Sikap anak yang paling sering kita hadapi sehari-hari adalah menangis. Apalagi disaat anak masih belajar mengenal emosi. Belum bisa mengungkapkan perasaan apa yang ada di dalam hatinya. Dan biasanya ini berlaku untuk anak yang berada di fase mulai merasa, disaat berlatih berbicara tapi belum bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. Biasanya para bunda pasti mencoba menemani anak untuk bisa mengenali apa yang mereka rasa. Apakah itu marah, sedih, kesal, kecewa, dan sebagainya.

 
Akan tetapi bagaimana menghadapi anak yang memiliki templet alami yang berbeda. Dalam menangani emosi mereka pasti akan berbeda pula.
 
Bagaimana caranya?
Terlebih dahulu kita harus bisa mengenali jenis emosi dan tangisan anak. Apakah bentuk emosi atau bentuk strategi untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
 
Misal, anak menangis karena ingin menonton TV.
Tangisan yang sering dilakukan Kakak adalah tangisan strategi. Dan cara menyikapinya cuma dengan mengabaikan lahir dan bathin. Karena jika menangis strategi ini tidak diabaikan lahir dan bathin oleh sitarget (bunda), maka si anak akan merasa trik yang dia lakukan berhasil. Bisa membuat anak mengulang kembali perilaku yang sama. Jika ingin meminta sesuatu, aku akan menangis. Karena bunda pasti akan menuruti keinginanku saat aku menangis.
 
Contoh inilah yang paling sering bunda lakukan di rumah menghadapi trik-trik tangisan kakak ataupun adik. Karena bunda masih dalam tahap belajar mengatasi anak templet resiko seperti adik dan templet benefit seperti kakak. Kadang masih ada trial dan errornya.
Namun, hasilnya sedikit demi sedikit mulai terlihat.
Mulai dari kakak yang jadi ikutan abai lahir dan bathin ke adik ketika adik yang masih berusia 2tahun mulai berstrategi dalam meminta sesuatu. Yaitu menangis. Menguji orang di sekitar apakah akan memberikan apa yang dia inginkan.
 
Adik menangis meraung dan berguling. Tantrum kalo bahasa keren orang-orang.
Seperti biasa, jika tidak ada sesuatu yang membahayakan.  Dan jika memang tangisannya itu cuma strategi atau taktik. Ya bunda cuekin dulu. Jika tangisannya emosi. Ya tetap dibiarkan dulu adik mengeluarkan seluruh emosinya, agar tidak tersendat. Jika adik sudah selesai menjalankan prosesi menangis, barulah diberikan penjelasan dan apresiasi. “Adik sudah tenang dan tidak menangis lagi, ayo ceritakan adik mau apa? Mau menonton? Bunda bolehkan karena adik sudah lebih baik”.
 
Di lain waktu, ketika adik meminta perlindungan atau pembelaan ke bunda saat bermasalah dengan kakak. Bunda harus berusaha senetral mungkin baik itu di perasaan (hati/bathin) dan wajah (lahir). Sampaikan bahwa masalah adik dan kakak coba diselesaikan dulu berdua. Bunda tidak ikut campur karena itu masalah adik dan kakak. Berusaha membiarkan mereka mengatasi terlebih dulu masalah yang mereka hadapi. Jika mengalami jalan buntu. Bunda baru ikut membantu menengahi/ menjadi wasit dan membantu menawarkan solusi.
 
Di saat berebut mainan saat bermain bersama. Terjadi percekcokan dan butuh wasit. Tidak ada yang merasa terbela meski berusaha mencari pembelaan. Yang terjadi malahan akhirnya si anak akan mencari permainan masing-masing. Disini bunda juga berusaha mengenalkan konsep kepemilikan. Mana mainan adik dan mana mainan kakak. Serta mana yang kekuasaannya ada pada bunda. Ketika kita bisa menawarkan solusi misalkan bermain bersama-sama, biasanya akan lebih menyenangkan juga bagi mereka.
 
Bisa jadi anaknya tetap bersikeras mempertahankan keinginan ke salah satu pihak. Maka wasit yang berkuasa dan bisa menyita mainan yang diperebutkan hingga kondisi berdamai. Karena sifatnya mainan itu sudah punya kepemilikan masing-masing. Yang sudah diberikan bunda sama Adha. Jadi yang memberikan mainan berhak menyita barang yang diperkarakan.
 
Setelah beberapa kali cara untuk membriefing kakak. Kakak yang sudah bisa diajak kompromi dan negosiasi mulai paham dengan kepiawaian dedek dalam menangis strategi.
Kakak pun akan ikutan berusaha mengabaikan tangisan strategi adik. Dan menjelaskan tanpa emosi tentang hak milik dan meminjam barang orang lain (ini idealnya).
Misalkan, ini mainan kakak. Yang ini punya adik. Mengajarkan konsep kepemilikan. Jadi, adik pun harus belajar mengerti jika mereka sudah punya milik masing-masing dan pantang buat merebut punya orang lain tanpa izin. Atau kakak langsung cuek lahir bathin ketika adik yang masih belajar dan belum mengerti tentang kenapa tidak boleh merebut mainan. Belum mengerti kepemilikan. Adik akan menangis strategi sebagai senjata biar dipinjamkan mainan.
 
Adik akan diam dengan sendirinya dan bermain bahkan tertawa lagi seperti mood awalnya. Ketika sadar tangisannya tidak mengubah keinginannya. Bahkan jadi mengerti untuk memiliki sesuatu punya orang lain harus dengan meminta izin.
Yang pasti semuanya butuh proses belajar.
Adik yang sedang belajar kecewa, belajar tentang kepemilikan dan meminta izin. Bisa saja tidak terima dan kecewa. Tapi disitulah proses belajarnya.
 
Semoga masih bisa terus belajar dan menggali bagaimana menghadapi anak yang bertemplete resiko ini. Sekian ceritanya. Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *