Move Run (Part 3)

September 2002. Aku kelas 2 SMA dan sudah setahun lebih berhijab. Sudah setahun lebih juga aku memutuskan pacarku yang akhirnya kabur ke Bandung. Aku tidak pernah lagi berpacaran sejak saat itu. Aku pikir dengan mengenakan hijab tidak ada lagi yang berani mengutarakan perasaannya padaku, kecuali saat mau menikah nanti. Tetapi saat ini aku tengah berada di ruangan kelas duduk dibangku kayu paling depan dengan menyandang tas dan memegang setumpukan buku. Saat pulang sekolah tadi seorang teman menjebloskan aku masuk kembali ke dalam kelas yang sudah kosong. Katanya ada yang ingin bicara denganku. Aku memang tidak begitu mengenalnya meski kami sekelas. Di depanku persis, di sebelah pintu masuk seorang anak laki-laki berseragam berdiri mengucapkan sesuatu padaku,

“Hai, aku Hans”

“Kamu mungkin tidak kenal aku, tapi aku hanya mau menyatakan aku suka sama kamu, gak lebih dari itu.”

Selang beberapa waktu aku terpaku, laki-laki itu pergi meninggalkan aku setelah aku menjawab beberapa kalimat jawaban. Lalu sibuk membolak-balikan buku dengan hati penuh dengan tanda tanya.

Beberapa kali aku melihat Hans ada di jam pelajaran Kimia dan Biologi di kelas, tapi sangat jarang di pelajaran lain. Sesekali dia hadir di pelajaran Matematika sebelum akhirnya menghilang kembali. Sempat beberapa kali aku melihat dia sehabis sholat dhuha di mesjid sekolah duduk diam di bangku luar samping kelas. Sambil berjalan kusapa, 

“Hai, kok gak masuk, gurunya udah masuk dari tadi bukan?”, tanyaku ramah sambil tersenyum biasa meyakinkan diri gurunya belum masuk ke kelas.

Dia membalas dengan senyuman tipis dan menjawab,

“Ngapain masuk, gue kan mau jadi dokter”.

“Kalo masuk bakalan bikin gue jadi dokter gak?”

Aku tertawa di dalam hati. Anak yang aneh pikirku sambil tersenyum dan berlalu masuk ke kelas. 

Kelas mendadak rusuh seketika. Mendadak bola-bola kertas aneh bertebaran di mana-mana. Jam pelajaran yang seharusnya Matematika berubah menjadi kelas yang rusuh dan berisik. Aku masih tetap duduk dibangku ku dengan buku terbuka dan sebuah pulpen menari di tanganku. Aku tidak ingin menuliskan apa-apa. Hanya ingin menggambarkan apa yang sedang aku pikirkan. Sambil mulai menorehkan beberapa coretan di kertas. Ada sebuah kertas yang mampir di mejaku. Kumelihat ke sekeliling kelas yang ramai dari mana asal bola kertas itu di lempar, tapi kehirukan kelas membuat semuanya tak terlihat dengan jelas bagiku. Tidak mau direpotkan dengan lemparan-lemparan kertas itu. Aku kumpulkan dan simpan ke dalam laci meja. Dan disaat itulah aku baru menyadari ada seseorang yang mulai menuliskan puisi gombalannya untukku. Aku hanya tersenyum dan membiarkan semuanya berlalu. Hingga aku lulus dan tamat di bangku SMA.

*****

November 2008. Pikiranku masih sedikit terganggu hingga keesokan harinya. Kembali aku mengingat surat elektronik singkat yang kubaca semalam. Hanya berupa sapaan dan menanyakan kabarku. Surat itu masih belum kubalas, karena semalam aku tidur cukup larut merampungkan blog impianku. Aku ingin meluangkan waktu untuk menulis mengeskpresikan diriku di dunia maya. Meskipun pikiranku cukup terganggu dengan surat elektronik itu, tapi aku bingung harus membalas apa. Pikiranku hanya bisa jauh melayang memanggil memori-memori lama di masa SMA.

Jakarta, 10 November 2008

“Assalammu’alaikum warrahmatullahi wabarokatuh

Apa kabar?

Aku hanya ingin sekedar menyapa menanyakan kabar.

Salam 

Hans

*****

2 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *