Pacu laju mobil travel yang aku tumpangi membuatku sedikit mengantuk. Hampir seluruh penumpang di dalam mobil ini pun aku lihat tertidur lelap. Tapi tidak begitu denganku. Meskipun mataku sangat lelah dan ingin tidur untuk beberapa jam. Namun aku tetap tidak bisa. Perjalanan hingga ke bandara paling cepat 2 setengah jam. Masih sekitar satu setengah jam lagi, tapi entah kenapa aku merasa perjalanan ini terasa sangat jauh dan lama.

Kembali kubuka beberapa lembar kertas yang sudah aku persiapkan dari rumah. Kubuka kembali seakan tidak percaya. Surat kelulusan untuk melanjutkan S2 di kampus impianku sejak lama. Kubaca berulang-ulang. Lalu surat panggilan kerja di lembaran kedua. Serta tiket pesawat ke kota ibu kota pada lembaran ketiga. Kubolak-balik lembaran kertas itu untuk menghilangkan rasa gugupku karena telah meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan amak dan abak. Keputusan yang sangat beresiko, tapi tetap harus aku ambil untuk masa depanku.

Sesampainya di ibukota. Aku langsung menghubungi etek Ar adiknya amak. Kusampaikan bahwa aku kabur dari rumah. Dan aku sedang butuh tempat untuk menginap. Tanpa banyak bertanya etek Ar langsung memberikan alamat dan aba-aba kendaraan yang harus aku naiki untuk sampai ke tempatnya. Seolah etek ar ingin aku segera sampai di kediamannya. Mataku cukup sembab untuk menghilangkannya aku mencoba berbenah diri ke toilet andara sebelum meleuncur ke rumah etek Ar.

****

Pagi itu aku pamit ke etek untuk mengurus pendaftaran ulang ke kampus Pasca Sarjana. Berbekal sedikit uang belanja dari etek aku pun pamit setelah dipaksa etek untuk menyantap sarapan yang sudah disiapkannya. Tak banyak pertanyaan dari etek padaku dari sejak kedatanganku ke rumahnya. Aku yakin etek sudah berkomunikasi dengan amak di kampung. Etek cuma melemparkan senyuman dan tatapan kasiannya kepadaku. Walau bagaimanapun inilah keputusanku. Aku betul-betul tidak sanggup untuk berlama-lama bertengkar dengan amak dan abak. Aku tidak bisa untuk memberi jawaban tidak, karena bagi Abak jawaban iya bagi anak wanita di minangkabau dalam perjodohan seakan sudah diharuskan. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menga,nil keputusan ini untuk move run. Ini bukan lari dari masalah atau kenyataan. Tapi ini jalan terbaik yang aku pilih untuk bisa saling menenangkan pikiran sejenak. Lelah dalam setahun terakhir tarik ulur dengan abak dan amak di rumah. Aku berharap ini salah satu jawaban dari Allah atas sholat istikharah yang aku lakukan.

Setelah menyelesaikan segala urusan di kampus. Aku bertolak menuju halte menunggu bus kuning yang lewat di depan jurusan. Kulirik jam di telepon genggam yang sedari tadi ku otak atik sambil menunggu bus yang lewat. Matahari masih sangat terik untuk jam menuju ashar ini. Perutku pun mulai terasa lapar dan aku pun memutuskan untuk mencari warung atau tempat makan di sekitar kampus. Aku duduk di atas trotoar dekat parkiran sambil menikmati segarnya es the manis di siang itus. Di depanku seorang ibu seusia amak tengah mengambilkan sejenis makanan khas yang aku tidak tahu pasti namanya, kalau dikampungku orang sering menyebutnya dengan lontong pical. Tapi ada yang berbeda dengan beberapa komposisi pelengkapnya menurutku. Ah, yasudahlah. Yang penting perutku bisa kenyang untuk bisa sampai pulang ke bekasi. Aku pun mulai menikmati makananku. Dalam kerumunan orang yang mulai berlalu lalang di parkiran kampus. Aku melihat seseorang yang wajahnya tak asing bagiku. Seseorang lebih kurang 6 tahun tidak pernah bertemu. Meski dia mengutus keluarganya datang ke rumahku saat itu. Namun aku tidak begitu yakin mengapa aku harus bisa bertemu di saat dan waktu yang seperti ini. Hanya Allah yang bisa menguatkan hati, karena itu memintalah selalu kepada-Nya agar hati kita tetap dalam kebaikan.

****

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *