Kakak mau jadi fireman bunda. Kakak mau jadi kayak bunda. Pernah gak sih, anak tiba-tiba menyebutkan cita-citanya pengen jadi apa, yang menurut kita gak masuk akal. Bagaimana kita menyikapinya?

Kaget? Lah kok mau jadi babysitter?

Bunda kakak mau jadi dokter, dedek jadi nurse ya dekk.. yaaa… (suatu hari). Besoknya, bunda kakak mau jadi teacher.

Cuek? Ah, paling nanti berubah lagi.

Atau, menginterupsi? Jangan jadi supir lah. Mending jadi dokter.

“Wahhh, kenapa kamu mau jadi kayak bunda?” (Sambil was-was dalam hati, kamu harus bisa lebih dari bunda. Ambisi bunda pun keluar ke permukaan🤣).

Dan banyak lagi cita-cita yang membuat kita mengernyitkan dahi. Sebagian dari kita mungkin terima-terima saja jawaban anak, karena berpikir masih kecil. Itu kalau jawaban mereka masih masuk logika kita. Seperti jadi superhero atau jadi astronot mau ke luar angkasa. Masih okelah ya cita-cita yang sepertinya dekat dengan keseharian mereka. Tapi kadang, jika jawaban anak mengejutkan kita sebagai ibunya, seperti

“Aku mau jadi kayak mbak, yang kerjanya sama mama.”

“Mau jadi supir truck atau supir grab.”

“Mau jadi penganten.”

Kadang secara tidak sengaja kita berekspresi berlebihan. Tahan… tahan dulu jangan kaget. Karena setiap pekerjaan masing-masing punya manfaat. Kalau tidak ada mbak yang bantu-bantu di rumah, mungkin banyak ibu-ibu yang mendapat kesulitan, apalagi jika ibu bekerja di kantor.

Kok jadi guru? Kok jadi pemadam kebakaran? Memang kalau jadi guru kenapa? Jadi pemadam kebakaran kenapa? Tanyakan kembali ke diri kita masing-masing. Pekerjaan yang banyak berjasa bagi banyak orang kok. Kenapa harus protes? Sesederhana itu ya anak-anak mikirnya. Jadi kita harus dapat menahan diri untuk tidak merendahkan jenis pekerjaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita.

Berikut dikutip dari psikolog di rumah daendelion. “Karir adalah pilihan anak, bukan orang tua. Orang tua tentu punya suara untuk memberikan masukan. Tetapi keputusan akhir tetap perlu berada di pundak anak. Karena toh dia yang akan menjalani.”

Padahal dulunya. Saat kita memiliki cita-cita sendiri. Memiliki keinginan sendiri untuk memilih jurusan kuliah, lalu ada campur tangan orang tua disana, kita kesal. Kita bertekad tidak akan mengusik keinginan anak nantinya kelak kalau sudah punya anak.

Jadi sekarang tau dong harusnya bagaimana menyikapinya?

Sebagai orang tua memang kita tidak berhak mendikte seperti apa anak nantinya. Keputusan untuk memilih mereka mau jadi apa dan seperti apa, ada pada diri mereka sendiri. Kita hanya bisa memberikan masukan, memberikan gambaran seperti apa pekerjaannya. Resiko yang mereka hadapi, baik dan buruknya. Lebih baik kita gali sama-sama dan ajak anak mencari tahu sama-sama. Ngapain aja ya?

Daripada kaget dan protes sama jawaban sang anak.

Lebih baik kita bertanya lebih dalam. Memang kalo kamu jadi fireman, yang menarik bagian mana?

Kalo jadi supir, kamu tertarik sama apanya?

Kadang mereka menjawab, biar aku bisa mengantar bunda jalan-jalan kemana aja. Penggalian lebih dalam akan lebih baik. Sambil mereka juga akan menggali. Kalau jadi profesi A, mereka akan seperti apa nantinya. Harus ngapain aja, apa yang akan mereka dapatkan dari profesi itu. Dan sebagainya.

Kenapa kamu mau jadi supir? Nanti kalau kamu jadi dokter kamu juga bisa bawa mobil sendiri kan gak mesti jadi supir. Kenapa kamu mau jadi musisi? Emang bisa punya banyak uang nanti? Ngapain kamu jadi penulis. Gak jadi dokter aja? Gak jadi pengusaha aja? Duitnya banyak loh.

Akhirnya secara gak langsung kita mengajarkan ke anak bahwa parameter keberhasilan dalam kehidupan itu adalah uang.

Mengutip dari rumah daendelion:

“Jadi saat anak bilang mau jadi mbak, kasir, petugas kebersihan atau pekerjaan lain yang sebenarnya kurang kita setujui. Yang bisa dilakukan adalah bertanya serta mendampingi anak untuk bersama-sama mencari informasi yang membantu untuk pengambilan keputusan. Involve, not in control. Advice, not decide. Apalagi disaat anak yang masih usia dini dan masih berubah-ubah. Ohh kakak mau jadi art, apa kak yang menyenangkan dari pekerjaannya. Supaya menjadi ART yang baik kakak harus apa? Semakin anak besar dia akan semakin memahami bahwa setiap pekerjaan akan punya value yang berbeda-beda di masyarakat. “

Memang semua pekerjaan yang disebutkan oleh anak tadi merupakan hal yang sangat berarti dan keren bagi mereka. Kadang sebatas itu tahunya, terlihat keren dimata mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *