Tradisi lebaran setiap daerah pasti berbeda-beda ya. Disesuaikan dengan adat dan kebiasaan setiap daerah masing-masing. Tradisi lebaran untuk yang sudah berkeluarga pun akan berbeda dari yang masih melajang.

Apa saja sih, tradisi lebaran buat para wanita yang sudah menikah? Beda gak ya tradisinya saat sudah menikah atau belum?

Dalam keluarga aku pribadi sih tradisi saat lebaran gak neko-neko. Gak ribet dan masih umum-umum saja. Beda saat masih lajang sama sesudah menikah cuma di bagian mesti mudik pulang ke kampung halaman dan berkumpul bersama-sama di rumah masa kecil. Trus lebarannya di dua keluarga. Yaitu di keluarga sendiri dan juga di keluarga suami. 

Tradisi lebaran pada umumnya yang rutin dari kecil hingga menjelang nikah yaitu:

  1. Sholat ied di lapangan/mesjid

Sholat idul fitri yang dilaksanakan di kampung halamanku biasanya diadakan di sebuah tanah lapang atau di pusat kota. Ramainya masyarakat yang hendak sholat ied menambah syahdu suasana lebaran. Ditambah lantangnya suara khutbah dari ustadz pencerama. Tradisi ini dilanjutkan dengan bersalam-salaman dengan siapapun yang kita temui seusai sholat. Selain menjadi ajang silaturrahim, kadang juga jadi ajang untuk reunian bertemu teman-teman atau sahabat lama.

2. Makan bersama dan silaturrahim sesudah sholat ke tetangga

Seusai melaksanakan sholat idul fitri kami biasanya berkumpul di satu rumah. Sekeluarga memakan makanan yang sudah disiapkan dari sebelumnya. Makan ketupat dengan kuah taucho, atau gulai nangka dan sebagainya. Saling bercerita bercengkrama dan berfoto bersama. Tradisi salam-salaman mulai dari ke yang tua.  

3. Berkumpul dan berhari raya bersama keluarga

Tradisi berikutnya biasanya bersilaturrahim ke tetangga saling meminta maaf dan keluarga dekat. Kadang gak jarang setiap masuk ke satu rumah. Setiap kali disuguhi makanan dan minuman. Bahkan makanan berat seperti nasi pun sudah dihidangkan untuk disantap. Pulang-pulang udah begah duluan dengan perut yang udah kepenuhan.

4. Berlebaran ke rumah sanak keluarga

Nah, tradisi berikutnya. Bersilaturrrahim ke rumah sanak saudara lainnya sambil mengumpulkan THR atau ampau lebaran. Bagi anak-anak momen ini paling menyenangkan biasanya. Bukan karena hanya mendapatkan uangnya saja. Tapi karena biasanya uang THR yang diberikan uang yang masihh sangat baru. Fresh from the oven. Jadi anak-anak pun sangat girang. 

Nah bedanya kali ini, setelah berkeluarga dan memiliki anak. Tradisi itu bertambah.

Pertama, mudik pulang kampung lebaran dari kota tempat tinggal kita. Yang dulunya selalu di h-7 lebaran maksimal kita udah mulai siap-siap packing mudik. Beberapa tahun belakang karena harga tiket yang masih relatif terjangkau, mudik bersama pun tak jarang jadi tradisi. Sekarang saat saat tiket melambung pun. Mudik pulang bersama dengan bus carteran ataupun mobil pribadi menjadi pilihan.

Kedua, berlebaran ke rumah mertua atau keluarga suami. Tradisi mengantarkan makanan saat puasa (maanta pabukoan). Dan berlebaran (barayo).

Bagi saya dan suami, yang rumah orang tua kami tidak begitu jauh (waktu tempuh 30menit) membagi waktu untuk lebaran pertahun secara bergantian. Jika tahun ini lebaran/sholat ied nya di rumah berarti mengikuti tradisi dari rumah. Tahun depannya gantian ke rumah keluarga suami (mengikuti tradisi di keluarga suami).

Sekian ya, tentang tradisi lebaran yang biasanya aku jalani. Semoga ceritanya bermanfaat.;)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *