Kenangan pahit dan menyakitkan yang pernah aku alami pada saat kehilangan calon bayi di dalam kandungan. Hanya karena ketidakpahaman dan kurang ilmu tentang kehamilan saat itu. Kondisi yang bekerja jauh, merasa segala sesuatu baik-baik saja. Jadi tidak paham tentang bagaimana seharusnya jika ibu muda tengah hamil. Kehilangan yang begitu mendalam sehingga sulit melupakan dan perlu waktu yang cukup lama untuk menerapi  diri sendri. Tekanan dalam diri selalu menghantui disaat melewati masa sulit itu. Merutuki diri, merasa bersalah, merasa tak pantas sebagai ibu. Kehilangan semangat hidup dan harapan. Hingga di satu titik, asa dan harapan pun muncul. Semua sudah terlewati dan menjadi catatan kelam dan pelajaran bagiku untuk kemudian hari.

Untuk saat ini, entah bisa disebut kenangan atau masih dalam tahap proses penetralan dalam diri. Bisa dibilang cukup menyakitkan kenangan ini. Disaat orang-orang terdekat menuntutku untuk kembali bekerja. Mengejar karir yang sempat kutinggalkan untuk memulihkan perasaan shock pasca keguguran dan efek kuretase yang kualami. Sulit mendapatkan anak dan ujian-ujian setelahnya. Hingga saat ini 2 buah hati kecilku nan lucu sudah menemani. Tak sanggup rasanya meninggalkan mereka dirumah demi kembali kedunia kerja dan hiruk pikuk Jakarta. Sama siapakah mereka nanti? Akankah dititipkan di tempat penitipan anak? Cari babysitter untuk mengasuh dirumah? Kondisi yang jauh dari kedua orang tua kami masing-masing membuatku mengambil keputusan untuk tetap di rumah. Hingga saatnya mereka bsas di lepas ke dunia luar. Kerja bisa ku cari nanti, tapi memberikan kasih sayang kepada anak yang cukup lama kutunggu, rasanya sulit. Ditambah tidak adanya orang yang bisa kupercayai untuk memantau anak-anak dirumah.

Mulai saat itulah. Kalimat demi kalimat disindirkan pada diriku. Telepon terus berdering. Menanyakan kapan bekerja, kapan punya penghasilan sendiri. Kapan ikut tes ini dan itu. “Ingat umur makin bertambah”. “Makin lama makin tidak ada instansi/perusahaan yang akan menerimamu bekerja,” begitu alasan mereka. Dari diminta utuk jualan kue, yang katanya bisa sambil menjaga anak-anak. Hingga apapun usulan yang mereka berikan. Bukan, hal ini bukan semata-mata hanya sekedar bekerja dan punya penghasilan, semua selesai begitu saja. Tapi, hal ini jauh lebih dalam dari apa yang bisa kurasakan. Apapun pekerjaan yang ingin dan bisa aku lakukan nanti, bisa dan sah-sah saja mereka usulkan, asal jangan memaksakan. Dengan melihat dan memahami apapun pertimbangan yang ingin aku ambil. Aku harap mereka semua bisa paham. Dengan apa yang aku putuskan. Bukan dengan mempertanyakan terus menerus dan mengalasankan takdir nanti seperti apa ataupun karena aku yang tak bisa memberikan banyak materi seperti yang mreka inginkan, untuk membalas jasa karena telah menyekolahkan. Sungguh tak semudah itu. Dan sungguh akupun ingin menjadi anak yang berbakti untuk mereka nanti.

Saat ini hanya bisa memeluk anak erat dan merasakan bahagianya bias menemani hari-hari mereka. Sambil melakukan sesuatu yang berarti dari rumah, hingga saatnya nanti tiba, saat keputusanku untuk memilih kembali bekerja dan sudah siap melepas anak-anak ke dunia yang penuh tantangan ini. sekian

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *