Kalau ditanya tentang kenangan indah, jawabannya banyak, hehe. Kenangan indah saat orang tua merestui hubunganku dengan Ayahnya anak-anak. Dua tahun menantikan direstui, yang itu calon suami (sekarang suami) melamar dan menyatakan maksud ke rumah. Niat hati tak ingin berpacaran, tapi apadaya orang tua karena anaknya yang tak pernah mengenal konsep pacaran dianggap tidak serius, ditolaklah sang lelaki dengan alasan yang kurang masuk akal sebenarnya. Hingga 2 tahun berusaha menjaga hati dan perasaan, akhirnya berlabuh ke tempat yang sama jua. Orang tua pun  bisa menerima sang lelaki yang dianggap tidak punya apa-apa. Hanya bermodalkan basic agama, sekolah dan cita-cita yang tinggilah ku tetapkan hati untuk menjalankan sisa hidup dengannya.

Bahagia tak terkira rasanya. Tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, hanya sujud syukur padaNya. Di waktu lain, kenangan yang membahagiakan yaitu saat buah hati yang dinanti lama lahir ke dunia. Tangisan membahana namun merdu di telinga orang tuanya membuat hatiku berbunga-bunga. Ayahnya tersenyum-tersipu-haru. Serasa mimpi ataukah ini memang nyata. Anak yang dinanti-nanti hadir di tengah keluarga. Hingga saat itu aku berniat memberinya nama Puteri Kunanti. Haha.

Kenagan bahagia lainnya disaat suami akhirnya menyelesaikan kuliah yang dibiayainya sendiri disaat kami sudah berumahtangga. Terseok-seok, tertatih menyelesaikan studinya, namun bias menuntaskan hingga titik akhir. Kenangan yang tak kalah membahagiakan lainnya disaat aku berhasil melahirkan anak kedua dengan proses normal setelah anak pertama secara sesar. Dengan semangat dan percaya pada kemampuan diri serta berdoa kepada Yang Kuasa. Betawakal padaNya. Akhirnya proses yang lama dan pajang itu bisa kulewati. Amat sangat bahagia rasanya. Proses lahiran yang memang dari saat anak pertama yang sangat kuidamkan bisa ditemani sang suami. Bisa seideal yang kulihat seperti di tv-tv. Sehabis lahiran suaminya mengecup kening istrinya romantis. Detik demi detik dibelai sang suami setiap merasakan indah dan nikmatnya gelombang cinta dari sang buah hati kedua. Lalu rencana yang kami susun untuk tidak merepotkan banyak orang saat proses persalinan kedua. Dengan membagi tugas dengan sang suami utntuk menjaga si kakak, anak pertama. Dan aku bertugas untuk fokus melahirkan anak kedua, bisa terlaksana. Diberi kemudahan olehNya. Dimuluskan jalannya. Dan sang kakak pun tak kalah bahagia disaat melihat adiknya dihadapannya saat itu. Semua sungguh membahagiakan…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *