Pagi itu terasa berbeda bagiku. Setelah melipat mukena dan sajadah. Aku masih duduk termangu dalam kesunyian pagi yang dingin itu. Lantunan dzikir Alma’tsurat memenuhi ruang di dalam kamarku. Hari ini adalah hari minggu. Dari sinilah awal bermulanya terjadi kekacauan pada diriku. Pagi itu terasa begitu kelabu bagiku. Sesuatu yang rasanya lama kunanti harus berakhir dengan cara yang sangat tidak adil. Keluarga Hans yang baru sebentar duduk di kursi tamu rumah, harus berbalik pulang setelah mendapat perilaku tidak mengenakkan dari abak. Abak menolak terang-terangan lamaran mereka. Abak langsung membahas dan mempertanyakan asal usul demi mendapatkan calon yang punya bibit, bebet dan bobot yang jelas. Di saat keluarga Hans yang datang secara sederhana ke rumah kami ditambah lagi dengan Ayahnya Hans yang sudah tidak ada semenjak dia kecil. Menambah keyakinan Abak untuk menolak lamaran.

Awalnya amak sangat penasaran dan sangat ingin mengenalnya, karena amak sangat tertarik saat aku sebutkan bahwa lelaki yang dulu pernah ke rumah menemui amak memberikan bukulah yang hendak datang melamar. Amak terlihat senang seperti tidak menduga sama sekali. Aku tahu amak sangat mengkhawatirkanku setelah berbincang-bincang setiap sore dengan para tetangga yang menanyakan kapan bermenantu. Amak yang awalnya dapat menerima dengan baik, berubah pikiran secara drastis. Begitu juga dengan abak. Setelah mengetahui status keluarganya, langsung berubah. Aku merasakan ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tak bisa kuungkapkan. Meski daat itu, aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada.

*****

Beberapa minggu setelah kejadian lamaran itu. Amak memintaku berkenalan dengan anak kenalannya. Ternyata amak dan abak sudah menyiapkan beberapa calon untukku. Aku tidak mengerti kenapa bisa secepat itu. Apakah memang calon ini sudah disiapkan sebelumnya dan hal ini yang membuat mereka ragu dengan Hans yang berbeda dengan pilihan-pilihan dari mereka? Aku diminta untuk saling berkenalan dan saling mencari kecocokan terlebih dahulu.

“Kau jalani sajalah dulu, biar kalau sudah cocok, kalian bisa lanjut ke pernikahan”.

Mulai satu persatu aku jalani permintan amak dan abak. Yang selalu menghantui perasaanku karena disetiap kalimat penegasan dari amak dan abak selalu terselip kalimat yang bertentangan dengan hati kecilku.

“Kau tidak akan menyesal dengan si Burhan, dia sudah KABAG di Dinas Pemerintahan. Hidup kau akan bahagia.”

Belum lagi dengan calon yang orang tuanya sangat berpegaruh di kotaku. Atau dengan piihan terakhir dari orang tuaku yaitu bawahan abak di kantor yang diberi iming-iming dia memiliki karir dan masa depan yang bagus. Semua bayangan kebahagiaan yang digambarkan oleh amak dan abak tidak jauh-jauh dari harta dan jabatan. Bahwa hanya dua itulah yang bisa memberiku kebahagiaan.

Mulailah kejadian yang mengesalkan, menyedihkan, hingga memalukan disaat aku menjalani penjajakan dengan orang-orang pilihan orangtuaku. Ada yang datang ke rumah hanya duduk berjam-jam mengobrolkan kehebatannya di kantor dan banyaknya wanita yang mengaguminya. Lalu menatapku dalam-dalam hingga membuatku risih ingin segera memintanya pulang. Ada yang langsung mengajak makan ke luar. Tanpa perkenalan tanpa apa-apa dan abak pun mengijinkan, hingga aku harus memaksa adikku untuk ikut bersama. Terlihat wajah kesalnya karena aku berangkat tidak sendiri. Dan dengan pilihan terakhir amak abak yang aku masih belum bisa menemukan kecocokan meski aku merasa orangnya cukup baik. Tapi laki-laki yang bisa memimpin aku kelak ke depan belum bisa aku temukan dari semua calon yang diberikan amak dan abak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *