Pagi itu Abak kembali membentakku. Bahkan hampir menamparku. Tak tahu apa yang harus aku lakukan. Permasalahan ini tampak begitu rumit bagiku hingga tak satu pun solusi yang bisa terlintas di pikiranku. Aku merasa buntu. Abak membanting pintu kamarnya setelah meninggalkanku duduk terpaku di ruang tengah. Seragam mengajarku tampak begitu lusuh dengan jilbab yang sudah tidak karuan. Harusnya aku harus berangkat kembali ke sekolah untuk mengajar siswa-siswa yang akan mengikuti Olimpiade Fisika siang itu. Namun aku sudah menduga setiap kali aku bertemu dengan abak ataupun amak pasti berakhir dengan adu mulut. 

Abak mengurungku di dalam kamar. Dan mengunciku dari luar rumah. Pikiranku makin kalut dengan kondisi yang kembali menekanku. Aku tertunduk duduk dipojokan kamar masih mengenakan seragam mengajar. Kepalaku sedikit berkunang-kunang dengan pandangan gelap dan berbintang. Baru teringat aku belum makan apapun sejak sore kemarin. Fisikku lelah. Bathinku lebih lelah. Untuk beranjak ke kasurpun rasanya aku tak mampu. Abak dan amak sengaja mengunciku di rumah agar aku tidak kemana-mana dan tetap berada di rumah. Kesibukanku mengajar di sekolah swasta kerap membuatku lupa akan segala permasalahanku dan bisa membuatku pulang disaat matahari sudah terbenam. Hal itu membuatku merasa nyaman karena tidak akan bergesekan selalu dengan kedua orang tuaku. Beberapa kali ajakan amak dan abak aku tolak secara halus memang dengan alasan kesibukanku. Tapi tidak dengan sore itu, abak yang berencana membawaku ke rumah keluarga yang sudah di calonkan denganku. Sudah tidak bisa menunggu. Mereka akan melakukan ikatan pertunangan tanpa persetujuanku. Adat dalam keluargaku ditekankan oleh amak bahwa anak wanita tidak boleh menentang keinginan orang tua. Anak wanita haruslah menurut seperti yang dilakukan amak dahulu saat dijodohkan dengan abak.

“Tak tahu di rundiang kato putuih

Tak tahu di kieh kato sampai”

(tak tahu pada rundingan kata putus

Tak tahu pada kiasan kata sampai).

*****

Sepulang mengajar aku menuruti keinginan abak. Mendatangi psikolog dan seorang ustadz yang sudah direkomendasikan abak. Oh iya, satu lagi. Seorang mamak panghulu nagari yang sangat dihormati abak dan abak berharap pikiranku bisa terbuka setelah bertemu dengan mereka semua. Pertemuan pertamaku, dengan psikolog rekan abak di dinas pemerintahan yang aku sendiri awalnya tidak terlalu tertarik berbicara dengannya. Tapi demi mengikuti kemauan abak. Aku pun mengetuk pintu rumahnya. 

Terlihat seorang wanita berusia matang membukakan pintu. Usianya terlihat jauh lebih tua dariku. Tapi aku tahu dia tinggal seorang diri di rumah itu. Dia seorang psikolog yang bertugas di rumah sakit umum di kotaku. Memberi motivasi dan semangat bagi orang yang sakit untuk kesembuhan sakitnya. Dan bagi pegawai pemerintahan kota yang sedang punya masalah dalam kehidupannya. Cukup banyak obrolan kami sore itu. Pembicaraan yang awalnya kaku dan rasa tidak percayaku menemuinya mulai sedikit cair hingga akhir. Cukup lelah dengan panjang pembicaraan aku pun menemukan titik temu. Sedikitpun tak ada yang salah dengan pilihan dan caraku menurut uni psikolog itu. Hanya dia menyarankan aku untuk bisa meyakinkan abak dengan pilihanku. Meski akhirnya aku merasa tidak ada harapan dari saran yang dia berikan, karena au tahu sendiri abak orangnya seperti apa. Dan uni itu juga sangat mengenal abak. Hingga di akhir cerita aku beru mengetahui ternyata si uni dulu pernah menghadapi masalah yang sama denganku, lari dari perjodohan hingga akhirnya dia menetap bekerja di kotaku.

Pertemuan kedua dan ketiga hampir sama bagiku. Aku cukup merasa lebih tenang dan sedikit lega dalam bernafas. Awalnya aku mengira aku akan di ruqyah oleh sang ustadz, karena memang begitu abak menyebutnya di rumah.

“Kau itu perlu di ruqyah, setan semua yang menguasai pikiran kau hingga kau tak mau mendengarkan lagi apa yang amak dan abak sampaikan”

Di tempat ustadz kenalan abak aku malah dberi nasehat yang sangat berarti bagiku. Di saat pulang aku diberikan sebuah buku dan dia mendo’akan yang terbaik untukku.

Sejak penolakan lamaran dari kedua orang tuaku. Akupun tak bisa berbuat apa-apa. Hidup harus tetap lanjut berjalan dan kalau pun aku berjodoh dengannya. Aku yakin Allah sudah siapkan skenario terindah untukku nanti. Aku pun menyibukkan diri kembali dengan rutinitas mengajarku.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *