By : Afi Nihaya

Orangtuaku bukanlah orang tua yang sempurna, sebagaimana diriku juga bukan anak yang sempurna. Bagaimanapun juga, orang tuaku adalah kado terindah dari Tuhan, di mana melalui mereka aku belajar banyak tentang dunia.

Menjadi orangtua adalah pekerjaan sulit yang tidak pernah ada sekolahnya.

Apakah cukup hanya menghadirkan rumah, makanan, dan pakaian saja, lantas menjadikan seseorang layak disebut orang tua?

Tidak sesederhana itu.

Orang tua adalah pihak yang bertanggung jawab atas kehadiran anaknya di dunia. Maka, menjadi sebaik-baiknya figur teladan adalah hal yang MUTLAK diusahakan. Berapa banyak orang tua yang berimajinasi memiliki anak yang makin baik dari hari ke hari tapi dirinya sendiri enggan melakukan perbaikan?

Anak adalah cermin dari orangtua yang tidak pernah berdusta.

Orang tua adalah figur yang hebat.

Sebab ketika memutuskan untuk jadi orang tua, berarti seseorang harus siap untuk berdamai pula dengan orang lain disamping berdamai dengan dirinya sendiri. Jika dengan dirinya sediri saja ‘tidak beres’, bagaimana dia bisa menjalin hubungan yang ‘beres’ dengan anak-anaknya?

Tentu saja, orang tua bukan malaikat yang bisa bersifat dan berperasaan ‘positif’ sepanjang waktu. Ada hari-hari di mana mereka sudah terlalu kesal dengan tingkah anak yang sulit diatur, bangun kesiangan, pilih-pilih makanan, malas belajar, meletakkan handuk di kasur, bertengkar terus dengan kakak atau adiknya, dan seabrek tingkah lain yang merampas kesabaran. Tapi ingat bahwa tingkah-tingkah itu tidak akan berlangsung lama. Berapa lama masa kanak-kanak akan bertahan? Paling-paling hanya beberapa tahun. Setelah beranjak remaja, orang tua akan kesulitan berkomunikasi dan membangun kedekatan emosional dengan anaknya sendiri. Mereka tidak lagi menganggu orang tua dengan mulut cerewetnya karena sibuk dengan tugas sekolah dan gadget. Mereka akan tumbuh besar dan menata masa depan tanpa ada banyak campur tangan dari orang tuanya lagi. Mereka melarang orang tua masuk sembarangan ke kamarnya, tidak nyaman jika ditanyai hal-hal pribadi, dan mereka akan fokus ke dunianya sendiri yang penuh privasi. (bersambung dikomen)👇

TENTANG MENJADI ORANG TUA (Bag. 2)

By : Afi Nihaya Faradisa

Ini adalah lanjutan dari tulisan saya beberapa waktu lalu.

Betapa banyak anak yang tidak merasa dicintai oleh orang tua yang sebenarnya sangat mencintai mereka.

Mengapa itu terjadi?

Karena ‘bahasa cinta’ setiap orang berbeda-beda.

Dalam teori ‘bahasa cinta’ dijelaskan bahwa, ada orang yang baru merasa dicintai dengan mendengar kata-kata “aku mencintaimu”. Ada orang yang baru merasa dicintai dengan sentuhan fisik, misalnya sering dipeluk. Ada orang yang baru merasa dicintai dengan menerima hadiah-hadiah. Ada orang yang baru merasa dicintai dengan kehadiran, misalnya sering ditemani. Ada orang yang merasa dicintai dengan pelayanan, misalnya sering dibantu atau ditolong. Dan sebagainya. Bahasan tentang ‘bahasa cinta’ yang selengkapnya bisa Anda cari sendiri. Dan seseorang tidak hanya memiliki 1 bahasa cinta saja, tapi umumnya ada 1 yang paling dominan dalam diri seseorang walaupun dia memiliki beberapa campuran antara berbagai bahasa cinta.

Saya baru paham sekarang mengapa beberapa guru pernah mengatakan “Membuat seseorang merasa dicintai lebih penting daripada mencintai itu sendiri”.

Sebab, tak peduli betapa dalam Anda mencintai orang lain, perasaan Anda tidak akan dipahaminya jika ternyata kalian punya ‘bahasa cinta’ yang berbeda.

Bagaimana mencari tahu?

Mungkin kita bisa bertanya padanya secara langsung, “Kamu paling suka pas ayah/ibu gimana?”

Jika tidak memungkinkan untuk bertanya, kita bisa mengamati perilaku dia sehari-hari. Ada orang yang menunjukkan perhatiannya dengan sentuhan, berarti kemungkinan bahasa cintanya adalah sentuhan.

Jika ia senang memberi hadiah, mungkin bahasa cintanya adalah pemberian hadiah.

Dan sebagainya.

Mungkin pengetahuan tentang bahasa cinta ini terlihat sederhana, tapi ini penting sekali untuk memuluskan banyak hubungan; bukan hanya antara anak dan orang tua saja.

Orang tua adalah figur yang hebat.

Sebab,

Hanya orang yang ‘kelebihan’ cinta yang bisa memberikan cinta. Bagaimana orang bisa membagi apa yang tak ia punya?

Ada sebuah ungkapan menarik: “Orang tua adalah penghancur mimpi terbesar bagi anak-anak.” (Bersambung)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *