Anak itu terpaku. Dia terdiam duduk tak mengeluarkan tangisan atau sedikitpun suara. Setiap pertanyaan yang aku berikan dijawab dengan anggukan ataupun tatapan bingung.

Aku berpikir. Apakah aku terlalu pendiam dan kesulitanku untuk mengajak ya bicara membuat dia terpengaruh.
Kumatikan setrika dan kudekap dia. Akhirnya tangisanpun keluar dari mulutnya. Aku yakin dia menahan sesuatu. Menahan perasaan kecewa entah kesal entah sedih yang membuat dia membuncah berurai air mata. Kudeka air matanya yang berlinang hingga membasahi pundakku. Ku angkat wajahnya yang tak mau menatap mataku. Lalu rasa penasaranku membuat tak sabar untuk bertanya,
“Kakak kenapa, kakak sedih? Kakak kesal?”
Tangisan kembali pecah
Aku baru tersadar bahwa dia masih belum melepaskan rasa emosi di dalam hatinya. Kupeluk dan kubiarkan dia menangis dalam pelukanku. Tak terasa air mataku pun ikut mengalir merasakan kesedihannya yang aku pun tak tahu itu apa.
Sejak kejadian itu, aku bertekad untuk lebih sering mengajaknya bicara. Yang akhirnya keterusan menjadi sesosok ibu yang cerewet menurutku. Kadang ku tak bisa menahan untuk tidak bertanya. Untuk terus ngobrol takbtentu arah dengannya. Baik sambil mengerjakan pekerjaan rumah apapun atau saat dia main.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *