“Tolong.”

“Tolong bantu aku.”

“Aku mohon.”

Move Run (Part 1)

“Aku sudah tidak kuat dengan semua ini, sungguh…rasanya tidak sanggup lagi.” Beban ini terasa begitu berat bagiku. Hal ini sangat sulit. Bahkan lebih sulit dari memecahkan soal fisika kuantum dan teori relativitas sekalipun. Tak ada satupun keputusan yang dapat aku ambil. Pikiranku kalut. Otakku seakan buntu. Aku sudah tidak bisa lagi berpikir jernih. Secarik kertas yang sudah kuukir dengan tinta hitam mengungkapkan segala rasa gundah gulana hatiku untuk yang terakhir kalinya. Aku lipat dengan rapi dan kuletakkan di sudut meja. Semuanya sudah kupersiapkan dengan sempurna. Kunci mobil akan kutitipkan ke kak Dilla. Surat resign kerja sudah kusampaikan dan kuurus segala administrasinya. Dengan begini selesai sudah semua tanggung jawabku. Aku akan mengakhiri ini semua. Ya, semuanya. Agar tidak ada lagi yang tersakiti.

*****

11 Januari 2010. Aku meratapi dan merutuki diriku di malam yang sendu ditemani suara jangkrik dan lantunan ayat-ayat-Nya. Lampu redup kecil di pojok kamar menjadi saksi kesedihan dan kepiluanku beberapa bulan terakhir. Aku tertunduk sambil menangis di sebuah meja kerja di sebelah tempat tidurku. Dengan sebuah laptop berwarna abu-abu menyala dengan layar kosong pada halaman microsoft word. Sejak dari maghrib tadi aku hendak membuat soal ujian, namun tak satupun soal yang telah kubuat. Pertahananku hari ini kembali runtuh. Aku tak kuat menahan rasa sesak dan sakit yang merasuki ragaku. Tak henti-hentinya mulutku malafadzkan asma-Nya. Nafasku tersengal.  

Tangisanku tertahan dalam gelapnya malam. Ingin kulepaskan semua perasaan yang membuncah didalam hati. Namun aku tak ingin seisi rumah kembali terbangun karena mendengar isak tangisku seperti malam sebelumnya. Di saat amak mendapatiku menangis di atas sajadah. Entah kenapa amak murka dan mengata-ngataiku. 

“Kau rajin sholat, rajin mengaji.”

“Kau taat pada Tuhan.”

“Tapi mengikuti keinginan amak saja kau tak mau.”

“Mau jadi Malin Kundang, Kau?”

Terasa bagai disambar petir dengan hujan deras mengguyuri bumi. Bahkan rasanya lebih lebih menyakitkan. Bagaikan dihantam batu meteor yang berhasil menembus lapisan sabuk Van Allen. Sangat menghujam dan menghancurkan. Apa begitu murkanya amak hingga harus mengeluarkan kata-kata itu? Berlanjut dengan perkataan amak yang mewarnai seisi rumah disaat aku tak ingin menentang keinginannya, namun akupun tak sanggup menjalaninya. Aku tak sanggup lagi menjalani kehidupan ke depan yang bertentangan dengan nuraniku. Ini untuk masa depanku, kali ini aku berhak menentukan dan memilih. Aku ingin memberontak untuk mengatakan aku tidak mau. Tapi semua seolah sudah diatur sehinga aku tidak boleh ikut mengambil keputusan. Aku sama sekali tidak dilibatkan.

Di kamar yang kurasa begitu dingin dan sunyi, kunyalakan murottal agar bisa menemaniku melewati perasaan-perasaan yang kelabu. Kunyalakan lampu di meja belajar semasa aku bersekolah dulu untuk memberi tambahan  penerangan bagiku. Kucoba mengusir rasa sedihku dan mulai berkonsentrasi. Aku baru menyadari sudah hampir mendekati waktu subuh saat melihat jam di dinding dekat pintu kamar. Setumpuk kertas ulangan anak-anak murid dan pulpen merah di atasnya membuatku mulai mengumpulkan semangat mengerjakan semua tugasku. Hampir tak satupun yang bisa aku kerjakan dari semalam, karena tanganku kaku. Hatiku perih. Pikiran dan otakku sulit diminta untuk sejalan. Kembali kucoba atur nafas dan menghilangkan segala jenis pikiran buruk di kepalaku. Mencoba menghadapi apapun yang akan terjadi esok pagi. Aku harus siap. Mesti dengan mata yang membengkak ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *