Oleh: Mesa Irawan

Pagi yang melelahkan. Kepalaku sedikit pusing dan badan terasa hangat. Pandanganku masih berkunang-kunang. Kupaksakan tubuhku bangun dan duduk di pinggir kasur. Dengan mata yang masih setengah terpejam, aku merasakan ada  perasaan nyaman dan bahagia yang tidak biasanya aku rasakan. Cukup aneh, gumamku dalam hati. Perasaan apa ini, mengalahkan perasaan tidak enak badan pada pagi itu. Lalu aku benar-benar bangun dari tempat tidurku dan bergerak menuju kamar mandi untuk melaksanakan sholat subuh. Hari itu tepat seminggu setelah kami pulang liburan dari kota Kembang. Perasaan yang agak berbeda dari biasanya tadi, membuat alarm alamiahku sebagai seorang wanita menjadi penasaran, membuatku ingin segera berlari ke apotek terdekat dari rumah. Kuselesaikan secepat kilat pekerjaan rumahku pagi itu. Memasak, memandikan dan menyuapi sang kakak. Lalu aku berjalan ke apotik paling dekat yang jaraknya sekitar 500 meter.

Keesokan harinya, subuh-subuh aku bangun dan tespek sendiri di kamar mandi dan ternyata benar dugaanku, hasilnya positif. Mataku berkaca-kaca dan setengah berlari aku ke kamar untuk memberitahu suami. Suatu hal yang sudah tidak janggal sebenarnya, karena ini berarti kehamilan anak ketiga kami. Sebelumnya aku sempat keguguran untuk anak pertama kami. Namun aku tak menyangka Allah akan memberi amanah untuk kehamilan ketiga lebih cepat dari perkiraan kami, karena dari jarak kehamilan pertama yang keguguran hingga kehamilan berikutnya cukup lama kami nantikan. Disaat aku menyampaikan kondisiku siap jika diberi anak lagi pada suami. Ternyata Allah kasih aku kepercayaan langsung.

Dari situlah aku mulai mencari informasi tentang kehamilan sehat dan melahirkan normal setelah sesar atau yang populer disebut dengan VBAC (Vaginal Birth After Cesar). Aku mulai browsing di dunia maya setiap malam. Mencari komunitas yang bisa memberiku info untuk melahirkan secara nyaman dan aman sesuai keinginanku. Minimal aku bisa menjalani kehamilan yang sehat dulu, untuk bisa lahiran normalnya bagiku itu bonus, karena aku belum tahu banyak ilmunya saat itu. Jadi akupun belum yakin apakah aku bisa menjalaninya atau tidak.

*****

Seiring bertambahnya usia kehamilanku. Aku pun mulai dihantui perasaan cemas. Memikirkan mengurus dua anak yang sama-sama BATITA nantinya. Setelah lahiran sudah pasti aku belum bisa banyak melakukan apa-apa. Jahitan yang belum kering. Perut yang pasti rasanya campur aduk setelah melahirkan. Semuanya berkecamuk di dalam pikiranku.

“Ayah, nanti kakak gimana? Pas lahiran nanti kita gimana? Aku nggak mau merepotkan banyak orang. Aku nggak mau bikin Ibu menunggu lama lagi untuk proses kelahiran anak kita, seperti saat lahiran anak pertama kita dahulu. Kalo mama, aku udah sangat yakin nggak akan mau dan bisa untuk melihat proses anaknya melahirkan cucunya. Mama itu penakut, aku paham banget sama mama. Pada saat kakakku dulu lahiran, yang menemani kakak saat kontraksi hingga anaknya lahir itu aku. Sedang mama menghilang entah kemana. Pas anak kakak udah lahir dan semua prosesinya selesai, baru deh mama muncul dengan wajah sumringah, tapi dengan sisa muka pucat pasi.”. Jelasku panjang lebar pada suami.

“Ya sudah, kalo kita bagi tugas aja gimana? Saat lahiran nanti, Ayah mendampingi kakak. Bertugas untuk mengurus segala macam kebutuhan kakak. Sekaligus menjelaskan ke kakak kondisi bunda yang mau melahirkan adik. Kakak akan punya adik sekaligus teman. Kakak pasti senang.”, jawab suami optiis. Aku jadi teringat semangatnya kakak saat diberi tahu bahwa di dalam perut bunda ada adik, dan kakak sebentar lagi akan punya teman main. Kakak yang selama ini menemani bunda kesana-kemari saat kontrol adik. Menemani bunda latihan yoga. Lalu menemani bunda yoga di rumah sambil ngobrol sama adik. Kakak yang sering mencium dan mengajak ngobrol adik di dalam perut bunda. Kehamilan kali ini rasanya memang luar biasa bagiku. Terharu dengan sikap sang kakak. yang sangat pengertian dan romantis ke bundanya.

*****

Menjelang memasuki bulan perkiraan lahiran adik. Keraguan dan keyakinan tetap muncul silih berganti dalam benakku. Bagaimana tidak, ada saja yang kadang membuat semangatku kendor. Tapi, lagi-lagi kucoba pompa kembali setiap rasa itu muncul, karena aku cukup tahu diri. Nanti saat melahirkan aku tidak bisa mengandalkan siapa-siapa. Begitupun sesudahnya. Aku harus menguatkan tekad untuk menjalani kesepakatan membagi posisi pada saat proses lahiran.

Lalu kembali aku teringat perkataan banyak orang disekitarku. Disaat aku melahirkan anak pertama dengan sesar. Banyak nada miring yang datang silih berganti. Mereka sering berkata bahwa melahirkan secara sesar itu belum sepenuhnya menjadi seorang ibu. “Lahirannya lewat jendela ya? Nggak lewat pintu. Nggak bisa Menyusui anak langsung dong sehabis lahiran, kan nggak boleh. Belum sepenuhnya merasakan perjuangan sebagai seorang ibu dong ya. Memang kendalanya kenapa tidak bisa normal lahirannya?”, dan pertanyaan sejenis lainnya yang nadanya cukup mirip ditelinga seorang ibu yang baru selesai berjuang melahirkan anaknya. Kekuatan dan motivasi diri setelah mengingat semua itu membuatku semakin bersemangat kembali untuk bisa melakukan VBAC.

Pengalaman melahirkan anak pertama secara sesar itu banyak jaga-jaganya. Banyak takutnya. Ditakut-takuti juga oleh lingkungan sekitar karena jahitannya belum kering. Lalu disuruh minum pil pengering, dan kalimat kontra juga ada, dari yang tentang pil pengering jahitan bisa membuat asi kering dan segala macam kalimat-kalimat yang membuat aku sedikit paranoid. Kadang suka ketakutan sendiri tak beralasan. Tiba-tiba menangis sendiri karena aku merasa gagal. Mulai diserang babyblues di hari-hari pertama pasca melahirkan itu sudah cukup membuat kondisiku drop. Ditambah lagi dengan perkataan orang-orang sekitar tadi.

Belum lagi dilain waktu ada yang mempermasalahkan tentang bagaimana menggendong anak kalo sesar. Kalo lahiran sesar lagi, bagaimana kalo si kakak juga minta digendong? Bagaimana cara mengurus mereka berdua dengan pemulihan yang agak lebih lama? Bagaimana nanti mengurus pekerjaan rumah dan anak-anak? Semua datang silih berganti dalam pikiranku.

*****

Suatu malam secara tidak sengaja aku melihat linimasa salah seorang kenalanku di salah satu akun media sosialku. Mbak Rani, begitu aku memanggilnya. Di linimasanya mbak rani, aku menemukan pembahasan tentang VBAC, info yang selama ini aku cari-cari. Mbak rani yang belum begitu lama kukenal, ternyata juga melahirkan  normal anak keduanya setelah yang pertama sesar. Berkenalan lewat event masak buat MPASI anak. Kami satu tim pada saat memasak. Akupun munghubungi mbak Rani dan menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan tentang VBAC. Dia memberikan banyak info dan mentransfer energi positif kepadaku. Untuk bisa memberdayakan diri dan yakin bisa melahirkan normal setelah sesar.

Lalu aku mulai update ilmu tentang komunitas lahiran secara gentle. Komunitas yang membantu para ibu utuk memberdayakan dan mengoptimalkan diri sepenuhnya dalam menjalani proses kehamilan dan menghadapi kelahiran. Yakin dan percaya bahwa setiap tubuh manusia sudah disetting oleh Sang Pencipta untuk bisa melahirkan secara alami. Kekuatan pikiran yang kita rancang sendiri untuk bisa mempengaruhi cara berpikir kita agar lebih giat berusaha. Memberi afirmasi positif ke diri sendiri, agar yakin sebenarnya tubuh kita ini sangat bisa melakukannya. Lalu pada akhirnya untuk urusan hasil, kita berserah kepada Yang Kuasa. Mengoptimalkan kekuatan diri dan berselaras dengan alam. Niscaya tidak akan ada yang sia-sia atas usaha maksimal kita.

Lega rasanya ketika bertemu dengan komunitas yang membawaku pada keyakinan dan pemberdayaan diri untuk bisa melakukan VBAC. Ditakdirkan untuk bertemu dengan mbak Rani. Bisa banyak mendapatkan info tentang dokter-dokter dan rumah sakit yang support normal di sekitar daerah tempat tinggalku. Aku kumpulkan dan tulis satu persatu datanya hampir setiap malam. Hingga akhirnya saat itu aku putuskan untuk bertemu salah seorang dokter yang mendukung lahiran normal di rumah sakit tempat aku melahirkan dahulu. Setelah melakukan perjanjian hingga akhirnya aku bertemu dengan sang dokter. Tidak perlu berkonsultasi lama-lama ternyata dengan sang dokter tersebut. Ketika aku sampaikan keinginanku untuk ingin melahirkan normal untuk anak yang kedua ini. Sang dokter tak banyak basa-basi hanya dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan ringan, lalu menjelaskan kalau aku sebenarnya memenuhi syarat melahirkan normal untuk anak kedua.

Sempat ragu pada saat itu, sempat kurang percaya dan yakin apakah benar yang dikatakan oleh sang dokter. Hingga aku pun teringat perkataan suami, ketika kita ingin dibantu oleh orang lain, berikanlah kepercayaan sepenuhnya kepada orang tersebut untuk membantu kita. Serahkan sepenuhnya, percayakan pada mereka. Kalau tidak yakin dan percaya dengan orang yang akan membantu kita, akan percuma saja, semua akan sia-sia, karena kita sendiri tidak yakin sama dokternya, bagaimana kita bisa menyerahkan tindakan-tindakan yang akan dia lakukan kepada kita. Ketika mempercayakan semua pada dokternya, disaat itulah kita sudah bertawakal tentang bagaimana hasil yang akan diberikanNya. Tentunya setelah kita melakukan semua usaha semampu kita.

Setelah bergabung dengan komunitas lahiran secara gentle, pikiranku makin terbuka. Di dalam komunitas ini kita bukan langsung menghakimi sendiri bahwa, lahiran secara normal itu lebih baik dibandingkan melahirkan secara sesar. Bukan berarti jika kita melahirkan secara sesar dengan kondisi tertentu yang memang tidak memungkinkan kita untuk tetap bertahan melahirkan secara normal, membuat kita berkecil hati dan merasa lebih rendah. Semua sama-sama penuh perjuangan. Sama-sama butuh pengorbanan yang tidak sedikit. Dalam komunitas inilah akhirnya saya paham. Apapun proses melahirkan yang akan kita lewati nanti, semuanya sama dimata Tuhan, yang membedakan hanya proses dan cara melahirkannya saja. Jadi melahirkan baik secara normal ataupun sesar. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghadapinya dengan tenang. Bisa berserah kepada Tuhan. Bisa memberdayakan diri kita sepenuhnya untuk yakin dan percaya bahwa setiap tubuh manusia sudah disesuaikan sedemikian rupa untuk bisa melahirkan, baik secara normal ataupun jika kita memiliki resiko yang lebih besar jika tetap bertahan normal, maka melahirkan secara sesarpun, sudah pilihan jalan dariNya. Sekarang bagaimana kita menata kekuatan pikiran yang diberikan Tuhan untuk kita, agar bisa memaksimalkan diri melewati proses kelahiran dengan alami. Mensugesti diri sendiri bahwa proses melahirkan itu tidak semenakut apa yang kita pikirkan, yakin bahwa kita bisa melewati persalinan dengan alami. Menata dan mempengaruhi cara berpikir kita sendiri, itu intinya. Kalau kita yakin bisa. Insyaallah semua akan berselaras dengan takdir dariNya. Menyerahkan seluruhnya kepada sang Maha Penentu, sang Pemberi takdir kehidupan manusia. Niscaya tidak akan ada yang sia-sia atas usaha maksimal kita.

            Dalam komunitas itupun akhirnya aku mulai memberdayakan diri sepenuhnya untuk bisa menentukan langkah-langkahku ke depan. Bagaimana cara-caranya agar tubuhku bisa lebih optimal dalam mempersiapkan kelahiran normal. Aku mengevaluasi kembali apa-apa saja faktor yang membuatku bisa melahirkan sesar pada kelahiran sebelumnya. Apa karena tidak ada ilmunyakah atau karena faktor resiko yang memang tidak memungkinkanku untuk memaksa lahiran secara alami. Semua mulai aku pelajari satu persatu. Dari situ aku makin paham dan mengerti tentang kekurangan diriku sendiri.

Lewat kegiatan yoga yang aku jalani setiap minggu. Aku bertemu mbak Diana, seorang instruktur yoga dari komunitas yang aku ikuti. Dalam setiap kegiatan yoga yang kami lakukan setiap minggu pagi, mbak diana memberikan tips dan cara-cara untuk memaksimalkan diri dalam menghadapi persalinan alami. Apa-apa saja yang bisa dilakukan dalam menghadapi setiap kontraksi, mengenali rasanya, memahami gelombangnya dan mempersiapkan diri untuk menghadapi kelahiran anak dengan nyaman.

Sampailah pada waktunya, proses menjelang melahirkan pun tiba. Sesuatu yang tidak nyaman mulai aku rasakan. Perut mengeras setiap beberapa menit sekali. Bagian bawah vagina sudah sangat tidak nyaman. Sesuatu yang berat dan sensasi sundulan seolah ada yang hendak keluar pun mulai terasa dari sejak awal kehamilan menginjak usia sembilan bulan.

“Ayah, di celana dalamku udah ada bercak darah…lumayan banyak nih, kayak darah haid, sama kontraksinya udah teratur deh kayaknya”, dengan mata berbinar-binar aku memberi tahu suami. 

“Hah?? Beneran?? Yasudah kita ke rumah sakit sekarang!!!”, jawab suami tak kalah semangat namun terdengar sedikit bergetar dan tertahan tetapi cukup tegas dan keras ditelinga ku. 

Aku tidak tahu, apakah dia grogi atau cemas, karena yang terlihat dari cara dia bersikap tenang membuatku sedikit rileks dan santai. Ini bukan proses kelahiran anak pertama kami, tapi ini pertama kali kami menghadapi situasi sulit hanya bertiga. Tanpa ada satu orang pun diantara kami yang tahu termasuk keluarga. Perencanaannya pun sudah cukup matang rasanya kami rapatkan setiap malam menjelang kelahiran sang adik. Suami pun menggendong anak pertama kami, lalu menyalakan mesin mobil. Aku masih bisa melihat kakak yang tetap ceria dan membawa satu mainan kesukaannya saat digendong ayahnya.

Kontraksinya makin lama makin berasa. Setiap getaran dan gelombang yang diberikan sang adik dari dalam perut membuatku semakin bahagia. Berarti makin dekat waktunya aku bertemu dengan puteri keduaku. Kulirik kakak yang masih sibuk bermain dengan riangnya dari kursi belakang tempat aku duduk. Kakak terlihat seperti tidak sabar juga ingin bertemu dengan calon adiknya. Sesekali kakak menoleh kearahku. Senyum ceria dan tawanya masih sangat jelas kuingat. “Kak, do’ain bunda ya nak. Setelah adik lahir, kakak bisa main sama bunda lagi. Sekarang kakak sama Ayah dulu ya.”, ucapku ke kakak yang dijawab dengan senyuman dan anggukan. Wajah kakak terlihat sangat optimis dan percaya diri. Sehingga hati ini terasa ikut yakin dan percaya untuk bisa memberikan yang terbaik dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku semakin bersemangat menyelesaikan tugasku saat itu.

Namun sesampainya kami di rumah sakit. Ternyata kenyataannya tidak seperti yang kubayangkan. Sudah mulai ada pembukaan mulut rahim memang, akan tetapi sang bidan yang memeriksa saat itu menyampaikan baru bukaan satu. Yang itu artinya masih sangat lama dan tidak bisa di prediksi kapan akan melahirkannya, karena bukaan 1 bagi aku seorang pemula yang hendak melahirkan secara normal itu bisa terhitung hari, bahkan minggu untuk menambah bukaannya hingga lengkap, karena memang belum ada jalan untuk lahir sebelumnya. Berbeda jika anak pertama juga lahir secara normal, bisa lebih cepat dan mungkin sekali hari itu juga lahirannya, karena sudah ada jalan sebelumnya. Sedikit kecewa rasanya pada saat itu, ditambah lagi disaat aku melihat wajah sang kakak yang ikut terlihat kecewa. Tapi akhirnya aku memutuskan untuk pulang kembali ke rumah pada malam itu. Kupikir bisa tidur semalam dua malam lagi bersama kakak. Bisa kembali memeluk kakak lebih lama saat tidur, pikirku.

Rasanya setiap malam menjelang lahiran ingin aku memeluk kakak erat. Dan mengungkapkan rasa terima kasih ke kakak. Atas kesabarannya, atas pengertiannya, atas segalanya yang kakak perlihatkan kepadaku, dan ingin mengatakan ke kakak, “Kak, makasi ya, udah jadi anak yg sangat baik dan pintar dalam masa-masa menunggu kehadiran adik. Semoga kakak tetap sehat dan diberi perlindungan oleh Allah, SWT. Menjadi panutan bagi adik kelak.” 

Sesampainya kami di rumah, aku kembali merasakan getaran-getaran cinta dari sang adik. Usia kehamilanku baru sekitar 36 minggu lebih beberapa hari. Dalam do’a tak pernah putus kupanjatkan. “Kapanpun adik memilih untuk lahir, silahkan. Tapi bantu bunda ya nak, untuk bisa bekerjasama dengan baik. Bantu bunda untuk mencari jalan keluar yang tepat buat adik. Bantu bunda untuk keluar melalui pintu yang seharusnya adik lalui secara alami. Adik pasti bisa, adik pintar, bunda akan kasihtahu adik aba-abanya. Biar kalo adik lahir secara alami. Bunda bisa memeluk dan menggendong kedua anak bunda segera setelah habis lahiran. Bunda ingin mengurus kedua anak bunda sendiri. Kakak akan bantu kita nanti”, bujukku pada adik seraya membulatkan tekadku.

Sambil melakukan gerakan prenatal yoga ditengah malam yang dingin dan gelap gulita. Kulantunkan sholawat dan do’a di dalam hati sambil terus mengingat gerakan yoga yang diajarkan instrukturku. Ditemani suara jangkrik dan beberapa suara binatang lainnya. Kulihat suami masih bermain dalam mimpinya. Tidurnya harus nyenyak pikirku. Biar nanti suami tidak lelah, karena dia pun ikut bekerja keras untuk mewujudkan keinginan kami berdua. Dalam kegelapan aku terus memandangi wajah kakak dan ayahnya yang sedang tidur. Hingga kudengar kumandang adzan subuh. Angin dan udara pagi itu seolah masuk ke dalam kamar melewati ruas-ruas jendela dan ventiasi, mulai terasa olehku menusuk tulang memecah kesunyian pagi itu. “Ah, padahal AC di kamar aku yakin betul sudah di atur tidak dingin”. Tapi yang aku rasakan pagi itu sangat dingin menusuk.

Setelah selesai sholat subuh. Aku melakukan gerakan-gerakan yoga lagi beberapa menit. Aku keluar dari rumah dan berjalan sendiri ke depan komplek depan melewati gang demi gang. Tak tahu angin apa yang membuat aku menjadi rajin seperti ini. Kuingat, dari awal hamil hingga saat ini, aku belum pernah sama sekali jalan pagi. Padahal jalan pagi adalah olahraga yg sangat rutin aku lakukan saat hamil sang kakak, namun tidak dengan hamil sang adik kali ini. Meski aku tahu jalan pagi sangat dianjurkan untuk ibu hamil, apalagi mendekati hari lahiran.

Hari sudah hampir pukul setengah 7. Kulihat ke langit. Cuaca terlihat mendung dan matahari pun belum kelihatan. Hampir sampai di gerbang depan yang jaraknya sekitar 1 km dari rumah. Aku baru berjalan dua pertiga perjalanan. Lalu mampir sebentar di warung makanan jajanan tradisional langganan saat hamil kakak dulu. “Entah ini yang membawa aku semangat jalan pagi atau memang niat jalan pagi”, gumamku dalam hati sambil menertawakan diri sendiri. Aku memang ingin sekali menikmati makanan-makanan ini sebelum lahiran. “Kapan lagi”,pikirku. Aku jarang ke warung ini setahun belakangan. Setelah membeli makanan dan bercakap-cakap ringan sama si ibu yang berjualan. Si ibu memberi semangat sambil bercanda dan tertawa. Membuat rasa grogi dan khawatir dalam diriku sedikit hilang.

Di jalan pulang gerimis pun turun. Jarak ke rumah sudah tidak begitu jauh dan aku memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan langkah sedikit dipercepat. Sudah tidak peduli seperti apa orang melihat ibu hamil jalan pagi-pagi sambil kehujanan dan membawa makanan yang entah dari mana. Kenapa harus kupikirkan. Tepisku saat hendak memacu langkah. Sesampai di rumah, aku mengecek kembali jumlah flek yang keluar, tapi masih belum begitu banyak. Selesai mandi dan makan, karena tidak bisa tidur semalaman. Aku memilih untuk istirahat sejenak. Capek pikirku, ingin istirahat atau rebahan sebentar. Takut nanti malah kehabisan energi disaat-saat yang memang dibutuhkan. Kakak, masih tetap sama Ayahnya. Kakak mendadak sangat pengertian dan sangat baik mulai dari saat aku terlihat fokus sama kelahiran adik. Main, mandi dan makan dilakukan sama Ayahnya semua. Kakak sesekali suka melemparkan senyum ke arahku. Seperti mengisyaratkan makna. “Bunda yang semangat ya, semangat melahirkan adik untukku”, atau, “Bunda yang kuat. Aku tahu bunda pasti bisa”, pikiranku yang sok menebak-nebak. Sebelum istirahat dan tidur sejenak, kupeluk kakak yang sedari tadi menatapku. Mungkin dari kemarin kakak deg-degan juga, tapi aku senang dari apa yang diceritakan ayahnya tentang kepintaran dan kemengertiannya dengan kondisi kami. Mereka kadang tampak serius kalau sedang bercerita. Aku hanya sesekali menguping pembicaraan mereka yang intinya sangat semangat menunggu kehadiran adik di rumah. Teman bermain kakak nanti di rumah. Aku pun tertidur dan di alam setengah sadar masih terdengar sayup suara kakak dan ayah bermain di luar kamar. Dipacu oleh suara tv yang membuat rumah jadi terasa lebih ramai.

Malamnya, aku ingat-ingat kembali semua ilmu yang diberikan mbak diana, instruktur yogaku. Melakukan gerakan demi gerakan yoga dikamar  yang bisa membantu penambahan pembukaan mulut rahim. Sekaligus untuk membantu sang adik mencari jalan kluar. Sambil terus berusaha berkomunikasi dengan adik di dalam perut. Saling membantu dan berikatan dalam hati dan membayangkan adik bisa menembus jalan yang sudah disiapkan untuknya. Memberi arahan dan memanggil namanya. “Adik, ayo cari jalan keluarnya ya, usaha yang keras untuk menerobos tembok yang sangat tebal yang diciptakan Allah untuk kamu, rumah bayi-bayi suci mungil nan menggemaskan. Pintu itu sudah didesain untuk tempat adik keluar. Adik juga sudah kasih tanda merah ke bunda. Memang disitu jalannya, dik. Yuk, adik semangat membuka kuncinya. Bunda, Ayah dan kakak sudah siap menunggu adik disini.” Obrolan malamku yang cukup panjang dengan adik saat itu, sambil aku mengingat satu persatu wajah kakak dan suami yang tertidur pulas. Segala cerita aku sampaikan pada adik yang sudah bersiap-siap untuk lahir. Tentang nanti ketika lahir sudah ada kakak yang akan menyambut adik. Kakak juga sudah tak sabar ingin segera melihat adik. Tak jarang saat hari-hari biasa setiap aku yoga selalu ditemani kakak dengan semangat. Kakak yang suka mengelus-elus lembut perut bunda sambil memanggil nama adiknya. Sang kakak yang sangat semangat dan senang terlibat dalam semua hal di saat hamil adik. 

Keesokan harinya suami berangkat bekerja seperti biasa. Aku pun menjalani rutinitasku seperti biasa di rumah bersama kakak. Ketika hendak sholat zuhur, aku ke kamar mandi. Darah yang keluar semakin banyak,  hampir menyerupai darah menstruasi. Segera kuhubungi suami. kontraksinya pun bertambah saat aku hitung menjadi 5 menit sekali. Suami mengabarkan bahwa siang itu dia sudah meminta izin dan akan segera pulang. Perkiraanku, suami akan samai rumah sekitar jam 3. Baiklah, aku  harus melakukan aktivitas rutin seperti kemarin lagi. Selain bersiap-siap, aku akan bersih-bersih rumah terlebih dahulu. Entah mengapa aku selalu senang dengan rutinitas ini.

Saatnya berangkat, pas sesudah sholat ashar. Seperti biasa pada saat sampai di ruang bersalin dilakukan pengecekan dalam, dan ternyata masih pembukaan 2. Masih dua? Ya. Meski 2 tebal  dari penjelasan susternya, yang sebenarnya aku sama sekali kurang begitu paham maksudnya saat itu. Aku sudah tidak banyak berharap. “Dua tipis ke dua tebal saja rasanya sudah begini ya”, gumamku dalam hati sambil tertawa. Tapi, yasudahlah. Apapun kata dokternya akan aku terima saja. Perasaanku mulai pasrah, karena aku berharap lebih dari itu, setidaknya sudah bukaan empat lah, menurutku yang mulai sok tahu saat itu. Sederetan bayangan lain yang sudah tergambar dalam pikiranku, langsung buyar semua karena ketidaksabaranku yang masih belum mengerti. Dasar manusia, pikirku tersadar. Maunya yang instan dan cepat saja. Inginnya lahiran, terus menyusui anak, terus menginap sebentar di rumah sakit dan pulang. Sungguh intervensi yang luar biasa. Hingga akhirnya aku tersadar bahwa skenario Allah pasti sudah ditetapkan atas diriku, tidak ada skenario yang lebih indah dari semua rencana anehku saat itu. Harapan dan keinginan seringkali tidak bisa sejalan dengan kenyataan. Tapi bukan karena Tuhan tidak paham dengan inginku, akan tetapi justru karena Tuhan sudah sangat tahu mana yang terbaik untukku dan keluarga. Yang penting aku telah berusaha. Kuubah target utamaku, kembali ku ingat materi gentle birth dalam komunitasku, target utamaku memang berusaha untuk bisa melahirkan secara  normal. Tapi untuk hasilnya yang menentukan tetaplah Sang Maha Pemberi keputusan. Aku harus berserah diri, apapun yang sudah ditakdirkan Allah untukku hari ini dan nanti aku ikhlas. Tak tahu tiba-tiba saja pikiran itu yang mendominasi otakku.

Pasrah, ikhlas dan berserah diri kepada Allah. Menurunkan derajat keinginan dan memilih melantunkan do’a demi do’a dengan khusyu dan panjang untuk harapan bisa mengurus kedua putriku nanti. Tidak hanya itu. Aku hanya meminta sama sang Pencipta, untuk diberi kekuatan dan kemudahan dalam merawat mereka berdua nanti. Dengan cara apapun aku melahirkan nanti. Perasaan sensitif dari dalam diri membat aku menekur dan evaluasi diri. Mudahkanlah nanti Ya Allah yaa mujibbassailiin.

Tidak lama setelah suster menelepon dokter kandunganku. Suster menyampaikan padaku, meski aku tidak begitu tertarik lagi dengan percakapan mereka. Aku tidak mau begitu berharap lagi jika dokter memberi pertimbangan seperti sebelumnya. Proses melahirkanku sedikit berbeda dengan proses normal pada ibu-ibu yang lain. Tidak boleh ada instruksi sedikitpun. Tidak boleh ada proses induksi atau obat-obatan apapun yg mengintervensi percepatan kelahiran. Jadi memang sedikit harus lebih sabar. “Bu, kata dokternya, Ibu langsung tinggal di kamar bersalin aja ya. Bapak langsung urus administrasi untuk kamar perawatan nanti”, dan segala macam panjang lebar diberi penjelasan oleh sang suster.

“Oke, baik suster, tapi saya boleh pulang lagi gak, sus? kan masih pembukaan 2?” tanyaku. Sebenarnya antara bahagia dan melonjak dalam hati,”Yesss.. Akhirnya…akhirnya dapat tiket untuk menginap di rumah sakit. Eh, tapi tunggu dulu. Jadi kesimpulannya perkembangan pembukaannya ini gimana? Nanti kalo lama-lama di rumah sakit aku juga gak mau”. Pikiranku menari dan jadi ingat saat lahiran kakak lagi. Suster tersebut menjelaskan apa yang disampaikan sang dokter, ternyata darah yang keluar sudah cukup banyak. Lalu jeda kontraksi juga sudah semakin dekat. Dalam lima menit kontraksi 2x. “Tapi untuk ke pembukaan 10 masih lama gak sus?”, tanyaku mulai kembali menggebu tidak sabaran. “Ya, tergantung bu. Yang pasti. Ini akan seperti anak pertama bagi ibu. Harus lebih sabar menunggu, karena anaknya sedang bikin jalan. Berbeda dengan anak kedua. Dari bukaan kedua hingga lengkap itu bisa beberapa jam saja jaraknya”. Penjelasan panjang lebar dari suster membuat aku mengikuti keputusan sang dokter.

Beranjak pembukaan sedikit demi sedikit hingga keesokan harinya baru menuju pembukaan 4. Hampir merasa ingin menyerah. Tapi ingat kembali pada niat awal. Ingat kembali wajah sang kakak yang berharap dan menanti. Membayangkan wajah adik yang akan lahir. Mirip siapa ya dia nanti? Membayangkan suami yang ikut berjuang dan menyemangati. Memberi kekuatan bagiku untuk terus bertahan. Ya, aku pasti bisa. Disaat semua rasa sakit yang aku rasakan, tiba-tiba aku ingat dengan kakak. Semalam petama kali kami berpisah dan tidak tidur bersama sepanjang hidupku dan kakak. Aku meminta ijin di sela-sela kontraksi untuk keluar ruangan bersalin. Hendak bertemu kakak. Dari suami pun aku mendapat kabar bahwa kakak pun mulai mencariku. Setelah aku diizinkan oleh bidan ruang bersalin, aku segera menuju pintu keluar dengan jeda-jeda kontraksi yang masih bisa kurasakan, semuanya masih bisa kutahan.

Alhamdulillah akhirnya aku masih sempat memeluk dan menggendong kakak sebentar untuk menuju perjuangan berikutnya. Sambil mengumpulkan kekuatan dan tekadku. Berbicara dari hati kehati ke kakak, dan masih sempat kulihat wajah dan senyum kakak saat berbicara denganku. Kakak tetap sangat pengertian di mataku saat itu, membuat hatiku yang rapuh semakin luluh atas kehebatannya. Aku harus segera menyelesaikan tugasku kali ini.

Dari pembukaan 4 siang itu, hingga tidak berasa dari jam ke jam pembukaan terus naik dan naik. Pembukaan 8 sekitar sorenya dan pas menjelang maghrib adik pun lahir, dan disaat itu suami sudah berada disampingku menemani dari pembukaan 8 hingga lengkap yang sangat amat tidak berasa cepatnya. Seketika saat pembukaan 10 aku sudah tidak lagi merasakan apa-apa. Tidak merasakan sakit atau apapun. Hanya ada perasaan seperti ingin mengeluarkan sesuatu. Seiring dengan perasaan itu sang dokter yang sudah datang dari pembukaan 9 pun menginstruksikanku untuk segera mengejan, karena proses keluarnya pun tidak boleh terlalu lama, jelas sang dokter. Dan akhirnya lahirlah seorang putri cantik lagi di keluarga kami. Bersyukur tak terkira, semua sakit lelah berhari-hari hilang seketika saat melihat wajah dan tangisannya, terkumpul menjadi satu di saat aku bisa menatap wajah sang adik yang sedang menangis dipangkuan sang dokter.

Proses kelahiran anak kedua kami telah selesai. Tangisannya begitu mengharu biru. Kulihat wajahnya dari sudut tempat tidurku. Sangat putih, bahkan mendekati pucat menurutku. Dalam hati aku menangis senang, bahagia, sedih, sakit, lelah. Dua hari lebih menantikan proses kelahiran yang kudambakan, hingga dia bisa menemukan jalan keluar secara alami. Dua hari yang sangat melelahkan, tapi sekaligus membahagiakan. Tak ada rasa kantuk dan ingin tidur. Yang ada hanya ingin segera memeluk kedua putriku.

Alhamdulillah, semua telah aku lewati. Masa-masa mendebarkan dan sulit bagiku. Sekarang semua telah terasa ringan. Disaat sang putri kecilku tertidur di pangkuan. Ditambah sang kakak yang tak henti-hentinya mencium sang adik, berusaha memeluk sang adik tak hentinya.

Bersyukur tak terkira pada Sang Pencipta. Maha pengatur segalanya. Apa yang ada di bumi dan dilangit telah menjadi Kuasanya. Telah dituliskan semua takdir manusia. Agar kita bisa senantiasa ingat dan tunduk akan perintahNya. Maka nikmatNya mana lagi yang bisa kudustakan? Rasa syukur tak henti-hentinya ingin kupanjatkan selalu padaNya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *