rekan segroup hamil. Dia menyampaikan, 
“Kamu kenapa gak nulis aja sih? Berbagi informasi lewat tulisan dan ilmu serta info yang kamu punya itu bisa bermanfaat loh bagi banyak orang (kali ini kalimatnya lebih expert dan sedikit menyentuh, mungkin intinya sama dengan saran-saran sebelumnya. Dari pada kamu nge-“sosmed” dengan caption panjang-panjang haha). Kamu itu punya potensi, tapi keinginan belum. Kebalikan sama saya.”
Degg… kalimat terakhir dari seorang teman jni bikin saya akhirnya tersadar. Bener juga sih. Meski saya memiliki rencana memang akan fokus menulis jika anak sudah usia sekolah atau ketika saya sudah memiliki waktu yang cukup longgar. Tapi target itu tidak saya tentukan kapan waktunya. Hanya sebatas dipikiran saja. 
Hingga akhirnya saya mengikuti suatu komunitas yang memberikan kesempatan juga buat menulis. Saya pikir mungkin ini saatnya saya bisa menguji kemampuan diri dalam mengatur waktu saya sendiri. Saya perlu memberikan tes untuk diri sendiri. Apakah saya bisa? Ataukah ini hanya ini sekedar keinginan belaka sedangkan saya tidaklah sanggup? Ah, yasudahlah. Kalau tidak dimulai dari sekarang. Saya tidak tahu apa saya bisa atau tidak. Baiklah, bismillah.
Mulailah mengikuti 3 tema dari challenge menulis blog di komunitas itu. Tidak disangka, 2 dari tulisan saya mendapatkan reward. Rasanya bahagia. Bukan bahagia semata karena reward. Tapi bahagia ternyata jika saya ingin melakukannya dan fokus dalam diri. Ternyata tidak ada yang tidak bisa. Pasti bisa. Tinggal selaraskan dengan keinginan dan jangan dipaksakan. Jangan terlalu berharap tapi jalani semampunya. Agar tidak menjadi beban.
Selang beberapa hari. Muncullah iklan 30day blog challenge dari blogger perempuan. Saya baru mengenal, oh ternyata ada komunitas untuk para blogger ya (ya ampun kemana aja jeng). Gak pake spasi langsung saja klik dan ikut untuk challenge tersebut dan pas di hari waktu penutupan. Udah waktunya mepet. Ilmu untuk mengotak atik pendaftaran dan segala macamnya masih minus. Teknologi dalam berselancar di dunia maya  saya sedikit menurun saking lamanya tidak berinteraksi dalam dunia persilatan blog ini. Kebanyakan main di sosial media. Mainnya kurang jauh dan kurang smart wkwkwk, jadilah lupa dan grogi. Sampai akhirnya berhasil daftar dan memulai menulis dan memecut diri untuk terus konsisten. Komitmen dalam diri memaksa diri untuk tidak berhenti di tengah jalan. Selalu membulatkan tekad untuk terus lanjut.. lanjut. Ayo kamu bisa. Bukankah motto hidup kamu dari dulu, jika sudah berani untuk memulai, pantang untuk berhenti di tengah jalan. Tuntaskan apa yang sudah kamu mula-i. Seberapapun dan seperti apapun hasilnya, yang jelas usahakan yang terbaik, kerjakan semampunya. Dan harus tuntas. Harus kelar. Hingga detik penutupan tepat di pukul 00.00 semua selesai dan akhirnya saya legaa.. melewati 30 hari untuk selalu komit dan konsisten dalam menulis blog.
Lega karena bisa menjalaninya hingga akhir.
Lega karena bisa menerima tantangan challenge dari blogger perempuan. 
Dan yang terpenting, bahagia karena bisa menantang diri sendiri untuk bekerja hingga selesai. 
Demi pemecut diri untuk menuntaskan tugas itulah akhirnya ada rasa tersendiri yang sulit diungkapkan tapi hanya bisa dirasakan. Akhirnya saya bisa membuktikan pada diri sendiri bahwa saya bisa. Bukanlah anak dan bukanlah pekerjaan rumah yang selama ini yang sering saya jadikan alasan untuk tidak bisa menulis. Yang selama ini saya takutkan dan jadikan alasan. Tapi hanya diri sendiri yang sudah merasa tidak bisa dari awal. 
Dan dipenghujung tahun ini. Akhirnya saya tutup dengan tulisan yang menurut saya sangat berarti. Yaitu memberikan cerita hikmah versi saya untuk seluruh pembaca, blogger perempuan. Terimakasih, telah membuat saya kembali percaya diri. Terimakasih telah memberikan tantangan kepada saya yang akhirnya saya pun bisa menerima tantangan dan melewatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *