Keluar dari tol lampung sekitar pukul setengah 12 menjelang dini hari. Kami perlahan-lahan menyusuri jalanan yang mulai sepi. Tapi, seperti kata suami. Masuk jalan jalur lintas sumatera itu, meskipun sepi, kendaraan pemudik satu per-satu pasti masih lalu lalang. Jadi tidak begitu terasa sepi. Kulihat anak-anak di belakang sudah tertidur pulas. Wajah suami masih terlihat cukup segar dan aku pun berusaha tidak mengantuk untuk menemani dia membawa kendaraan.

Beberapa kali aku sempat tertidur sekilas meskipun kami berusaha mengobrolkan apa saja yang bisa kami bahas. Tapi aku tetap merasa mengantuk. Sedetik melayang ke alam tidur, sedetik kemudian aku kembali terbangun. Aku berusaha mengusap-ngusap mata agar rasa kantuknya sedikit berkurang. Tidak beberapa lama, suami masuk ke area pom bensin di kawasan Kotabumi. 

“Mau istirahat sebentar”, katanya sembari merebahkan bangku duduknya.

Aku yakin dia juga merasakan hal yang sama, sangat mengantuk. Belum lagi 2 hari sebelum berangkat mudik dia selalu pulang larut malam. Mengurus beberapa urusan ke rumah budenya dan masih keliling kota bekasi hingga pukul 1 malam. Kami tidur beberapa menit dan tidak lama suami pun suami melanjutkan perjalanan.

Disini ceritanya di mulai….

Dalam gelap gulita malam, mata yang terpaksa bangun dan rasa lelah yang sudah tak dirasa memantau jalan yang sedang kami telusuri. Masih ada beberapa pengendara baik mobil ataupun sepeda motor yang berlalu-lalang. Beberapa toko di sekitaran pun masih ada yang buka. Kita kembali menyusuri jalan di tengah malam itu hendak meninggalkan kota yang kita singgahi.

Google Map yang kami percayakan sebagai pemandu jalan kami malam itu ternyata menjadi biang keroknya. Membuat semuanya kacau. Aku sempat terpikir di dalam hati, biasanya suami lebih suka menggunakan Waze, kenapa kali ini pake GMap ya?

Lanjutlah berjalan menyusuri kotabumi dan saat di bundaran alun-alun kota, suami berbelok ke arah yang salah. Map berkali-kali seperti loading dan mengarahkan ke arah yang berbeda dari seharusnya. Kami mendapati jalan yang cukup rusak dan sempat menghentak bagian bemper mobil bagian depan. Jalanan sepi itu masih penuh dengan rumah pemukiman yang sudah terlihat sepi karena penduduknya sudah terlelap di alam mimpi. Lalu kami memutuskan untuk berbalik arah. “Karena tidak mungkin jalannya ke arah sana”. Menurutku itu yang dipikirkan suami melihat dia kembali mengotak-atik GMap sambil memutarkan haluan mobil. Tapi Map masih mengarahkan pada jalan yang salah.

Kami terus melanjutkan perjalanan, kondisi tidak memungkinkan untuk kami berhenti. Karena jalanan sepi tidak ada satupun orang, khawatir hal lain yang gak diinginkan malah keundang. Jalanannya mulai terlihat sempit dan sepi kendaraan. Ada 3 kendaraan pemudik yang kami lihat dari bawaan di atap mobilnya membuat awalnya kami yakin bahwa kami sama-sama pemudik di jalan yang benar. Belum lagi saat lihat plat mobilnya. Hmm.. pasti sama-sama pemudik.

Di tengah perjalanan suami sempat nyeletuk, “kok sepi ya?”. Tapi posisinya saat itu kami sudah lumayan jauh berjalan. Posisi 3 mobil mudik yang ada di depan kami tadi membuat pembenaran dalam pikiran, bahwa “jalan kita gak salah kok”, meski dalam hati pun ada ragu dan bimbang. 

“Mereka pasti juga mau mudik.” Dengan melihat kondisi mobil mereka yang masing-masing membawa barang di atap mobilnya.

Kami terus berjalan melewati jalan yang makin terasa aneh. Sepertinya mereka yang di depan kami pun terlihat mulai ragu. Mereka berjalan mulai pelan, karena melihat tidak ada sama sekali mobil yang lewat selain kami berempat. Sepi… sungguh sepi untuk ukuran jalan lintas sumatera.

Suami sempat bilang, ini memang bukan jalur lintas sumatera lagi sih. Sepertinya Map ngasi tahu jalan yang lebih cepat. Itu yang membuat dia tetap lanjut dan mengikuti arah dari Map. Tapi satu hal yang kita lupa. Ini udah tengah malam buta.

Pic: Freepik.com

Dalam kegalauan dan keresahan hati. 2 mobil di depan kami pun berhenti. Satu mobil tetap lanjut (yang awalnya tadi saya dan suami sempat berpikir mereka satu rombongan, tapi ternyata mereka cuma dua rombongan). Satu mobil tetap lanjut dan hilang di persimpangan berikutnya (kami tinggal sendirian berjalan). 2 mobil yang berhenti rombongan konvoy tadi kami yakin mereka telah sadar dan merasa salah jalan. Tapi karena perjalanan yang kita tempuh dari titik awal sudah sangat jauh. Penunjuk waktu didashboard mobil pun sudah menunjukkan pukul 3 lewat dini hari. Hampir pukul stengah 4. Kita jalan sudah cukup jauhhhh. Tadi sekitar pukul 12an lewat saat start di kotabumi. Mau putar arah bisa memakan waktu setengahnya lagi. Bisa-bisa balik ke titik kota bumi tadi sudah lewat subuh. Pikiranku mulai campur aduk.

Lalu suami dengan nada pasrah dan sisa-sisa optimis bilang,

“Kita lanjutin aja ya, udah nanggung dan gak mungkin Map ngasi jalan yang salah”

“Kita coba ikutin dulu aja.”

“Bismillah”

Meski deg-degan, tapi aku setuju dengan keputusan suami. Sambil terus berdo’a dan memohon petunjukNya. Kami terus menyusuri jalan dan kali ini sendirian, karena 2 mobil tadi sepertinya berbalik arah. Berjalan di pongahnya malam dengan perasaan was-was, khawatir dan takut campur aduk. Jalan yang menanjak, menurun. Di pinggir-pinggir hutan rimba belantara. Sedikit berbatu dan lalu ada rumah-rumah penduduk sangat sedikit. Lalu kembali hutan. Gelap. Dingin. Sangat menusuk tulang. Aku melihat kebelakang, membenarkan selimut anak-anak dan memastikan mereka menggunakan kaos kaki dan jaket. Mereka masih tertidur pulas, setidaknya aku cukup lega melihat wajah mereka saat tertidur. Lalu kembali fokus ke depan menemani sang suami.

Kami seperti menuju ke arah pegunungan yang sangat dingin merasuki ulu-ulu nadi. Mulai memasuki kawasan hutan yang kelam kembali. Sendirian. Begitu terus hingga menjelang masuk waktu subuh. Antara takut dan pasrahkan semua padaNya. Sambil terus berdo’a dan membaca hafalan surat apapun yang aku ingat. 

Terus berjalan tanpa melihat ke belakang. Tanpa memikirkan apakah masih ada yang lanjut berjalan seperti kami sekarang. Tak ada satupun mobil yang melewati kami. Baik dari jalur searah ataupun berlawanan. Tak terasa terdengar adzan subuh berkumandang. Hati kami sedikit lega. Seperti disirami air sejuk pada jiwa-jiwa haus kami yang sedari tadi sulit menelan ludah. Diiringi suara detak jantung, mesin mobil dan suara alam yang saling bersahut-sahutan. 

“Sudah masuk waktu subuh”, suara suami memecah kesunyian. Seperti mendapat secercah harapan. Bahwa sebentar lagi akan terang. Jadi kita gak terlalu khawatir untuk berhenti dan bertanya pada masyarakat sekitar. Tinggal memikirkan gimana buat mendapatkan tempat sholat yang aman dan nyaman. “Mungkin sebentar lagi mulai sedikit terang”. Pikirku.

Namun, ketika berjalan dan terus berjalan. Tak sedikit pun ada pertanda bahwa matahari akan datang. Entah jam berapa matahari baru bertandang di kawasan ini. Dari titik kami berpisah dengan rombongan yang merasa kesasar tadi sudah lebih dari 2 jam. Ada perasaan ingin meminta suami balik ke belakang lagi, tapi ada dorongan untuk memberikan kepercayaan. Biar suami tidak bertambah kekhawatirannya. Aku berusaha untuk tetap tenang.

Di waktu subuh itulah, pikiran kami yang sedari tadi tegang dalam melewati hutan belantara dan sedikitnya pemukiman. Mulai terlihat satu atau dua mobil dari arah yang berlawanan. 

Tapi pas lihat platnya dan cara laju mobilnya. Sempat kepikiran, “Apakah mobil tersebut balik arah lagi ya? Apa beneran nyasar? Ada jalan gak ya di atas sana?”

“Atau jalan buntukah?”

“Kalo di atas udah gak ada jalan, apa hanya perbukitan saja?”

Pikiranku mulai mengira-ngira. 

Meski sudah mulai “agak” lega. Disaat kami melihat beberapa orang berjalan menuju mushola dan mesjid untuk sholat. Tapi tidak demikian dengan suami. Suami yang memang lebih was-was dan gak gampangan percaya sama orang-orang terlihat lebih waspada dibanding aku.

Hingga akhirnya sampai kita di titik persimpangan 3. Di persimpangan itu ada sebuah mesjid pas di tengahnya, tepat di depan kami yang hendak memutuskan akan mengambil kiri atau kanan. Ada beberapa jama’ah terlihat hendak melakukan sholat subuh di sana. Dalam pikiranku, sepertinya bisa sholat subuh disini, sekalian mungkin bisa nanya-nanya arah jalan. Tapi di pangkalan mesjidnya banyak remaja-dewasa laki-laki sekaligus dengan motornya seperti bersiap siaga mencari mangsa. Mereka tampak tidak hendak melakukan sholat. Tapi hanya mangkal dan main di pertigaan itu. 

Map mengarahkan ke kanan. Dan disitu kami terus mengikuti arahan dari Map. Tapi serta merta di depan lebih kurang 200meter setelah posisi mesjid. Kami mendapati jalan yang benar-benar rusak disertai pemandangan gelap dan hutan belantara kembali di depan. Jika terus berjalan, mobil lumayan gradakan di bagian bawahnya. Belum lagi melihat rimba hutan dan perbukitan ntah perkebunan yang sama sekali tidak ada cahaya di sana atau pikiran tentang hewan buas ataupun manusia malam mulai merasuk dalam pikiran. Aku mulai ragu, dan serta merta meminta suami langsung balik kanan. 

“Kita balik aja yuk, kayaknya makin gak bener petunjuk mapnya. Kita sholat dulu aja”, pintaku.

Langsung ngerasa bahwa ini benar-benar salah jalan. Map makin ngaco n kasi jalan yang gak jelas. Rasa ingin menangis tapi buat apa. Harus tetap tegar. Suami jauh lebih merasa was-was daripada aku, karena dia pemimpin perjalanan. Suami pun dengan sabar dan tenang memutarkan kembali mobil hendak balik ke arah semula.

Belum cukup disitu, disinilah puncak paling menegangkannya.

Disaat suami hendak memutarkan mobil, posisi yang memang sedikit gelap, hanya penerangan dari mobil dan cahaya samar dari arah mesjid. Suami pun berusaha memutarkan  mobil di jalan yang agak rusak, kecil dan gak tau apakah ada lubang atau ranjau semacamnya di sana. Hitungan detik dari saat itu. Ada sebuah motor dan 2 pemuda menghampiri kami dan bertanya dengan logat khas sumatera selatan.

“Bapak, mau kemana?”

 Aku dan suami sempat terperanjat kaget. 

Awalnya suami tidak mau membuka jendela dan berusaha terus membelokkan mobil. Lalu atas pintaku suami pun membuka sedikit jendela dan berusaha menjawab dengan tenang. Meski aku rasanya udah gemetaran. 

Suami menjawab hendak ke muara enim dengan percaya diri. Dan berusaha tetap memutar mobil.

Lalu salah seorang dari mereka menyebutkan bahwa kami salah jalan. Jalannya harusnya ke kiri kalo mau ke enim. Lalu mereka menawarkan untuk memberikan “pengawalan” kepada kami. Disitu aku dan suami mulai merasa aneh. Pengawalan??? Pengawalan buat apa? Kenapa? Kalo salah jalan ya udah kami muter arah. 

Suami menolak dengan sopan dan disitu ada diskusi sedikit sengit antara aku dan suami. 

Suami menolak dan aku setuju dengan keputusan suami, tapi akupun berpikir mungkin ada baiknya juga kalo dikawal. Karena melihat mereka menawarkan masih dengan nada sopan dan tersenyum. Tapi aku mulai goyah dan takut juga, lalu meminta suami tanya berapa kalo dikawal?

Mereka menjawab terserah kita, sesuaikan saja. Disitu kami jadi yakin, berarti mereka memang meminta uang. Aku segera meminta suami untuk kasi aja uang seadanya dan kita balik arah trus kabur ke arah awal. Aku teringat pesan seorang teman yang tinggal di lampung soal memberi uang kalo ada preman di jalan yang minta. Kasi aja berapa ada.

Suami memberikan uang 3 lembar sepuluh ribuan dan menyebutkan kami cuma ada segini. 

Hingga posisi mobil udah posisi balik arah. Suami langsung jalan kembali dengan tenang ke arah kiri yang disampaikan tadi. Saya melihat ke belakang. Khawatir pemuda tadi masih mengikuti kami. Dalam ketegangan mengambil keputusan yang cepat dan tepat saat itu saya yakin suami butuh fokus. Saya memilih diam dulu agar suami bisa berpikir tenang.

Suami tidak ingin kami berhenti di mesjid tersebut karena khawatir malah akan membuat mereka bisa membaca berapa penumpang yang ada di mobil kami. Lalu lanjutlah ke jalan yang satunya lagi, dengan pikiran kalau jalannya masih meragukan kami akan berbalik arah lagi ke jalan semula tempat kami nyasar tadi. Meskipun sudah 5 jam perjalanan pun, mau gak mau ya harus balik lagi ke tempat semula. Saat menelusuri jalan kekiri, kami mendapati kondisi yang sama persis seperti jalan sebelah kanan tadi. Rusak parah dan menanti hutan rimba di depan. Akhirnya kami memutuskan untuk benar-benar balik ke arah semula. Mulai ada kembali sekelompok pemuda yang menggunakan motor ke arah kami. Kami terus berjalan dan sedikit gak menghiraukan mereka. Udah ambil ancang-ancang akan kabur ke arah semula dan tancap gas. 

Tapi disaat menelusuri jalan balik arah kiri tadi, kami mendapati sepasang suami istri yang tengah membongkar barang belanjaan dari mobil pick-up nya ke dalam rumah. Istrinya berjilbab dan terlihat mereka pasangan pekerja keras yang membanting tulang dari subuh atau bahkan mungkin dari dini hari. Di kepala sang suami terlihat lampu senter mungkin buat penerangan saat mengangkuti satu persatu barang jualan mereka berupa makanan ringan. Di situ aku sempat berpikir, “andai saja suami mau bertanya kepada sepasang suami istri yang usianya terlihat lebih tua dari kami ini sepertinya akan dapat petunjuk”.

Gak disangka, apa yang aku pikirkan sama dengan suami ternyata. Tepat di samping mobil bapak tersebut suami menghentikan mobil dan membuka jendela bagianku. Menyapa sembari bertanya. Posisi mobil mereka persis di sebelahku. Setelah mendengarkan pertanyaan dan melihat wajah kekhawatiran kami, terutama melihat kami juga pasangan suami istri. Si bapak tersebut langsung memberikan arahan dengan cepat dan sigap,

“Jadi bapak mau ke jalur lintas sumatera ?”, tanyanya kembali untuk memastikan. Kami berdua mengangguk.

“Oke, bapak dengar penjelasan saya, dengar ya, pokonya ikuti kata saya. Ikuti”

Hingga 3x sang bapak menyebutkan ikuti kata saya dengan nada sedikit terengah dan juga khawatir.

“Bapak muter balik lagi ke arah ini tadi, terusss saja jalan hingga 22kilometer terussss ke depan. Bapak akan sampai ke jalur lintas sumatera. Pokoknya ikutin jalan ini terus ya. Gak usah kemana-mana”, jelas bapak itu jelas dan tegas.

“Jalannya bagus kan pak?”, tanyaku sedikit ragu. Ragu dengan kondisi jalannya. Bukan dengan penjelasannya. Kali ini aku lebih percaya-meski tetap ada kekhawatiran-tapi lebih bisa kupercaya dan yakin sama yang bapak itu sampaikan.

“Jalannya baguss bu, baguss kok jalan ini sampe ke depan. Pokonya ikuti aja jalan ini ya”. Jelas bapak yang usianya seperti sekitar 10tahun lebih tua dari usia kami.

Lalu kami mengucapkan terimakasih dan  lanjut berjalan menelusuri jalan yang dijelaskan si bapak tadi. Memacu laju kecepatan mobil secepat mungkin. Lebih kencang dari penjelasan bapak tadi yang seperti buru-buru meminta kami untuk segera pergi dari hadapannya. Kenapa?

Karena kondisinya saat kami bertanya. Dari posisi jendela suami, pemuda yang bermotor yang mengikuti kami ikut ada di jendela itu, entah ada berapa pemuda, yang jelas sudah tidak kami hiraukan lagi. Mereka sudah siap dengan motornya dan kembali bertanya. “Kami kawal ya, kami kawal”

Meski ada beberapa lubang besar di hadapan kami saat mengawali jalan. Lalu beberapa lubang kecil suami langsung menjalankan kendaraan secepat mungkin. Meski tetap berhati-hati sambil memantau terus ke arah belakang. Kondisi jalan masih cukup gelap. Padahal sudah hampir pukul setengah 6. Masih terlihat seperti malam. Aku dan suami sama-sama memperkirakan 22 kilometer itu lebih kurang 30-50menit perjalanan. Kalo jalannya aman, 30menit kami bisa sampai di tempat yang dimaksud. Suami yang sedari tadi sudah membuka aplikasi waze kembali meminta aku mengecek ulang. Dari awal saat map bermasalah, kami mulai membuka waze. Disitu kami mulai sadar bahwa waze lebih nunjukin jalan ke arah jalan-jalan besar. Gak akan masuk sampai ke pegunungan sempit kecil seperti ini. Hanya map yang nunjukkin jalan pintas memutar dan gak jelas. Tapi disaat kami membuka waze di daerah itu, waze malah kehilangan titik kami berada. Waze gak bisa ngedetect lokasi kami. Loading terus-terusan dan tidak tahu dimana keberadaan lokasi kami.

Suami meminta aku memantau waze terus sembari terus berjalan. Barangkali nyala dan bisa memantau dan memastikan benar atau tidaknya jalan yang kami tempuh. Sudah 30 menitan kami berjalan masih belum terlihat sedikitpun terang, baru mulai perlahan-lahan di menit-menit berikutnya menjelang pukul 6 lewat baru terlihat samar cahaya meski masih cukup gelap untuk bisa melihat tanpa lampu penerangan dari mobil. Di map menunjukkan 5 kilometer lagi di depan. Selain berkabut, suasana seperti pukul 5 di posisi bekasi. 

Jalan yang kami lewati yang tadinya masih hutan belantara tanpa ada satupun pemukiman mulai terlihat satu persatu rumah. Dengan kondisi anak-anak ramai berjalan bergerombolan. Seperti pulang dari suatu tempat atau hendak ke suatu tempat. Mereka berteriak-teriak sambil menyebutkan,”lintas…lintass.”

Suami tadi sempat bilang ada satu mobil di belakang kami yang sepertinya di kawal. Jaraknya cukup jauh. Belum lagi suami tadi lansung tancap gas. Tapi aku gak peduli dan gak sanggup lagi untuk melihat ke belakang. Kata suami, “kita sudah semakin jauh dari rombongan pengawalan di belakang tadi”. “Udah gak kelihatan lagi sekarang”, katanya. Aku sempat berpikir ntah memang mobil pengawalan, ntah rombongan mereka beramai-ramai. Kalaupun dikawal, aku curiga ditengah jalan bisa terjadi apa-apa. Segera kulempar pikiran-pikiran aneh yang hinggap dikepala. Kembali fokus ke pandangan di depan mata.

Petunjuk di waze mulai bekerja dan mulai ada titik terang. Di depan kami memang persis 22kilometer seperti penjelasan si bapak tadi tertera tulisan jalur lintas tengah sumatera. “Alhamdulillah legaaa”. Beberapa kilometer lagi di depan. Dan mulai terlihat secercah harapan dan secercah cahaya matahari dari arah kejauhan. Sama dengan secercah harapan dalam hati kami saat itu. Siap-siap setelah terlihat pertigaan menuju jalur lintas mencari mushola atau mesjid untuk melaksanakan sholat subuh. Bersimpuh dan menundukkan diri di hadapanNya. Makin terasa bahwa diri ini tidaklah ada apa-apanya di hadapan sang Maha Penguasa. Yang menguasai subuh dan menguasai malam. Sang Pemilik alam jagad. Di tengah langit malam milikNya kami senantiasa memohon penjagaan dan perlindunganNya… 

Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” (An-Nas 114:1-5)

Laa haula walaa quwwata illa billah…

Catatan kaki:

Berjalan di negeri sendiri bak berjalan di negeri antah batantah. Dengan ketakutan membuncah. Mendegupkan jantung-jantung sesosok manusia-manusia dari ibukota dan kota lainnya yang hendak bertemu sanak saudara di kampung halaman, para supir bus dan truck yang hendak mengais rezeki mencari sesuap nasi dari pekerjaan. Kekhawatiran bagi banyak pengendara memang sejak dari dahulu kala. Melewati Kawasan jalur lalulintas sumatera selatan dan beberapa bagian di kota lampung memang terkenal menakutkan bagi pengendara sumatera. Di setiap bus-bus sekarang terpasang jeruji-jeruji besi di bagian kaca depan untuk mengamankan. Memang ini perjalanan pertama kami sekeluarga melewati jalur darat. Semoga para pemimpin dan yang diamanahi pemimpin untuk mengamankan jalur lalu lintas dapat mencari solusi agar rasa resah dan takut melewati jalan-jalan rawan tersebut dapat dihilangkan.

Bayangkan. Pertama kali aku dulu naik bus saat usia kelas 1 SMP kalo gak salah saat mengunjungi papa yang lanjut kuliah di kota semarang. Itu pertama dan terakhir naik bus ke pulau jawa. Sudah banyak cerita soal jalur lintas ini. Jika pas saat itu aku masih berusia 12tahun. Berarti 21 tahun sudah lamanya dan kondisinya masih sama, tidak ada perubahan. Disaat dunia sudah serba digital dan era informasi meluas lebar. Tapi kondisi jalanan disana masih seperti puluhan tahun silam. Masih terjadi hal yang sama. Istilah bajing loncat, begal dan segala macamnya. Membuat bathin tak sanggup membayangkan. Kita dimangsa saudara sendiri. Berjalan di tanah tumpah darah sendiri lebih menakutkan dibanding berjalan di tanah orang lain. Bayangkan, satu saudara, satu nenek moyang satu perjuangan memerdekakan indonesia. Tapi menakutkan. Kenapa praktik mereka terus berlanjut. Apakah yang dulunya melakukan hal tersebut masih orang yang sama? Atau telah dikaderisasikan agar berlanjut? Kemana para penguasa negeri ini? Rezim terus berganti. Tapi yang disini tidak ada yang berbeda. Mereka sama saja.

Di atas peta perkiraan nyasarnya kami. Diputerin ke daerah tulang bawang baru keluar di waykanan. Jadi kami tidak melewati bukit kemuning (yang juga rawan). Ternyata map memang mengarahkan jalan lintas ke arah palembang, baru diputerin lagi ke arah tengah. Sedangkan jalannya antah barantah, jalan kecilpun dihajar sama map.

10 Comments

    1. Siapp ayang. Insyaallah nanti dibikinin itinerary nya buat ayang yg mudik berlima nanti. Wkwk. Kalau perjalanan mudiknya kan udah dibikin di tulisan sebelumnya. Disitu ada tips2nya.
      Fii amanillah ayang. InsyaAllah kunci dlm prjalanan selain berhati2 n waspada . Berserah diri pada yg di Atas.

  1. Kami pernah lo d ajak muta2 k Padang ratu uni, tpi alhamdulilah lai pas siang , tp tetep ajo ngeri krn sepi , AlhAmdulillah sadonyo selamat y un ,

  2. Karena saya dr daerah yg sama bahkan lebih jauh lagi (saya di lahat) yg hendak berniatan mudik tahun depan jd punya pembelajaran dengan cerita ini, tahun depan mudikmya harus kompoi sama yg udh biasa mudik kayaknya ya, karena kami juga lum pernah mudik via darat dan baru berencana akan mudik thun depan jalur darat. Uuhhhgg menegangkan sekalii yaa lintas sumatera ini yaa

    1. Iya kalo ada temen konvoy aja mba. Sbnrnya suami udh nyoba thn kmrn sndri tnpa kami brtiga, ngarepin konvoy malah pd dluan wkwkwk. Kuncinya sih kl bs jgn jalan saat malam hari. Atau pastikan berjalan ditempat2 rawan masuknya siang. Ttp waspada dan berhati2. Alhdmlh pas saat balik k jakarta kami jalan siang 6am to 6pm aman lancar insyaallah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *