“Abak”,

“Abak…”
Teriak ku beberapa kali memanggil sesosok lelaki di depan kos-kosanku. Lelaki paruh baya itu menggunakan pakaian berwarna coklat elegan dengan sepatu hitam mengkilap. Hendak menaiki sebuah mobil vw hitam yang tidak semua orang memilikinya. Gayanya yang necis membuatku sedikit terdiam lama. Memikirkan jawaban dalam benakku. Benarkah itu ayahku? Hendak kemana dia. Pertanyaan demi pertanyaan menari-nari di kepalaku. Sempatku terpaku sesaat sebelum Ida, teman sekamarku menepuk lenganku.
Dia berbicara cukup keras dan dekat dari telingaku.
“Fat, Abakmu bukan?”
“Fatma, hoiii.”
“Kenapa kau tidak meminta uang padanya?”
Tanpa menghiraukan pertanyaan Ida dan sekarang aku berada tepat di belakang mobilnya. Teriakan terakhirku akhirnya menyadarkan Abak dan dia pun menoleh ke arahku. Untung mobilnya belum jalan pikirku. Kalau tidak habis sudah aku. Tak ada uang sepeserpun yang hinggap dikantong baju maupun dompet lecek yang kugeletakkan di kasur kamar.
“Kau piak, manga kau disiko?”, (kamu upik, ngapain kamu disini).
*Supiak adalah panggilan kebanyakan untuk anak wanita di ranah minang daerah pariaman pada zaman dahulu.
“Ini kosanku, Abak”, jawabku singkat.
Tak ingin banyak berbasa-basi, aku langsung menyampaikan maksudku.
“Abak, aku perlu uang”
“Uangku habis”,
Dia menatapku cukup lama, dan lalu mengeluarkan uang selembar 500 rupiah. Setelah memberikan padaku dan ia pun berlalu  meninggalkan aku dengan selembar uang 500.
Hingga mobilnya menjauh aku masih tetap diam membisu dengan sekelabat pikiran yang menghantuiku.
Aku pun berbalik menuju ke beranda kosan dan duduk termenung. Pikiranku masih mengingat kejadian barusan. Selembar uang 500 itu mungkin memang cukup bagiku. Tapi mungkin sangat kecil bagi teman-temanku. Abak memang tidak pernah tahu ataupun mau tahu dimana selama ini aku tinggal saat kuliah. Abak hanya memberikan biaya buat mencari tempat tinggalku dan uang melebihkan sedikit uang untuk jajanku. Uang kuliahku? Abak tidak perlu membayar karena aku mendapatkan beasiswa sebagai calon guru.
Gurauan Ida masih bisa ku dengar. Ida tertawa mendengarku mendapatkan uang 500rupiah hari itu. Sedang si Laila mahasiswa dari payakumbuh yang satu kosan denganku. 3 bulan sekali bapak dan emaknya menyilau ke kosan. Komplit dengan sekeranjang hasil kebun dan kandang. Segala macam rupa bahan makanan seperti sayuran, ayam, telur, beras hingga petai dan jengkol pun dia dapatkan. Hingga kerap juga kadang aku keciptratan mendapat bagian. Laila yang anak petani hidupnya pun sederhana. Kadang ayahnya menumpang kendaraan yang kerap membawa hasil sembako ke kota dan menyempatkan untuk bertemu melepas rindu dengan anaknya. Lain lagi dengan Ida. Meski dia hanya anak seorang penjual makanan di pasar. Beberapa kali aku melihat dia didatangi kakaknya mendapatkan bingkisan untuk dimakan. Sedang aku? Anak seorang juragan dan pemborong terkenal hingga kota padang. Bahkan Abakku pun baru tahu tempat tinggalku barusan. Di saat dia tersesat entah hendak kemana. Hatiku pilu, teriris-iris disirami air asam. Sudah lama kurasakan. Tapi masih bisa ku tahan. Karena kebahagian-kebahagiaan kecil yang kadang kerap menghampiriku membuatku selalu kuat utuk bertahan. Tidak goyah dengan nasib yang menimpaku.
Tekadku hanya satu, yaitu membuktikan bahwa diriku mampu tetap berdiri tegak hingga aku punya uang sendiri. Memiliki pekerjaan sendiri yang bisa kutabung untuk masa depanku nanti.
****
Abak dan amak bercerai 10 tahun yang lalu. Aku adalah anak wanita satu-satunya abak dan amakku. Kakak laki-laki ku satu-satunya yang kupanggil dengan sebutan uda sudah tidak pernah pulang semenjak merantau ke ibukota. Dan memang dalam adatku pantang untuk laki-laki pulang sebelum berhasil. Semenjak abak amak bercerai. Uda sudah tidak pernah pulang ke rumah meskipun dia masih dinkota yang sama. Seorang laki-laki yang sudah akil baligh. Tidak ada tempatnya untuk tinggal di rumah. Tidurlah di surau-surau atau tempat yang bisa dia gunakan untuk menuntut ilmu.
Untuk seorang yang kaya raya di kampungku. Hidupku tidaklah semudah yang orang bayangkan. Abak dikenal begitu banyak orang. Dari kota padang hingga nagari ujung pariaman pasti tahu dengannya. Seorang pemborong yang memiliki proyek dimana-mana. Mobil tambang tujuan padang-padang pariaman hampir 20 unit yang dia punya. Bisa dibilang dia yang punya.
Saat ini aku kuliah D1 di kota padang jurusan pendidikan bahasa indonesia. Kampungku padang pariaman. Jaraknya hanya 30menit. Namun aku hanya bisa menjatah diriku untuk pulang selali sebulan. Karena memang uang jajanku yang saat itu diberikan oleh ibu tiriku. Hanya per bulan itu. Pernah sekali aku pulang lebih dari sekali dalam sebulan. Bukan tambahan uang yang aku dapatkan. Hingga aku balik kembali ke kosan dengan uang yang habis karena terpakai oleh ongkos.
Di saat lain, aku pulang tanpa uang sepeserpun di tangan. Kuberanikan menaiki salah satu mobil tambang Abak. Aku berharap mereka mengenalku. Tapi ternyata tidak. Disaat cingkariak mobil meminta ongkos. Aku hanya bisa diam. Hingga dibentak beberapa kali aku akhirnya menjawab bahwa aku tidak ada uang. Hampir berlinang air mataku saat dibentak kasar saat itu. Seisi mobil melihat ke arahku. Bukan cuma malu tapi juga sakit dihatiku mendengar bentakan itu. Ingin ku jelaskan bahwa itu mobil ayahku tapi kuurungkan lagi karena hanya membuat aku semakin malu.
Saat kernet mobil meminta kepada supirnya buat menghentikan mobil dan menyuruhku turunz sang supir pun melihat kebelakang dan memberi tahu.
“Tak usah. Tidak apa dia tidak membayar. Dia anak datuk sutan”.
Bunyi bisikan dan kegaduhan makin membuatku risih. Taka berapa lama akupun turun didepan rumah untuk mendapatkan jatah jang bulanan dari ibu tiriku.
Jatah uangku yang setiap bulan kujemput pulang ke rumah. Hanya cukup membayar uang untuk ujian akhirku kemarin. Bahkan untuk makanpun aku hanya mengandalkan minyak sisa menggoreng ikan teri yang kubawa minggu lalu dari rumah amak. Jadi, jika tadi aku bisa meminta tambahan uang jajan pada abak. Sungguh suatu keberanian yang luar biasa dan jarang.
Beberapa kali disaat aku pulang. Berbagai bahan makanan dari dapur amak tiriku aku ambil segenggam-segenggam dan kusimpan di dalam tasku. Bahan yang cukup kukira cukup sebulan menyangga perutku. Meski kenyataannya itu tidaklah pernah cukup. Seringnya menjelang akhir bulan. Menu minyak dan garam menjadi andalanku.
Setelah abak dan amak bercerai. Abak hidup dengan istri barunya dan memiliki 7 anak. Sedangkan amakku. Hidup dari menjual beras di pasar lubuk alung. Amakpun tak mau kalah dengan abak. Sempat menikah beberapa kali dengan laki-laki yang sama sekali tak ada yang kusuka. Setiap suami amak memiliki satu anak laki-laki lagi. Begitulah banyaknya aku bersaudara sekandung, seibu ataupun sebapak. Jumlah yang banyak itu dmtidak membuat hari-hariku menjadi ramai. Malah membuatku menjadi semakin terpuruk dan kesepian.
*****
Sekarang aku sudah resmi menjadi seorang guru bahasa indonesia di salah satu sekolah menengah pertama di kampungku. Gaji pertamaku pun aku belikan beberapa gram emas dalam bentuk gelang. Sedikit demi sedikit uang hasil keringatku pun aku kumpulkan demi bertahan hidup.
Di suatu sore, cuaca kota padang pariaman seperti biasa panas dengan terik matahari yang cukup garang, semilir angin yang membuat hari itu menjadi sejuk menyapu muka dan tanganku yang tak tertutupi apa-apa. Aku berjalan menyusuri jalan dari depan pagar rumah abak menuandang tas coklat kesayanganku yang kubeli dari gajiku.
Rutinitas setiap bulan ke rumah abak masih kuperjuangkan untuk terus ku lanjutkan meskipun sudah bekerja.
Bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *