Setelah tamat SMA aku tak banyak yang tahu tentang keberadaannya. Meskipun kami satu kelas di kelas 2. Namun saat duduk dibangku kelas 3 kami tidak lagi sekelas. Semua berjalan begitu saja. Sejak aku beri penjelasan bahwa aku tidak mau pacaran karena ingin fokus belajar membayar semua ketertingalanku karena kesibukanku di OSIS. Dia tampak menjauh. Aku sibuk dengan keinginan untuk segera lulus dengan nilai yang baik dan melanjutkan kuliah di kota impianku. Dan aku sama sekali tidak mengetahui apapun setelah kejadian di depan kelas waktu itu. Hingga kami bertemu kembali saat aku melanjutkan bimbingan belajar di Bandung, tapi tak lama dia kembali menghilang tanpa jejak. Hanya bayangannya yang sesekali muncul dan lalu kembali tak terlihat.

Sekarang disaat aku telah menyelesaikan pendidikan sarjanaku. Bayangan itu kembali muncul. Disaat aku telah bekerja dan tidak ada lagi alasan sibuk belajar. Tidak ada lagi alasan bagiku untuk menolaknya. Hatiku mulai bergejolak, pikiranku cukup terganggu ketika suratnya kembali datang. Hatiku berkecamuk. Degup jantungku mulai terasa aneh. Perasaan yang sedikit tak biasa bagiku. Surat elektronik yang kedua menyatakan bahwa dia ingin melamarku. Saat ini aku tidak bisa lagi berpikir bahwa dia laki-laki yang aneh. Ya, saat ini aku berpikir dia sangat aneh. Di depan laptop aku hanya bisa terdiam dan membaca suratnya berulang-ulang. Antara percaya dan ragu. Kutarik nafas sedalam-dalamnya. Lalu kembali kuhembuskan seolah dengan cara ini bisa mengusir segala kebingunganku.

****

“Nes, apa Kau mau mak yang carikan Kau jodoh?”, pertanyaan amak terasa aneh di telingaku dan membuatku sedikit tertawa. Amak terlalu khawatir dengan anak wanitanya yang masih berusia 20 tahun awal tidak mempunyai teman laki-laki. 

“Ah, mak. Aku kan baru lulus. Masa mak udah mikirin jodoh-jodohin sih. Aku kan bukan Siti Nurbaya, mak”, jawabku sambil bercanda.

“Lalu apalagi? Kau sudah lulus dan bekerja. Tak baik anak padusi (wanita) lama-lama di rumah, tak terlihat hilal ada laki-laki yang dekat dengan Kau, nanti basi. Apa kau punya calon sendiri? Kenalkanlah dengan amak”, pertanyaan kekhawatiran amak makin berlebihan menurutku. Hingga akhirnya aku menceritakan semua ke amak dan amakpun memaksaku untuk membalas pesannya. Dengan rentetan kalimat nasehat lainnya. Amak pun meminta agar dia segera datang ke rumah. Surat demi suratpun akhirnya saling berbalas. Dan dia menyampaikan akan datang ke rumahku dengan keluarganya pada pertengahan tahun. Dia yang akhirnya aku tahu ternyata menjalankan kuliah di salah satu Universitas Negeri favorit di Ibukota. Juga tengah bekerja di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Aku mulai sedikit tertarik dengan kepribadian dan kegigihannya. Anak laki-laki yang sangat jarang masuk kelas itu akhirnya bisa mewujudkan impiannya kuliah di kampus favorit. Tak heran dulu semasa SMA dia selalu mendapatkan nilai Kimia tertinggi sedangkan dia tidak ikut les tambahan bersama guru yang mengajar. Di kelas pun dia tampak sering tertidur. Menghargai keputusanku dan menjaga jarak agar aku tidak terganggu agar tetap fokus, itulah yang membuat aku mulai tertarik dengan kepribadiannya. Hatiku mulai tertarik dan ingin mencari tahu lebih banyak tentangnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *