move run (part 2)

Agustus 2009. Saat ini aku tengah duduk di rumah keluarga calon yang sudah dipersiapkan untukku. Duduk berhadap-hadapan dengan ninik mamak beserta penghulu. Dihiasi dengan tenda dan hidangan bajamba di sepanjang rumah. Seolah-olah aku akan dinikahkan hari itu. Dengan seseorang yang sama sekali belum aku kenal baik. Beberapa kali memang dia main ke rumah dan kami bertemu, tapi belum satupun hal yang menarik hati membuatku untuk ingin segera melangkah ke arah yang lebih jauh. Bagiku sulit untuk menerima perencanaan kedua keluarga ini. Pernikahan yang diawali dengan niat untuk materi sangatlah bertentangan dengan hatiku. Di tambah lagi dengan seseorang yang tidak aku sukai kepribadiannya. Begitulah tradisi di kampungku. Mengikat anak dengan pihak wanita mendatangi pihak laki-laki untuk membeli dan meminta. Lengkap dengan pesta dan hidangan khas untuk saling membicarakan adat yang mana yang akan dijalankan.

Yang paling menyakitkan bagiku, karena rencana pernikahan ini adalah rencana untuk bisnis keluarga. Jika aku menikah dengan pilihan abak, akan sangat menguntungkan buat reputasi abak ke depan. Aku tahu amak dan abak bermaksud baik padaku. Aku yakin tidak ada orang tua yang ingin menjebloskan anaknya. Tapi untuk kali ini aku ingin memilih sendiri apa yang ingin aku jalani ke depan. Hanya kali ini. Aku memohon Pada-Nya dalam kerumunan orang yang banyak saat itu. Aku hanya bisa tertunduk diam disamping kedua orang tuaku.

*****

November 2008. Selesai wisuda aku pulang ke kampung halamanku untuk mengajar. Hal itu adalah cita-citaku disaat mulai menginjak tingkat akhir kuliah di salah satu universitas di kota kembang. Kuliah yang aku selesaikan dengan cukup singkat untuk seorang mahasiswa eksak membuatku ingin membagi ilmuku. Tak sabar menahan rindu ingin segera pulang ke kampung halamanku. Tekatku saat itu, aku ingin mengabdi di kampung halamanku, mengajar dan memberikan sepenuhnya ilmuku di tanah kelahiranku.

Tiga bulan sudah dari kepulanganku. Hidupku berjalan biasa dan datar. Berangkat mengajar dan pulang ke rumah seperti biasa membantu amak di rumah. 2/3 gaji bulananku aku gunakan untuk membeli mobil lama abak secara kredit. Begitulah cara amak mendidikku. Mengatur uang agar uang tidak habis terbuang percuma pada hal-hal yang tidak perlu. Membeli mobil menurut amak itu merupakan suatu tabungan. Aku pun menurut. Memang dari semenjak  kecil, aku adalah anak yang sangat penurut dengan orang tua. Termasuk dalam memilih jurusan kuliahku. Akupun mengikuti jurusan keinginan orang tuaku. Hingga aku lulus dan bekerja, aku merasa memang pilihan orang tuaku lah yang terbaik untuk jalan hidupku. 

Di suatu sore, biasanya aku keluar duduk di beranda menikmati keindahan tanaman yang dirawat amak. Sangat menyejukkan mata dan pikiranku. Aku mulai merasa hidupku akan berjalan berulang seperti ini setiap hari. Dari kejauhan aku melihat amak tengah berbincang dengan para tetangga di seberang jalan raya. Hingga muncul satu ide agar aku tak bosan dengan rutinitas itu ke itu setiap harinya. Lalu akupun berlalu masuk ke dalam rumah melewati pemandangan indah langit sore itu. Menjelang maghrib amak ikut masuk ke rumah dan tiba-tiba bertanya padaku,

“Nes, Kau tak punya teman laki-laki?”

“Satu saja tak adakah yang mau main datang ke rumah?”

Aku cukup kaget mendengar pertanyan amak. Padahal amak tahu, sejak aku memilih untuk mengenakan hijab saat SMA, aku memutuskan pacarku. Sejak saat itu sudah tidak pernah ada lagi laki-laki yang main ke rumah sebagai pacar atau teman dekatku. Amak juga mengerti dengan alasanku dulu. Aku ingin fokus belajar dan mengejar cita-citaku. Alasan yang paling bisa diterima amak saat itu. Saat aku memutuskan pacarku yang sekaligus orang yang paling disenangi dan disayang amak. Aku tak tahu kenapa amak begitu suka dengannya. Saat aku putus, amak yang paling remuk dan sedih saat itu. 

Malam itu aku berniat menjalankan misiku. Setidaknya menghindari lagi pertanyaan aneh amak tentang teman laki-lakiku. Aku beranjak ke ruang kerja abak untuk meminjam laptopnya dan menanyakan password wifi rumahku. Cukup membuatku tertawa geli. Lebih dari tiga bulan sudah di kampung halaman. Baru tahu kalau abak memasang wifi di rumah. Aku sama sekali tidak pernah berselancar di dunia maya sejak pulang ke kampung. Pekerjaan yang dulu paling sering aku lakukan di depan komputer saat kos di Bandung, yaitu main ke warnet. Sebuah warung internet yang biasa digunakan anak-anak kuliah untuk mencari info ataupun membuat tugas kuliah. Sudah tiga bulan aku tidak mengecek surat elektronik dalam kotak suratku. Sebuah email dari nama yang sedikit tidak asing bagiku. Membuatku ingin segera membuka pertama dari ratusan surat yang belum dibaca. Ada 3 surat dari pengirim yang sama. Mulai kubuka satu persatu.

*****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *