Roadtrip bagi kami bukan sekedar mencari pengalaman ataupun memberi pengalaman buat anak2 (kami yakin nanti qeena besar ataupun saat kakak besar-pengalaman roadtrip dan travelling yang dulu sering kita jalanin saat kakak usia dibawah 2tahun atau dedek masih di dalam perut) gak bakalan mereka inget juga. Usia 2tahunan mungkin sudah sedikit mengingat. Tapi tetap bukan hal itu semata yang menjadi titik essensialnya.

Tapi roadtrip juga membuat kami belajar banyak hal tentang hidup. Bagaimana bisa bertahan selama perjalanan, bagaimana kami bisa mengendalikan emosi, ego, agar perjalanan tidak semakin berat dan sulit. Bagaimana bisa mengajarkan arti kesabaran menanti hingga sampai di tempat tujuan.

Kami akhirnya menurunkan sedikit harapan. Sadar bahwa peran mulai berubah. Ini penting. Peran sudah berubah. Bahwa kami bukan lagi pasangan lajang yang sedang berlibur. Tapi pasangan yang punya tanggung jawab masing-masing untuk anak.

Ketika kami sadar diri, tidak menaruh harapan terlalu tinggi, kami bahagia dengan peran kita, harapannya anak-anak menjadi bahagia dalam perjalanan mudik dan liburan saat ini.

Menariknya, banyak hal2 yang diluar kehendak terjadi selama perjalanan, selama mudik dan liburan. Seperti hidup, kadang bahagia, kadang menangis. Sama seperti perjalanan kami saat ini (colek adha @khutut 😅).

Berkahnya (saya dan suami) jadi tim yang kompak. Kami jadi lebih intim, saling support satu sama lain. Harus sigap dan saling bahu membahu.

(Terinspirasi dari ibu elora).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *